Tahun 2019 yang lalu, saat Nadia Abdul Aziz duduk dibangku sekolah menengah pertama. Sering sekali banyak bullyan dan hinan yang terlempar mengenai dirinya, hal yang baik saat itu dilakukan Nadia adalah dengan tidak memiliki teman.
"Eh anak kecil, tulisin tuh catetan yang ada dipapan tulis. Buruan!!" perinta Siska teman sekelasnya.
"Udah kecil, bodoh, dan engga punya ibu makannya engga ada temen yang mau berteman sama loh" tambah Siska.
Nadia hanya menurut saja, tanpa membantah apalagi melawan setiap argumen semua temannya lontarkan kepada Nadia.
"Ini Siska sudah selesai" ucap Nadia memberikan buku catatan milik Siska.
"Bagus, nurut juga ya loh" jawab Siska mengambil bukunya dengan kasar.
"Aku cuma mau minta satu hal, tolong jangan ganggu aku sampai aku lulus" pinta Nadia yang merasa lelah karena Siska terus menyuruhnya.
"Apa loh bilang?" tanya Siska mendorong badan Nadia sampai terdorong kebelakang.
"Permintaan aku simple ko Sis" jawab Nadia yang tak melawan dorongan Siska.
Allahu akbar.. Allahu akbar..
Adzan berkumandang dimusholah lingkungan sekolah, dan itu juga membuat Siska menghentikan tindakannya. Karena setiap kali Siska dan gengnya membully Nadia, mereka akan ingat kesepakatannya pada Nadia.
Nadia Abdul Aziz seorang piatu karena ibunya sudah meninggal, dan ayahnya menikahi wanita yang jahat pada Nadia dan juga kakak-kakaknya sudah menikah semua dan hanya Nadia yang tinggal bersama ayah dan ibu tirinya. Betah atau tidak betah Nadia berfikir dirinya hanya perlu melewati semuanya tanpa berfikir seberapa banyak lukai itu mengenai harga dirinya.
Nadia melangkah pergi dari hadapan Siska dan gengnya, untuk pergi kemusholah untuk sholat. Dan teman terbaik Nadia kemarin, saat ini dan selamanya hanyalah Allah sang maha pencipta alam semesta ini. Nadia bercerita banyak pada sang pemilik alam, bahkan Nadia membalas semua perlakuan Siska dan bullyannya dengan mendo'akan agar Siska bisa menghargainya layaknya manusia lain.
"Yaa Allah.. Yaa Tuhanku, aku hanya menjalani qodhomu. Selebihnya sanggupnya aku atau tidaknya aku itu terletak pada kekuatan yang seberapa besar Engkau titipkan padaku, tidak ada takdir yang Engkau berikan pada hamba-Mu kalau takdir itu buruk, hina, terkutuk tapi melainkan pasti takdir itu adalah takdir yang baik. Husnudzonkan terus hati dan fikiranku kepada-Mu dan hamba-Mu yang lain. aamiin" do'a Nadia yang kali ini ia ucapkan dengan sepenuh hati dan keikhlasan sambil mengangkat kedua tangannya menengada dihadapan Tuhannya bersimbuh lemah tak berdaya dan merendah serendahnya dihapadapan sang pemilik.
Nadia pulang kerumah ayahnya, karena Nadia merasa rumah itu tidak lagi menjadi miliknya karena ibu tirinya yang jahat.
"Dari mana kamu anak kecil?" tanya ibu tirinya.
"Nadia tadi pulang sekolah langsung pergi kerja jadi pulangnya sore banget" jawab Nadia penuh dengan hormat selagipun dengan orang yang jahat padanya.
plak..
tamparan mendarat dipipi, ibu tirinya tega menamparkan tidak segan-segan bahkan bisa sampai memukul Nadia dengan beberapa alat dapur seperti centong.
"Kerja apa? jual harga diri ya kamu" ucap ibunya sembari menghina dan merendahkan Nadia yang tidak melawan sama sekali.
"Aku akan minta ayah kamu, agar setelah lulus menikahkan kamu dengan laki-laki yang kaya supaya bisa membantu perekonomian keluarga dan kamu akan hidup enak dan terjamin. Masuk sana!!" tambah ibu tirinya.
Nadia hanya menurut tidak melawan ataupun membalas ucapan ibu tirinya, setelah dikamar Nadia mengunci pintu kamarnya dan perlahan bandannya tersungkur dilantai dan menitihkan air mata.
"Yaa Allah maafkan ibu tiriku yang telah menampar wajah yang engkau titipkan kepadaku, aku yang tidak bisa membuat orang-orang disekitarku merasa bahagia dengan diriku. Maafkan aku Yaa Allah" ucap Nadia lirih.
Bahkan sampai dipuncak yang lebih parah sekalipun Nadia masih tidak membalasnya justru dia masih bersikap baik dan baik.
