My Boy’s Love
Tak pernah kuduga dan tak pernah kusangka, aku akan mempunyai kekasih yang sangat diidolakan oleh banyak orang. Walaupun dia sebenarnya bukan artis tapi penggemarnya banyak seperti seorang idola dan beruntungnya aku bisa menjadi kekasihnya.
Sebenarnya aku pacaran dengan dia bukan pilihanku tapi ini adalah pilihannya yang memilihku, gadis biasa yang tak punya kelebihan apapun dibandingan dirinya. Dan sebenarnya dari awal aku tidak menyukainya, apalagi sikapnya yang begitu overprotektif dan seenaknya sendiri padaku. Aku pacaran dengannyapun merupakan paksaan dan semua teman baikku tidak menyetujui hubunganku ini dan akupun sebenarnya tidak menyukainya. Tapi kenyataannya sekarang aku masih menjalani hubungan dengannya dan kini menginjak 3 tahun masa pacaran kami.
Aku sekarang dapat mengerti kenapa sikap dia seperti itu dan aku dapat menerimanya, seperti dia menerimaku apa adanya. Mungkin benar pepatah bilang, cinta tumbuh karena seringnya bersama.
Setiap hari kalau tidak mendapat telpon darinya atau dia menghampiriku ke rumah, sepertinya tidak lengkap untuk JB, panggilan sayang yang harus kupanggilkan untuknya. Dia harus mendengarkan suaraku sekurangnya satu kali dalam sehari. Tetapi anehnya beberapa hari ini dia disibukkan dengan urusan pribadinya. Ia hanya mengirimiku pesan dan kami juga jarang bertemu. Sudah satu minggu seperti ini. Dan ternyata aku merindukannya sekarang. Merindukan sikap over protectif dan sikap seenaknya dari JB.
Sebenarnya aku bisa saja menelponnya menanyakan kabarnya dan menanyakan dia ada di mana sekarang tapi, seperti janji yang telah kami berdua buat. Aku tidak boleh menghubunginya lebih dahulu, kalau aku tidak benar-benar dalam bahaya.
Pernah aku mencoba mengetes benarkah dia akan datang begitu aku menelponnya. Ternyata benar dia datang padahal dia sedang berada di Amerika waktu itu, dan dia pulang saat itu juga dengan pesawat pribadinya untuk menemuiku. Ia berpikir kalau aku benar-benar dalam bahaya, jadi dia memilih untuk segera menemuiku. Dan sekarang yang bisa kulakukan hanya menunggu kabar darinya.
“Mau ke mana lagi kita?” tanyaku pada Anita sahabat sekaligus temanku sejak kecil. Dia salah satu orang yang tidak menyetujui hubunganku dengan JB. Ia orang pertama yang memarahiku karena aku memilih menjadi pacar JB dibandingkan dengan sepupunya Junior. Ia benar-benar terobsesi menjadikanku bagian dari keluarganya.
Sebenarnya Junior baik, tampan malah. Tapi entahlah, melihat dan membandingkan Junior dan JB aku lebih memilih JB. Kenapa? Karena saat JB menembakku, jantungku berdebar dan kurasakan ketulusan disetiap kata-kata yang diungkapkan oleh makhluk popular seperti JB. Aku pikir waktu itu dia hanya bergurau tapi ia menyakinkanku dengan memberiku sebuah cincin. Apakah ini yang dinamakan melamar? Aku juga belum mengerti.
“Kita makan dulu sama anak-anak yang lain terus kita ke salon, kau akan menemaniku kan?” ucap Anita memastikan.
“Baiklah” sahutku pasrah. Kulirik arloji di tangan kiriku. Jarum jam mengarah ke jam 1 lebih 15 menit jam yang sama setiap kali JB menelponku. Kurogoh Hp di saku celanaku, berharap JB akan menghubungiku hari ini setelah beberapa hari hanya mengirimiku SMS.
Anita melirikku. “Kuharap kau tidak akan memberitahu JB kita di mana sekarang. Aku tidak ingin dia mengacaukan acara kita hari ini. Kau mengerti kan?” ucapnya sinis.
