Tahun 2011 tanggal 16, di malam sebelum hari lahirnya bangsa Indonesia. Seorang anak perempuan lahir, semua orang bahagia. Tapi tidak dengan kakak dari anak perempuan yang baru lahir itu.
Pada pagi hari tanggal 17 Agustus, kakak dari anak itu dipanggil ke RS Marthen Indey dan ia pergi pada jam 12 siang lewat pintu belakang. Lalu ibu menelepon anak gadisnya.
"Kak. Pergi ke ruang suster bilang infusnya Ibu habis, ya?" Kata ibu gadis itu dalam telepon genggamnya.
"Baik, tapi ... aku tidak tau dimana ruangannya?" Jawab gadis itu.
“Bertanya!" Balas ibu.
"Baik.” Balas lagi gadis itu (Na).
Dengan patuh, anak gadis itu mencari sebuah ruangan yang dipinta ibunya. Akan tetapi karena dia takut bertanya pada orang asing. Dia tidak bertanya dan membuka semua ruangan dan masuk saja saat ada tulisan hanya staf yang bisa masuk. Tak disangka ia salah masuk ruangan.
"Permisi ...." gadis itu membuka pintu seraya mengucapkan permisi.
"Suster ibu saya kehabisan infus, boleh ikut saya ke ruang no. 137?"
"Suster, kenapa banyak orang yang tertidur di kamar ini?"
Tidak seorang pun menjawabnya. Tiba-tiba pintu tertutup ....
"Kriiieeet ...." dan berbunyi lumayan keras “Braak”
Dan terkunci. Ruangan itu dingin dan auranya mencekam, seluruh tubuh anak itu merinding seketika. Suasana yang sunyi serta bau anyir yang samar, membuat anak ini menjadi was-was. Ia takut jika ada yang muncul dan membawanya ke dunia lain.
"Suster, kenapa pintunya terkunci?" Ia mulai ketakutan dan bertanya namun tak seorangpun didalam ruangan itu menjawabnya.
"S-suster, jangan main-main! Saya tidak akan masuk lagi ke sini. Hanya minta tolong saja ...."
Tiada seorang pun yang menjawab. Hanya deru pendingin ruangan menyahuti perkataan Na. Hingga Christine datang....
Christine adalah penghuni Rumah Sakit yang selalu menemani Na dn menjaganya dari kecil hingga kejadian itu tiba.
"Na, kenapa kamu di sini?"
"Christine. Ini tempat apa? Kenapa Suster diam saja? Kenapa semuanya tertidur?"
"Na, ini namanya kamar mayat. Kamu tidak seharusnya di sini ...."
"Apa itu kamar mayat?"
“Tempat manusia dimandikan dan di periksa saat mereka tertidur ...."
"Apa mereka tidak akan bangun, bahkan jika aku teriak?"
"Tidak tau."
“Eh? Suster tadi mana?”
“Tidak ada Suster dari tadi Na.”
“....”
Na menelan ludah dengan kasar. Dia merasa merinding, bukan karena bersama temannya. Si Christine. Namun ia juga tidak mau membayangkan yang aneh-aneh.
"Pokoknya, ayo kita keluar! Di sini menyeramkan ...."
Ucapan Na terdengar sedikit merengek, Christine hanya bisa menghela nafas dan mengajak Na menuju pintu keluar.
Ruangan yang gelap membuat Na harus berjalan perlahan. Saat ia hendak melewati sebuah tempat tidur yang kosong. Dia mendengar sebuah suara.
“Mau kemana Nona? Bolehkah saya ikut? Hihihi ....”
Suara yang dingin nan seram terdengar, membuat Na tersentak dan panik. Hingga ia menabrak sebuah tempat tidur yang berisi mayat yang ditutupi oleh kain.
“Bruk!?”
Mayat tersebut jatuh, Na yang terkaget. Spontan menoleh dan melihat mayat yang memiliki wajah yang utuh itu. Bau anyir makin menyeruak, Na terkesiap, hingga dirinya tak bisa bersuara. Walau sangat ingin berteriak.
“?!”
Na dengan cepat melangkahkan kakinya sembari menahan teriakan yang ingin ia keluarkan. Sampai-sampai air mata menghiasi ujung pelupuknya. Tanpa menoleh, ia berhenti di balik pintu.
