Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, Audrey masih terjaga di temani secangkir susu hangat yang berada di genggamannya. Sambil menunggu rasa kantuk hadir, Audrey membaca novel online di salah satu aplikasi. Tiba-tiba ada panggilan masuk dari nomer yang tidak ia ketahuai. Audrey mengabaikan sambungan itu, dan melanjutkan membaca bacaannya. Tidak lama kemudian, ponselnya berbunyi lagi dari nomer yang sama.
" Astaga...Nomer siapa sih ini. " Keluh Audrey
Audrey menekan tombol hijau, dan mengangkat sambungan itu.
" Hallo ".
" Hallooo... Dengan siapa disana? " tanya Audrey dengan wajah yang masam.
" Ha- Hallooo." terdengar suara pria dari sebrang sana yang sedang merintih kesakitan.
" Iya, hallo ini siapa ya? "
" Help me.. Please. "
Audrey mengenyeritkan dahinya " Anda ke-kenapa? " Tanya Audrey khawatir " Dan dimana anda berada? " lanjutnya.
Setelah sambungan itu berakhir, Audrey membangunkan adiknya, Justin.
" Dek.. " Audrey menggoyangkan tubuh adiknya.
" Ck, ada apa sih Ka, ganggu tidur gue aja "
Audrey langsung bercerita kepada adiknya tentang si penelpon misterius itu.
" Paling usil aja dia Ka "
" Kalau benar bagaimana? "
" Aiss "
Audrey, dan Justin bergegas keluar apartemennya untuk memastikan kebenaran. Justin mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, membelah jalanan Ibu kota menuju lokasi dimana tempat yang di sebutkan.
Tidak butuh waktu yang lama,sudah sampai disana, dari dalam mobil mereka melihat seorang pria yang tergeletak lemas di pinggiran jalan, wajahnya penuh lebam, dan ada noda darah yang tercetak di kaosnya. Audrey, dan Justin segera turun dari mobil, dan membantu pria itu.
"Hei kau tidak apa-apa?" Audrey berjongkok, dan menggerakan tubuh kokohnya. Pria itu membuka matanya perlahan, dan menatap wajah gadis yang berada di depannya.
" Hai.. Cantik" Pria itu menyapa dengan senyuman terbaiknya.
" Stress ni orang. " Audrey berdiri kembali.
" Ayuk Justin, kita tinggalkan saja ini orang "
" Tapi Ka "
" Kalian tidak jadi menolongku? " tanyanya keheranan.
" Ck, menyusahkan" Audrey, dan Justin membantu pria itu berdiri,
" kami akan membawamu ke klinik " tawar Audrey.
" Terimakasih "
Klinik
Setelah melewati serangkaian pemeriksaan, Audrey, dan Justin berpamitan kepada Axel.
" Apakah kau akan meninggalkanku disini? " tanya Axel
" Kau bisa menghubungi keluargamu."
" Aku tidak mempunyai keluarga disini, baru saja aku kerampokkan dan tidak ada uang sepersenpun di dompetku "
" Alesan "
" Aku berani bersumpah "
" Justin coba periksa tas pria ini"
Justin menggeledah tas yang dimiliki Axel, benar saja yang di temukan hanya beberapa lembar baju, serta celana. Lalu ia memeriksa dompet Axel, yang tertinggal uang ribuan.
" Mana ponselmu? "
" ini " Axel memberikan ponselnya.
Diambilah ponsel milik Axel yang sudah ketinggalan jaman. Dahi Audrey berkerut...
" Astaga kenapa tidak ada kontak sama sekali "
" Ponselku ditukar sama perampok itu. "
" Ya Tuhan"
──────⊹⊱✫⊰⊹──────
Ke esokan harinya...
Matahari sudah beranjak naik, Audrey yang masih terjaga dari alam mimpinya terusik dengan sinar matahari yang menyelinap masuk dari kusen jendela kamar apartementnya.
Audrey merentangkan kedua tangannya, dan terdengar suara ketukan pintu dari luar.
" Siapa yang berkunjung kesini sepagi ini "
Segera Audrey bangun dari tempatnya. ia melangkahkan kakinya jenjangnya dengan langkah gontai. Tepat di depan pintu apartemen, membuka pintunya.
" Mamah " Audrey memeluk Mamahnya dengan erat.
" Kamu kemana saja? Mamah telepon nomermu ga aktif. " Bu Lisa mengurai pelukan putrinya.
" Batrei ponselku habis, Mah. " Jawab Audrey .
Bu Lisa duduk di sofa yang berada di ruang TV apartement putrinya.
" Mam, mau teh? " tawar Audrey
" Boleh Nak "
" Cek lek " suara knop pintu kamar Audrey terbuka, Axel keluar kamarnya hanya memakai handuk yang menutupi bagian bawahnya. Bu Lisa melebarkan maniknya, begitupun juga Audrey.
" Hai.. Mamah mertua " sapa Axel dengan sejuta pesonanya.
" AUDREY, SIAPA PRIA ITU? " tanya Bu Lisa penuh penekanan
" Di..Di..Dia" Audrey hendak menjelaskan, namun Axel memotong ucapanya.
" Calon menantumu, Mah " jawab Axel dengan santai, yang membuat Audrey terkejut.
" KAU PEMBOHONG ULUNG, DIAM LAH!! " bentak Audrey.
Axel terkekeh melihat bagaimana wajah Audrey yang sudah merah karena ulahnya.
" Mah.. Tolong dengarkan aku " Audrey memohon
" Apa yang kalian lakukan? Hah.. " Bu Lisa sudah tersulut emosi.
" Mam " Audrey mencoba menjelaskan namun Bu Lisa mengangkat tangannya.
" Ya...Yang anda lihat Mamah mertua, luka ini perbuatan putri anda " Axel menunjukan memar di bagian dadanya.
" Terimakasih sayang, kamu sampai repot-repot menyiapkan bajuku. " Axel memakai kaos yang sudah berada di tangannya.
" DIAMLAH PRIA DURJANAAAA, KAU MENJIJIKAN! " Audrey sambil berdesis.
" Ya Tuhaaan " Bu Lisa memegang dahinya yang mulai terasa berdenyut.
" Mamah.. Mamah kenapa? " Audrey begitu khawatir melihat wanita yang melahirkan begitu pucat.
" Segera, menikahlah kalian!!" Perintah Bu Lisa.
" Percaya sama Audrey Mah, Audrey tidak berbuat mesum. Mamah bisa bertanya kepada Justin "
" Mamah tidak mau mendengarkan alasan apapun!! "
" Mamah akan bilang ke Papa, tetang perbuatan kalian! "
Bersambung