"Ughh..."
"Bukan..kah.. k..kau tau..aku a..lergi ka..cang?" Tanya Ale dengan suara tercekat.
"Hahaha, memang itu yang ku inginkan sayang. Oh iya, aku mau ucapkan selamat padamu, kau sangat menyayangi papamu kan? Sebentar lagi kalian akan bertemu, kau pasti tidak sabar kan?" Balas Rey dengan tawa menggema.
Ceklek.
"Sayang, kenapa lama sekali? Ups, ternyata belum mati?" Ujar seorang wanita seksi menyerigai sembari menatap remeh ke arah Ale yang telah jatuh tersungkur.
"Ba..jingan." Umpat Ale merasakan sesak di dada yang semakin menjadi, lehernya terasa tercekik, tubuhnya lemas tak bertenaga dan wajahnya memerah menahan rasa sakit yang semakin lama semakin menjalar.
Perlahan mata Ale tepejam, rasa sesak dan sakitnya sudah di ambang batas. Bahkan di akhir nafasnya pun Ale dibuat semakin sakit oleh tawa terbahak sepasang penghianat itu.
.....
"Hah... Hah... A..ku masih hidup?" Gumam Ale dengan nafas terengah-engah.
"Ini... Ini... Bukankah ini kamarku di rumah Papa?" Gumamnya kembali sembari melirik kesana kemari memastikan dugaannya.
"Bukankah tadi aku masih di sana, di apartemen penghianat itu? Kapan aku pulang? Dan bukankah aku sudah mati?" Bingung Ale mencoba mengingat-ingat kejadian yang barusan ia alami.
"Ale, bangun nak. Saatnya sarapan, hari ini kamu kuliah kan?" Terdengar suara dari luar, suara yang sangat Ale rindukan.
"Pap.. Papa?" Gumam Ale dan dengan cepat melompat dari tempat tidurnya dan berlari keluar.
"PAPA..." Teriak Ale membuat Papanya yang sedang menunggu dirinya di meja makan seketika berjingkat kaget.
"Ale... Kau mau buat papa serangan jantung ya?" Tanya Papa kesal, tetapi yang menjadi biang masalah malah terkekeh-kekeh di belakang punggungnya.
Ale sangat senang karena papanya masih hidup dan sekarang berada di dalam pelukannya.
"Pa, aku senang sekali karena Papa baik-baik saja." Ujar Ale sembari melerai pelukannya dan duduk di samping Papanya.
"Kamu bicara apa sih? Papa kan memang baik-baik saja." Ujar Papa semakin menatap Ale dengan pandangan aneh.
"Eh, A.. Ale mimpi buruk Pa, buruk sekali. Sampai-sampai Ale mau mati rasanya." Ujar Ale mendadak menjadi sendu.
"Kamu bicara apa sih nak? Sudah, cepat makan dan persiapkan diri untuk berangkat kuliah. Hari ini hari pertamamu masuk kuliah kan?" Tanya Papa sembari menyodorkan roti tawar yang telah diolesi selai blueberry kesukaan Ale.
"Hah? Hari pertama kuliah?" Tanya Ale dengan kebingungan yang semakin menjadi.
"Iya, apa kamu lupa? Ya ampun, anak gadis Papa kenapa aneh sekali hari ini? Biasanya kalau masalah sekolah kan selalu yang paling semangat." Ujar Papa menggeleng-geleng kepalanya.
"Bukankah aku sudah semester enam? Kenapa baru masuk kuliah?" Pikir Ale mencoba mencerna semuanya.
.....
Ale berjalan cepat naik ke kamarnya, mencari ponsel dan menemukan ponsel lamanya.
"Ini adalah 3 tahun yang lalu, apa aku mengulang waktu?" Gumam Ale dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal seraya membaca chat teman-temannya.
"Tapi kenapa seperti cerita novel? Apa aku terlalu banyak baca novel sampai aku ikut halu?" Gumamnya kembali sembari menepuk keras pipinya.
"Aww, ini sakit, ini kenyataan, ini bukan mimpi." Ujarnya pada diri sendiri sembari melompat kecil merasa sangat bahagia.