Kusunggingkan sebuah senyuman setelah kulihat tak ada telpon dari JB. Kukembalikan lagi Hp kesaku celanaku. Dan seperti tujuan dan rencana Anita, kami makan bersama teman-teman yang lain di café terkenal di mall terbesar di kota. Setelah makan, kami pergi ke salon. “Kenapa kau dari tadi melamun saja? Kau merindukan kekasihmu?” sindirnya pelan.
“Oo…enggak. Ini kan hari untuk kita, kenapa harus memikirkannya?” ucapku menghindar agar JB tidak disalahkan lagi oleh Anita.
Akhirnya acara ini berakhir jam 5 sore. Anita sudah puas berjalan-jalan, makan-makan dan memanjakan diri di salon. Dia bahagia sekali karena hari ini JB tidak mengganggunya seperti biasa. Aku pulang.
Seperti biasa melewati rumah JB yang searah dengan rumahku. Rumah besar yang hanya dihuni JB dan beberapa pembantunya. Orang tuanya tinggal di luar negeri dan dia anak satu-satunya di keluarga itu. Dan itulah salah satu alasan kenapa JB bersikap seenaknya sendiri dan over protectif. Dia tinggal sendiri tidak ada yang mengatur kehidupannya, tidak ada yang mempedulikannya dan tidak ada yang menemaninya ketika dia berada di dalam rumah itu.
Tak kusangka aku melihat JB saat berjalan ke rumahku, kami berpapasan di jalan. Aku tersenyum ke arahnya. Ada perasaan lega mengetahui dia baik-baik saja sekarang. Ia tersenyum lega melihatku. Ia menghampiriku dan menarikku memasuki halaman rumahnya. “Dari mana saja kau? Aku mencarimu ke kampus dan ke rumahmu kau tidak ada?” ucapnya terdengar sedikit kesal. “Aku sudah menghubungimu, tapi kau tidak mengangkat telponku” ucapnya lagi.
“Maaf, aku pergi bersama Anita tadi. Kau tau kan dia tidak suka ada yang mengganggu kesenangannya” ucapku menjelaskan yang sebenarnya.
“Kau lebih memilih bersama mereka dibandingkan denganku?” gerutunya kesal.
Bukannya merasa bersalah aku malah tersenyum melihat ekspresi wajahnya saat itu. “Kau sendiri dari mana saja, kau tidak menghubungiku seperti biasa, kau hanya mengirimiku sebuah pesan?”
“Aaa…maaf, aku baru saja menyelesaikan urusan di jepang. Aku terlalu sibuk di sana sampai tidak bisa menghubungimu. Baru saja aku pulang dari Jepang tadi dan ingin segera menemuimu tapi kau yang kucari tidak ada, malah pergi bersenang-senang dengan temanmu”
“Kau merindukanku?” tanyaku ragu-ragu. Ini pertama kalinya kutunjukan sisi romantisku padanya. Biasanya aku akan cuek dan diam saja, tapi entahlah aku tidak bisa menghindari perasaan yang kurasakan sekarang.
JB mengangguk, seperti anak kecil. Entah kenapa semakin membuatku bertambah menyukainya. “Apa kau seharian ini pergi bersama teman-temanmu?” tanyanya hati-hati.
Aku menangkap ekspresi jelas yang ia tunjukan dimatanya kalau saat itu ia menginginkanku untuk tinggal disisinya menemaninya, namun dia tidak ingin membuatku terbebani lagi dengan keegoisannya. Aku tersenyum ke arahnya kemudian memeluknya. Pertama kalinya selama tiga tahun ini, aku memeluk JB lebih dahulu. JB tersenyum tak percaya mendapatkan hal yang sangat dinanti-nantinya selama tiga tahun ini. Perasaan disayang dan diperhatikan oleh seseorang. “Ayo kita jalan-jalan di sekitar sini” ajakku. Belum selesai kejutan yang dirasakan JB barusan aku memberinya kejutan lagi. “Ayo” ucapku sambil menggandeng tangannya keluar halaman rumahnya.
Kami berdua berjalan-jalan di sekitar rumah JB. Ia membelikanku minuman di salah satu pedagang. Minuman yang sama setiap kali kami pergi kencan. Aku tersenyum kemudian menyesap minuman itu sedikit. “Apa kau tidak lelah sudah seharian menemani temanmu jalan-jalan, sekarang mengajakku jalan-jalan?”
