Untuk Seseorang yang pernah kucinta, tapi tidak mencintaiku, I Love You🌺
************
Intan POV
Kamu tahu?
Tiga hari tanpamu adalah kesakitanku. Rasanya dadaku terus menghentak-hentak dan itu sungguh menyakitkan.
Empat hari tanpamu, aku masih saja memikirkan tentangmu.
Lima hari tanpamu, aku kembali membuka semua kenangan tentang kita.
Enam hari tanpamu, aku merindukanmu.
Tujuh hari tanpamu, aku semakin rindu.
Hari-hari berikutnya, aku masih sangat merindukanmu.
Rindu yang bahkan tak pantas untuk kumiliki terhadapmu. Aku berusaha agar aku selalu baik-baik saja tanpamu. Tapi selalu ada hal yang hilang, yang tak bisa lagi kudapatkan. Aku tidak bisa memaksamu, apalagi terus mengganggu hidupmu. Aku pastilah hanya kenangan tidak berharga dalam hidupmu kan?
Aku bisa melihat kamu tersenyum bahagia bersama perempuan lain, dan itu sangat menyakitkan untukku.
Kau baik-baik saja tanpa kehadiranku.
Kau meninggalkanku dan perasaanku begitu saja.
Kau membuangku dan tidak memperdulikanku lagi.
Kau pergi jauh dan tak pernah mengijinkanku untuk bertemu.
Harusnya aku sangat membencimu, karena kau mempermainkan perasaanku.
Tapi nyatanya tetap saja, aku masih sangat mencintai meski aku benci.
Aku masih saja sangat merindu, dan tak bisa melupakanmu.
Intan POV end
🌺🌺🌺
Intan menyesap minuman di hadapannya dengan pelan. Suara denting sendok terdengar dari segala arah, sungguh berisik.
Orang-orang sibuk menikmati makanan mereka masing-masing.
Intan memutar bola matanya merasa terganggu.
"Kau kenapa?" Ucap seorang pria di sebelah Intan.
Intan memalingkan wajahnya dan menatap lelaki itu dengan senyuman lebar.
"Aku bosan...." Ucap Intan berbisik.
Laki-laki itu balik tersenyum saat mendengar jawaban Intan.
"Cepat habiskan makananmu!"
"He? memangnya kenapa?"
"Kita pergi keluar setelah makan." Ucap laki-laki itu singkat.
Intan berusaha keras menyembunyikan rasa bahagianya yang tiba-tiba muncul. Lihatlah, bahkan sekarang wajahnya sudah berubah menjadi merah dan bibir itu! Bibir itu tak berhenti tersenyum, Hais bukannya apa tapi susah sekali bersikap biasa saja. Laki-laki itu terlalu mempesona bagi Intan, Intan sungguh tak tertolong lagi karena jatuh pada pesonanya.
10 menit berlalu .....
"Tante makasi buat makan malamnya, Intan jadi gak enak!"
"Haduh, gak papa sayang. Sering-seringlah main ke rumah, tante kangen loh. Padahal dulu pas kecil kamu tiap hari kesini!"
"Hehehe, iya tan. Kapan-kapan Intan mampir lagi kok."
"Iya sayang. Makasi yah udah mampir kesini. Raka antar intan pulang ya, jangan belok kemana-mana!"
"Iya-iya mah." Ucap Raka mengesalkan.
*******
"Jadi?"
"Jadi apa?" Tanya Raka menimpali Intan.
"Em, kita mau kemana?"
"Kamu maunya kemana? Ada permintaan?"
"Aku mau kemanapun asal ada kamu." Ingin rasanya Intan mengutarakan isi hatinya itu. "Bodoh-bodoh, pasti kau akan ditertawakan Tan!" batin intan dalam hati.
"Hei.."
"Ah ya, em itu aku mau ke taman yang dulu sering kita buat main aja!"
"Jawaban macam apa itu? Kau bodoh sekali Intan! Harusnya kau jawab ingin ke bioskop atau pergi ke tempat romantis. Taman? Astaga kau bukan anak TK!" Intan memukul kepalanya pelan atas segala pemikiran dan jawaban bodohnya.
"Yah, sudah lama juga aku gak ke sana. Udah berapa tahun ya Tan. Terakhir kita main bareng di taman pas SMP. Habis itu karena pindah rumah aku jadi jarang main kesana lagi."
"Huum."
"Jadi keinget masa lalu Tan, ahhah!"
"APA? Udah deh jangan aneh-aneh, aku ngambek nih!" Intan mendekatkan kepalanya dan berteriak keras di samping telinga Raka yang sedang menyetir motor.
