Setelah salat isya, aku kembali membaca buku untuk persiapan UAS. Besok adalah ujian terakhir, aku sangat menaruh harapan pada Allah untuk mendapatkan hasil terbaik sesuai dengan apa yang telah aku perjuangkan selama ini.
Sangat bersyukur, Allah selalu meridhoi setiap langkah dan perjalanan hidupku, hingga saat ini aku berada di negeri orang dengan berbekal beasiswa. Bukan kah, Allah sangat baik pada umat-Nya? Jangan pernah ragukan kebaikan Allah pada setiap hamba. Sungguh, hanya Allah-lah yang Maha Pengasih.
"Fatimah, aku pulang...."
Aku menoleh, saat melihat Naya yang baru memasuki pintu apartemen dan menutup pintu.
"Aku bertemu dengan Pak Ali, dan dia menitipkan ini padaku. Katanya ini untukmu."
Naya memberiku sebuah amplop berwarna biru muda.
"Untuk apa Pak Ali memberi ini?"
Naya mengedikkan bahu. "Baca saja, aku hanya menyampaikan amanah ini. Dan sepertinya dia menyukaimu"
Ku helakan napas sejenak. Naya selalu mengatakan itu, membuatku menjadi tidak nyaman.
Aku membuka amplop itu, ada sebuah kertas di sana. Kertas itu, kosong. Ya, kosong. Ku balik-balik, tetap kosong. Tak ada coretan apapun di sana.
"Kosong lagi, Nay."
Naya yang baru menyalakan televisinya pun menoleh dengan alis kanan terangkat.
"Maksudnya?"
"Ini kosong lagi," ku tunjukkan selembar kertas dari Pak Ali sebelumnya.
"Bukankah selalu begitu?"
"Benar," ku letakkan surat beserta amplopnya di meja dan melanjutkan membaca kembali. Mengabaikan surat tersebut.
Penasaran? Sungguh aku tidak penasaran maksud dari Pak Ali mengirimkan selembar kertas putih tanpa noda itu untukku. Ini memang bukan pertama kalinya aku mendapatkan selembar kertas kosong itu, tetapi bedanya kali ini memakai amplop. Biasanya tidak. Biasanya kertas itu hanya memakai sebuah pita kecil ataupun pena berwarna yang berukuran sangat mungil.
****
Selesai salat subuh, aku melihat raut wajah Naya. Rambut cokelat yang terurai, wajah cantik yang tampak lelah. Ingin ku bangunkan Naya, tetapi sepertinya tidak akan ku lakukan. Naya pasti sangat lelah setelah pulang kuliah langsung bekerja hingga larut malam.
Sebelumnya orangtuaku sudah menawarkan Naya untuk tidak bekerja terlalu keras. Tetapi Naya menolak. Katanya, dia sudah terbiasa dengan kehidupan seperti ini. Naya sudah bekerja paruh waktu sejak SMA, karena dia memang tak memiliki sanak keluarga.
Naya adalah sahabatku, namun sayangnya dia bukanlah sahabat menuju surgaku. Perbedaan keyakinan membuatku dan Naya tidak bisa berjalan satu arah menuju surga Allah, tetapi Naya tetaplah sahabatku. Dia yang selalu mengingatkan bila aku melewatkan waktu salat. Kami saling menghargai dan menerima perbedaan untuk mencoba saling mengerti selama tinggal di negeri Sakura ini. Aku dan Naya tidak pernah saling mengkritik ataupun menegosiasikan tentang keyakinan kami.
Jika Allah mengizinkan, sungguh aku ingin Naya menjadi sahabat dunia dan akhiratku. Namun, itu bukan lagi kehendaku. Aku tak ingin memaksa Naya, sebab Naya pun begitu. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah Al-Kafirun ayat 6, yang berbunyi:
لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ
Untukmu agamamu dan untukku agamaku.
****
Berhubung lusa aku sudah kembali ke Indonesia, maka hari ini aku akan menemani Naya bekerja.
"Kamu cantik memakai hijab, Fatimah."
Aku tersenyum pada Naya yang tengah mengolesi roti di tangannya.
"Aku....ingin menjadi muslimah sepertimu dan juga ingin mengenakan hijab sepertimu, Fatimah."
Kunyahan di mulutku terhenti mendengar pernyataan Naya. Ku telan habis sisa makanan di mulutku dan meletakkan roti yang sebelumnya ku pegang.
"Kamu ingin menjadi muslim? Apa ini sungguh-sungguh?"
"Naya, memakai juga hijab bukan perihal membuat cantik atau tidaknya seorang perempuan. Hijab ini adalah identitas seorang wanita muslimah yang wajib dikenakan.
"Saat seseorang menginginkan memakai hijab ini karena baginya cantik dan menarik. Itu bisa saja membuatnya merasa bosan dan berakhir akan membuka kembali hijabnya."
Naya menundukkan kepalanya, air matanya mengalir. "Aku sungguh ingin menjadi seorang muslimah dan menjadi sahabatmu menuju surga. Setiap tengah malam dan subuh, aku selalu tenang mendengar lantunan yang terdengar dari mulutmu membuatku merasa tenang dan damai. Aku juga sesekali mendengar doa-doamu. Sungguh ini bukam karena paksaan, tetapi ini niatku demi Tuhan-mu Fatimah. Aku ingin mencintai agamamu setulus hatiku dan menjadikanmu sahabat dunia akhiratku Fatimah."
Tak sanggup ku tahan air mata ini. Aku langsung memeluk Naya dan berdoa pada Allah yang sungguh menjabah doaku selama ini.
Aku menuntun Naya untuk mengucapkan kalimat Syahadat. Naya mengucapkannya dengan sangat fasih dan indah.
Sepanjang melafazkan kalimat syahadat yang Naya pun mengikutiku, air mataku terus mengalir.
"Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah."
"Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah."
Pelukan ketiga pun kembali terjadi. Kali ini Naya yang memelukku terlebih dahulu, pelukannya sangat erat. Tangisnya pun pecah sepertiku. Tak bisa ku ungkapkan bagaimana besarnya rasa syukur saat ini pada Allah. Allah benar-benar memiliki berjuta rahasia atas alur kehidupan setiap hamba-Nya.
"Harapanku hanya satu, Naya. Tetaplah ber-istiqomah di jalan Allah." Aku berbisik padanya di balik tangisku. "Sesungguhnya kamu tak pernah sendirian. Allah selalu bersamamu."
Naya mengangguk di bahuku.
"Dan pesanku untukmu, Nay. Tetaplah bersyukur, atas apa yang telah kamu dapatkan."
"Aku akan ingat itu, Fatimah."
"Sekarang, kamu harus tahu, jika Allah mencintai seluruh hamba-Nya. Allah selalu adil pada hamba-Nya dan kelak jika Allah memberikan kamu ujian maka Allah tidak akan memberikan ujian yang melampaui batas kemampuanmu."
Sungguh aku tak pernah menyangka Naya akan menjadi seorang muslimah seperti saat ini.
Kini aku dan Naya akan berusaha untuk saling menuntun agar menjadi sahabat menuju surga.
****