Aku tersenyum ke arahnya, “yang terpenting melihatmu tersenyum bahagia seperti ini, lelah seperti apapun tak terasa bagiku. Dan kau sendiri apa kau tidak lelah, kau baru saja pulang dari Jepang tapi aku mengajakmu jalan-jalan”
JB tersenyum menggenggam erat tanganku. “lebih baik seperti ini, sudah tak tertahankan bagiku untuk….” belum sempat aku mendengar perkataan JB, tubuhku malah limbung dan jatuh pingsan. Dan aku tersadar berada di kamar JB sekarang.
JB menungguiku cemas, ia mendekap telapak tanganku erat-erat takut terjadi sesuatu padaku.
Aku tersenyum ke arahnya, menandakan aku baik-baik saja, kau tidak perlu cemas. Tetapi JB malah memarahiku karena aku tidak memperhatikan kesehatanku sendiri. “Kau ini, kenapa bersikeras mengajakku jalan-jalan? Lihat kondisimu sekarang” serunya.
Kusunggingkan senyuman lagi ke arahnya dan berusaha bangun, JB membantuku. “Aku baik-baik saja, aku hanya sedikit lelah tadi”
“Tinggallah malam ini di sini, aku sudah menghubungi orang tuamu dan mereka mengijinkannya. Lagi pula ini sudah terlalu malam untukmu pulang” ucapnya.
Kulihat sorot matanya yang tidak ingin aku meninggalkannya, ada sorot kesedihan di sana. Sepertinya ada yang terjadi di Jepang, tapi apa itu aku tak tahu. “Kau kenapa?” tanyaku. JB menghindari tatapanku. “Apa terjadi sesuatu di Jepang? Kau tidak mau mengatakannya?”
“Tidak penting, tidurlah…sudah malam” ucapnya yang hendak pergi meninggalkanku, kutarik lengannya menghentikannya pergi. JB menoleh.
“Bolehkah aku memelukmu sekarang?” ucapku.
JB kembali duduk di sampingku. Kulingkarkan tanganku ke lehernya dan dia membalas pelukkanku. “Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu. Tidak bisa mendengar suaramu sehari aku bisa mati karena rindu” ucapku jujur.
JB masih bingung dan tak percaya dengan apa yang kuucapkan barusan. Kulepas pelukanku dan kutatap wajah pemuda yang selama ini membuatku tertawa setiap hari, membuatku berharga setiap hari. “I love you” celetukku yang langsung membuatnya ternganga tak percaya.
Aku tersenyum. “Ini kan kata-kata yang selama ini kau tunggu dariku? I love you” ucapku lagi.
Ucapan inilah yang selama ini ditunggu-tunggu olehnya, dari mulai pacaran hingga saat ini aku tidak pernah mengucapkan tiga kata istimewa itu. Padahal ia seringkali memohon dan memaksaku mengatakannya tapi tidak pernah keluar dari mulutku kata-kata itu. Karena aku benar-benar tidak menginginkannya, aku ingin mengucapkannya kalau aku benar-benar menyukainya. Dan inilah saatnya.
“Kau…apa yang kau katakan barusan?” tanya JB masih belum percaya apa yang didengarnya sekarang.
“I love you” ucapku.
“Apa?” JB mendengarnya tapi ia ingin sekali lagi mendengarku mengucapkannya. Ia benar-benar bahagia akhirnya mendengarkan kata-kata itu keluar dari mulutku sekarang.
“I love you” ucapku yang kemudian menarik lehernya untuk memberikannya sebuah ciuman. JB terbelalak tak percaya, hari ini ia merasakan benar-benar dicintai oleh kekasihnya. Kucium dia lembut. Ciuman yang barusaja didapatkan oleh JB sejak tiga tahun ini. Biasanya ciuman paksaan yang dia dapatkan dariku. Ia selalu saja merebut ciuman dariku, padahal aku tidak menginginkannya dan kali ini aku memberikannya setulus cintaku.
JB tersenyum, kubuka mataku dan kulepas ciumanku dan sayangnya JB tersadar dan tidak membiarkanku melepasnya.
Cinta ini bisa kurasakan, karena kau benar-benar setulus hati mencintaiku. Dan yang bisa kulakukan saat ini adalah menghargai cinta yang kupunya. Cinta dari kekasihku. My boy’s love.
_Rya Navisha_