"Hmm, Tuhan telah memberikanku kesempatan kedua untuk memperbaiki kebodohanku. Lihat apa yang akan ku lakukan pada kalian." Batin Ale sembari tersenyum kecil.
.....
"ALE..." Teriak seseorang ketika Ale baru turun dari mobilnya.
"Dasar gila, kau mau kita jadi pusat perhatian hah?" Kesal Ale berusaha melepaskan pelukan sahabat gilanya itu sembari melirik beberapa orang yang menatap mereka.
"Hey, Aleandra Collin. Aku ini rindu padamu, apa salahnya?" Gerutu Angel yang merupakan sahabat baik Ale.
"Hah, tapi aku tidak rindu padamu!" Ujar Ale membuat bibir mungil Angel mengerucut beberapa centi, ngambek.
"Aish, baiklah. Aku juga rindu sekali padamu malaikatku." Ucap Ale seraya mengerlingkan mata kanannya membuat Angel begidik ngeri.
"Ish, aku masih normal Ale!" Bentak Angel kembali menarik perhatian para mahasiswa yang berlalu lalang.
"Hah, kau benar-benar membuat ku malu Gel." Ucap Ale sembari melangkah meninggalkan Angel.
"Ale, tunggu." Teriak Angel seraya mengejar Ale yang telah melangkah jauh.
.....
Sebulan telah berlalu.
Selama satu bulan ini, Ale hidup dengan tenang. Ia belum melancarkan aksi balas dendamnya karena belum saatnya ia bertemu dengan kedua penghianat yang telah merenggut kebahagiaannya itu.
"Ale, lihat dia. Kenapa selalu sendirian seperti itu ya?" Bisik Angel seraya menatap seorang gadis cupu yang sedang duduk di taman kampus seorang diri.
"Kau mau berteman dengannya?" Tanya Ale tersenyum kecil.
"Tidak! Aku sudah punya Ale, Ale saja sudah cukup untukku." Balas Angel dengan semangat.
"Ish, kenapa kau tidak pernah bisa menjaga intonasi suaramu?" Geram Ale sembari melirik ke kiri dan ke kanan merasa kesal dan malu sendiri. Namun, yang menjadi alasan kekesalannya malah semakin semangat mengoceh.
"Apa hari ini adalah waktunya?" Gumam Ale mengabaikan ocehan Angel.
"Sudahlah, ayo ke kantin." Ujar Ale menarik tangan Angel agar berjalan lebih cepat.
.....
Terlihat barisan panjang mahasiswa dan mahasiswi yang sedang mengantri mengambil makanan, salah satunya adalah Ale. Ale sedikit menoleh kebelakang dan sesuai perkiraannya, gadis cupu itu ada tepat di belakangnya.
Ale mengambil makanannya dan segera melangkah menuju tempat duduk dimana Angel telah duduk di sana menunggu makanannya yang dibawa Ale. Sementara itu, sih gadis cupu masih terus mengikutinya di belakang.
Gadis cupu itu bernama Sabrina. Sabrina melangkah semakin cepat, tujuannya adalah menabrakkan diri pada Ale. Ia ingin membuat semua orang tahu sifat asli Ale yang menurutnya sangat munafik, selalu menutupi kelicikan dibalik senyum manisnya.
Ketika jarak Ale semakin dekat, ia berpura-pura tersandung. Namun yang tak ia sangka, Ale berbelok dan duduk tepat di samping ia terjatuh saat ini.
Alhasil makanannya tidak jatuh menimpa Ale, melainkan terciprat ke sepatu seorang gadis cantik yang saat ini telah menatap tajam seakan ingin mengulitinya.
"Hey, gadis cupu! Apa kau tak punya mata? Padahal sudah punya empat mata masih tak bisa melihat dengan benar?" Teriak marah gadis sombong yang merupakan kakak tingkat mereka yang bernama Cindy.
"Sial, kenapa bisa jadi begini?" Gerutu Sabrina di dalam hati.
"Ma.. maaf kak, saya tidak sengaja tersandung." Ujarnya kemudian dengan mata berkaca-kaca.
"Hah, aku tidak mau tau. Kau harus membersihkan sepatuku ini." Ujar Cindy mengulurkan kakinya tepat di depan wajah Sabrina.