"Hais, kau apaan si. Gitu doang ngambek!"
"Habis bikin kesel mulu. Jangan bahas masalalu suram itu ya!"
"Masa lalu suram? maksudmu yang pas kamu ditembak sama bocil SD itu ya? ahahahhahah!"
"Diem gak!" Intan mencubit punggung Raka dengan gemas.
"Eits, gak pake cubit Weh, sakit tauk, aku lagi nyetir!"
"Bodo."
****
Sekitar 1 jam kemudian mereka akhirnya sampai di taman. Intan melihat jam di tangannya, pukul 20:00 waktu Indonesia Barat.
Intan melihat sekeliling dan memperhatikan pria yang datang bersamanya itu. Pria itu sibuk berkeliling melihat-lihat keadaan taman.
"Hemm, ternyata ayunan ini masih ada. Aku jadi rindu jadi anak kecil lagi."
"Yang benar saja!"
"Sini Tan, cepet ayunin!"
"Ih, ogah!"
"Hais, cepetan. Ntar gantian woi, cepet mumpung sepi!"
Dengan terpaksa tapi nampak bahagia Intan pun menghampiri Raka dan perlahan mendorong ayunan itu dengan cepat.
Rasanya seperti kembali ke masa lalu, saat mereka menghabiskan hampir 12 jam waktu untuk bersama. Intan sangat merindukan masalalu mereka, namun sayang pria itu kini tak bisa diharapkan. Raka terlalu jauh untuk diraihnya. Intan sangat sadar diri, siapa dirinya itu. Dia hanya sekedar teman masa kecil yang mungkin tidak terlalu penting untuk Raka.
Intan menghembuskan napasnya, "Sadarlah!" Ucapnya dalam hati.
"Emh, haus banget Gilak! Pasti gara-gara ketawa mulu nih. Bentar aku mau cari minum. Kamu tunggu sini aja Tan!"
"Eh, aku ikut aja!"
"Enggak usah, dibilangin jugak! Ntar aku kesini lagi!"
"Ouh, emm ya udah deh!"
"Bentar yak, tunggu di sini!"
Raka pun pergi meninggalkan Intan untuk membeli minuman.
Satu menit .....
Dua menit......
Tiga menit. ....
Empat menit ....
Lima menit .....
Satu jam.....
Dua jam. .....
Tiga jam .......
Empat jam .....
Dan Raka nyatanya tak pernah kembali setelah itu. Intan meremas ponselnya saat melihat notifikasi pesan. Tertulis jelas nama Raka di layar tersebut....
"Maaf banget Tan, aku tiba-tiba ada acara di luar. Kamu pulang aja ya jangan tungguin aku."
Itu adalah pesan yang Raka kirimkan padanya.
"Iya acara di luar bersama kekasihmu!" Jawab intan sengit dalam hati.
Intan meremas jemarinya dengan keras. Jarinya dengan gemetar membalas pesan itu dengan kata "Iya."
Jawaban yang sangat singkat, tapi kata "iya" itu sangat menyakitkan untuk Intan. Rasanya sangat menyakitkan. Intan tahu ini adalah akhir dari percakapan mereka, karena setelah ini Intan tidak tahu harus bersikap seperti apa lagi.
Raka meninggalkannya, Raka berbohong padanya. Intan sudah menunggu berjam-jam dalam rasa bosannya, bagaimana bisa Raka dengan mudahnya melakukan hal kejam itu. Bukankah Raka tahu seperti apa perasaannya?
Intan suka padanya, sangat sangat suka. Bahkan sudah berulang kali Intan mengatakannya, tapi Raka selalu menolaknya dan menghindarinya.
Lantas kenapa harus berbohong? Penolakan saja bisa terucapkan kenapa harus berbohong dan membuat orang lain menunggu? Kenapa harus membuat orang lain putus asa dan bersedih?
Intan menjatuhkan ponselnya dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Air mata terus mengalir dari kedua matanya, rasa sakit di dadanya mulai tak terkendali. Rasanya seperti tersayat-sayat, dan itu lebih menyakitkan dari sekedar patah hati.
"I always Love You even when i used to hate you, Raka."
🌸🌸🌸TAMAT🌸🌸🌸
(Untuk Seseorang yang pernah kucinta☺️ : "👀I hate u, BUT IT'S OVER. I always love you, but it's over too."
😚Jangan lupa like dan spam komen ya guys. Silakan spam sebanyak-banyaknya okeeh. Makasi buat yang udah menyempatkan beberapa menit waktunya untuk membaca. Love You😘☺️