"Ah ... ada orang akan masuk, kamu sembunyi di samping belakang pintu. Nanti kamu keluar saat mereka masuk, ok?" Kata Christine.
Na mengangguk dan bersiap untuk keluar. Terdengar suara dua orang staf yang sedang mengobrol tentang sebuah kisah yang pilu.
"Kasihan sekali wanita ini. Dia akan melahirkan, tapi ada sapi-sapi menyeberang dan sopirnya juga bodoh sekali. Ia malah tancap gas, apa dia ingin wanita malang ini mati?! Huft, sayang sekali dia tidak dapat melahirkan anaknya ...."
"Mereka sedang berbincang. Ayo pergi, Na!"
Na pun pergi, tanpa ketahuan para pekerja itu. Walau dengan kaki yang masih terasa lemas, ia harus segera menunaikan perintah ibunya.
Saat sudah agak jauh dari ruangan tadi, Na berhenti. Nafasnya tersengal-sengal. Iapun mengatur nafasnya, setelah tenang. Ia kembali mengedarkan pandangannya, masih mencari ruangan tempat para suster berada. Hingga Christine berseru.
"Aah ... Na! Tadi kamu mau mencari ruangan para suster kan? Nah itu di sebelah sana. Mau aku temani?"
Na menggelengkan kepalanya dan menatap temannya itu.
"Tidak, nanti kalau Christine ikut menemani mereka pasti kabur. Kamu kan begini ...." Na meledek Christine.
“Kejam sekali! Aku kan cantik." Jawab Christine sambil tersenyum.
"Hu'um. Kalau kamu memperlihatkan kecantikanmu, iya. Tapi kalau memperlihatkan betapa seramnya dirimu, sebaiknya kamu di rumah saja!" Na pun membalas.
"Ok.” Jawab Christine.
Christine dan Na pergi ke ruangan suster dan memberitahu bahwa infus ibunya telah habis. Setelah selesai, sang gadis lalu kembali ke ruangan tempat ibunya berada. Sambil sesekali menoleh karena merasa ada yang memperhatikannya.
Sampailah ia di kamar ibunya, dia tidak senang karena sang ibu tidak menginginkan bayi perempuan tersebut dan menyuruh Na mengurusnya secara paksa. Saat itu pula Christine marah dan memperlihatkan wujudnya hingga ia di bakar oleh Ayah Na.
"Na, kamu adalah Kakak dari bayi itu. Kamu juga yang harus merawatnya, paham?"
"Baik, Bu."
"Kalau kamu tidak mau merawatnya, bunuh saja!”
"Saya tidak sejahat itu, walau saya tidak senang dengan kehadirannya!"
"Oh, kalau begitu aku yang akan membunuhnya sekarang. Itu lebih baik bukan?"
"Saya tidak akan membiarkan itu, Bu. Tolong jangan berbuat dosa lagi!"
Ibu dari kedua anak perempuan itu mengambil pisau di meja, lalu menghunusnya ke arah anak perempuannya. Seketika Christine, sang penghuni RS yang menjadi teman Na itu datang dan melukai ibu Na.
"Aaaaaaakh! Kenapa kau melukaiku? Aku bahkan belum menusukmu. Dasar anak durhaka!"
Ayah Na yang berada di luar panik, dengan cepat masuk ke dalam kamar dan melihat apa yang telah terjadi.
"Apa ini, Na? Kau meminta temanmu membunuh Ibumu?"
"Dasar Anak tidak tahu diuntung! Kau akan membayarnya!"
Ayah Na membaca salah satu Surat yang berada di Al-Qur’an, seketika ia melihat temannya terbakar di depan matanya, sambil mengucapkan semoga Tuhan memberimu kebahagiaan seraya tersenyum.
Na menangis dan saat itu juga, ia mengakhiri benang silaturahminya dengan kedua orang tuanya.
"Tidak semua makhluk-Nya itu baik, ada pula yang jahat dan licik. Tuhan menciptakan kita berdampingan dengan mereka pasti memiliki maksud tersendiri, jangan selalu saling menyalahkan. Karena terkadang yang menjadi iblis itu adalah diri sendiri."
Jonggol Kamis, 7 Juli 2022