Sabrina kemudian merogoh koceknya mengambil sapu tangan dan ingin mengusap sepatu Cindy.
"Eit, siapa yang memintamu membersihkan sepatuku dengan sapu tangan, hah?" Ujar Cindy dengan senyuman devilnya.
Sabrina terdiam dan semakin mengumpat di dalam hatinya.
"Jilat! Bersihkan dengan cara menjilat!" Bentak Cindy membuat Sabrina mengangkat wajahnya menatap Cindy dengan tatapan tidak percaya.
"Tunggu apalagi? Cepat jilat atau kubuat kau di keluarkan dari kampus ini." Lanjut Cindy dengan nada semakin mencemooh.
Ale hanya diam menyaksikan semuanya, dulu ia lah yang berada di posisi ini. Setelah Sabrina menabrak punggungnya, Ale kehilangan keseimbangan membuat makanan yang dipegangnya langsung menghantam baju Cindy. Bahkan kemarahan Cindy jauh lebih besar saat itu.
"Bukankah kau suka menjadi pusat perhatian? Bersyukurlah karena sekarang kaulah yang menjadi inti dari tontonan hari ini." Batin Ale dengan senyum tipisnya.
"Ta.. tapi, saya..." Suara Sabrina tercekat seakan tidak dapat melanjutkan perkataannya. Wajahnya telah penuh dengan air mata, belum pernah ia dihina seperti ini.
"Cepat aku bilang!" Titah Cindy kembali dengan bentakan yang lebih keras.
Baru saja ingin menunduk lebih dalam menerima semua penghinaan ini, sepasang sepatu berwarna hitam berhenti di sebelah Cindy.
Tidak lama setelahnya, sebuah tangan terulur tepat di depan wajahnya. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk selamat, Sabrina dengan cepat menerima uluran tersebut dan berdiri tepat di depan pemilik tangan itu.
"Cin, apa yang kau lakukan?" Tanya Rey pada Cindy seraya menatapnya tajam.
"Dia membuat sepatu kesayanganku kotor, Yang." Jawab Cindy dengan suara manjanya.
Ya, saat ini Rey merupakan kekasih Cindy. Walau tidak berasal dari keluarga yang berada, Rey merupakan most-wanted di kampus mereka.
Wajahnya tampan, hebat dalam bidang olahraga meski sedikit kurang dalam akademik, namun itu tidak mengurangi pesona seorang Rey.
Hal itulah yang membuat ia bisa menjadi kekasih seorang Cindy yang notabene merupakan anak pemilik kampus ini.
Walau ini adalah kampus swasta bergengsi, tetapi kampus ini tetap memberikan beasiswa terhadap siswa berprestasi. Begitulah kenapa Sabrina yang bagus dalam bidang akademik dan Rey yang bagus dalam bidang olahraga dapat berkuliah disini.
"Mulai sekarang kita PUTUS!" Ujar Rey tajam pada Cindy seraya menarik lengan Sabrina pergi dari sana.
"What? Rey..." Teriak Cindy sembari mengejar Rey yang telah melangkah jauh.
"Dan ini adalah bonus untukmu Sabrina! Bukankah kalian berselingkuh di belakangku? Sekarang aku membuat dia menjadi pahlawanmu, maka cepatlah buat dia jatuh cinta padamu dan kau tidak perlu menjadi orang ketiga lagi. Selain itu, aku akan dengan sukarela memberikan nasibku padamu." Batin Ale lagi semakin melebarkan senyumnya.
Di sisi lain, seorang pria dewasa yang baru akan melangkah keluar setelah tidak menemukan adik pembawa masalahnya menoleh dan menatap Ale dengan seringai penuh arti.
🌼🌼🌼🌼🌼
Halo🤗 terima kasih sudah mampir. Menurut kalian apakah mau dilanjut?
Edit :
Hallo semuanya, karena permintaan kalian aku akan coba lanjutin cerita ini. Tapi pakai akun yang lain. Dan ceritanya sudah terbit. Judulnya sama "Tak Akan Terjerat Lagi" by Joy Jasmine. Terima kasih untuk yang telah mendukung. 🤗🙏