"Nadia kemari! ada sesuatu yang ayah ingin tanyakan" perintah ayahnya.
Nadia tidak menjawab hanya patuh dan kemudian duduk dihadapan ayah dan ibu tirinya juga.
"Apa benar kemaren kamu pulang sore sekali?" tanya ayahnya.
"Iya yah, Nadia langsung pergi bekerja setelah pulang sekolah karena kebetulan saat itu rameh sekali jadi Nadia agak pulang telat sedikit karena harus menunggu ojeg yang lewat" jawab Nadia dengan jujur.
"Apa uang jajan yang ayah kasih ke kamu tidak cukup? sampai kamu harus bekerja dan menjadi bodoh" tanya ayahnya yang lebih tepat mengatai putrinya sendiri.
"Nadia sekolah bukan untuk pintar yah tapi untuk menjadi seorang anak yang berkemanusiaan dan berakhlaq" jawab Nadia.
"Tau apa kamu soal kemanusiaan? jangan coba melawan ayah ya. Sudah untuk ayah rawat kamu jangan sampai ayah buang kamu ke panti asuhan" ancam ayahnya yang sudah terhasut oleh ibu tiri tentunya.
"Sebaiknya kamu nikahkan saja Nadia dengan anaknya juragan durian, bukannya dia kaya raya. Anak kamu akan hidup bahagia kalau menikah dengam anaknya juragan durian" ucap ibu tirinya yang suka sekali membuat keruh keadaan.
"Nadia ayah akan menikahkan kamu setelah lulus sekolah" tambah ayahnya.
"Boleh Nadia minta syarat ayah?" tanya Nadia.
"Syarat apa?" tanya balik ayahnya.
"Izinkan Nadia selesaikan sekolah sampai SMK dulu ayah, Nadia mohon" pinta Nadia penuh dengan harapan.
"Kamu engga tau diri ya, ayah kamu sudah sangat susah membiayai hidup kamu apa kamu engga kasian anak engga tau diuntung" ucap ibu tirinya.
"Ayah kabulkan syarat itu, dan kamu harus janji kamu akan menikah dengan laki-laki siapapun yang akan dijodohkan dengan kamu. Setuju" kesepakatan ayahnya telah dibuat dan telah disetuju Nadia.
Nadia mengambil resiko besar untuk masa depannya semata-mata hanya untuk menyelesaikan sekolahnya sampai sekolah menengah kejuruan.
Nadia dilahirkan dengan wajah yang sempurna, badan yang sempurna tidak memiliki cacat sedikitpun hanya satu kurangnya tingginya yang hanya mentok ke145cm yang kalah dengan teman-temannya yang lain menjadi alasan untuk semua bullyan yang ia dapatkan namun dia mampu bertahan sejauh ini.
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Hari kelulusan Nadia telah tiba, dia lulus dengan nilai yang standar dan cukup. Akhirnya penderitan disekolah menengah pertama akan berakhir, dan akan memasuki kehidupan baru lebih tepatnya sekolah yang baru.
Nadia memilih sekolah yang sangat sederhana bahkan lebih tepatnya sekolahnya tidak akan ada teman-temannya dari smp yang akan satu sekolah lagi dengan dirinya karena Nadia benar-bebar memilih smk yang sangat cocok untuk dirinya.
"Ayah, Nadia akan sekolah dismk bojong tiga" ucap Nadia yang kini dihadapan ayahnya.
"Smk Bojong tiga, kamu tahu sekolah itu harus tinggal diasrama?" tanya ayah terkejut.
"Iya ayah Nadia tahu soal itu, dan Nadia sudah memutuskan" jawab Nadia.
"Sudahlah yah biarkan saja dia sekolah disitu, lagian biaya sekolah disitu engga terlalu mahal" bujuk ibu tirinya karena biaya sekolah yang sangat mendukung.
"Ayah akan fikirkan" jawab ayah tidak memberikan kepastian.
Nadia nekat mengirim pendaftarannya ke smk bojong tiga dan Nadia mengikuti tes secara online melalui handphone android miliknya, dan ia dia masuk dengan mudah karena memang sekolah itu membutuhkan murid tes hanya sebagian aturan sekolah saja.
Tanggal pendaftaran ulang tiba, Nadia sudah merapihkan semua barangnya untuk bersiap pergi tinggal menunggu kalimat iya dari ayahnya.
"Ayah, Nadia sudah keterima disekolah itu dan Nadia akan pergi untuk pendaftaran ulang besok" ucap Nadia.
"Baiklah jika itu syarat yang kamu ajakan pada ayah, maka ayah setuju kamu sekolah disana" jawab ayah.
Tentunya ibu tiri sangat bahagia karena anak yang sudah lama sangat ingin dia usir akhirnya memilih keluar sendiri dari rumah.