🚫WARNING! CERITA INI BERISI KONTEN SADIS DAN MUNGKIN SENSITIF UNTUK BEBERAPA ORANG. DISARANKAN DIDAMPINGI OLEH ORANG YANG LEBIH TUA‼️
🚫WARNING! CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA. SEMUA PURE DARI IMAJINASI PENULIS. FANFIC DARI ANIME ATTACK ON TITAN‼️
Di luar sedang hujan, Reyn bergumul dengan selimut menggeliat nyaman. Ditemani secangkir cokelat panas di atas nakas sebelah kasurnya. Hari Sabtu penuh ketenangan menyelimuti atmosfer ruangan itu. Ia memainkan gawainya dengan menggulirkan berita-berita terbaru hari ini. Tunggu, ini saja masih awal hari, bagaimana bisa mereka membuatnya secepat ini. Biarlah.
Menguap lebar-lebar, mengedipkan kelopak mata. Jam menunjukan pukul 07.00, ia harus segera mandi air dingin yang sudah menjadi kebiasannya. Bangkit dari ranjang dengan langkah malas, sesekali menguap. Lantai pualam dingin mengiringi perjalanan Reyn menuju kamar mandi di dalam kamarnya. Hawa pendingin ruangan mengelus kulit putih nan halus miliknya. Kini ia telah tiba di depan pintu, mengambil anduk di sebelahnya lalu masuk.
Tangannya mencengkram gagang pintu Stainles itu, tetapi baru ia buka sedikit ada suatu yang janggal.
"A-apa!? Tidak salah lihat, kan? Ada rump-ut?!" terkejut Reyn matanya membulat sempurna. Pintu yang masih terbuka sedikit dibiarkan olehnya terbuka. Taraaa!
Bagai dua dimensi yang berbeda, menyatu dengan gerbang dimensi pintu kamar mandi Reyn. Rumah dengan gaya kuno dan Padang rumput yang luas. Ada beberapa sapi dan satu kuda. Tunggu, apakah Reyn sedang bermimpi? Semua ini tampak tidak masuk akal. Ia mengosokan kedua matanya, berkedip. Masih dalam pemandangan yang sama. Kemudian ia menampar pipinya mengikuti adegan-adegan di film. Sakit.
"Mustahil... Bagaimana ini bisa-"
Ucapan Reyn terhenti ketika tiba-tiba pintu kamarnya terketuk, ia segera menutup pintu itu dan menuju sumber suara.
CKLEK!
Seorang wanita mengenakan celemek hijau dengan rambut terikat membawa satu menu sarapan yaitu: bubur ayam, roti cokelat.
Wanita tersebut tersenyum manis menatap Reyn setelah ia membukakan pintunya. "Pagi Reyn, dimakan ya. Hati-hati masih panas," menyerahkan nampan berisi makanan. Reyn membalas uluran tangannya.
"Ah-iya, terima kasih bunda..." ia terdiam masih syok dengan kejadian barusan.
Bunda mengangkat sebelah alisnya. "Lalu? Apa jawabannya sayang?"
"Ah, iya! Pagi bunda," jawabnya sambil tersenyum polos.
"Hahaha, masih loading. Baik, bunda mau turun dulu ya. Dimakan loh buburnya. Dadah sayang," bunda berpaling menuju dapur kembali. Tanpa menjawab Reyn menutup pintu kamar.
Selang beberapa waktu diisi oleh keheningan. Hujan mulai reda dan ia membuka jendela kamarnya. Menatap kosong pada danau seluas lapangan sepak bola, tertegun memikirkan kejadian barusan. Jalanan mulai dipadati oleh pejalan kaki, ternyata ada tetangganya juga, seorang anak berumur 10 tahun mengenakan set pakaian berwarna biru sedang membawa jaring serangga dan kandang kecil.
"Bagaimana bisa?" menoleh ke kamar mandi. Berpikir sejenak, lalu ia memutuskan untuk tidak ambil pusing memulai sarapan pagi.
Sesuap demi sesuap telah dilalui, sesekali membiarkan sesendok bubur di udara agar cepat dingin. Reyn terus memikirkan apa yang ia lihat tadi, sebuah rumah kuno, beberapa sapi dan kuda, dan Padang rumput, terlihat seperti pedesaan. Di kejauhan hutan dengan pohon menjulang tinggi, sangat tinggi. Tanpa sengaja lidahnya tergigit. Mengernyit kesakitan. Matanya melirik ke kiri, ia merasakan anyir di mulutnya.
"Ah, berdarah. Ada-ada saja!" ujar Reyn di depan cermin sebelah jendela. Ia segera mengambil tissue di atas nakas. Sarapan paginya seketika usai menyisakan bubur setengah mangkuk dan sebuah roti cokelat.
Kamar mandi itu membuat Reyn penasaran. Membuka kembali pintu Stainles secara perlahan. Benar saja, desa itu masih terlihat olehnya. Kali ini ia berniat untuk melangkah. Namun, sebelum itu Reyn mengambil sisa roti cokelat untuk berjaga-jaga.
"Yosh! Semoga... Baik-baik saja... Kurasa...."
Salah satu tangannya mencoba menerobos pembatas dimensi, seketika kamarnya berubah menjadi pedesaan itu.
"Ap-a," semua terasa nyata. Kicauan burung terdengar sangat jelas. Ia mencoba menyentuh rerumputan di bawahnya. Sekali lagi, matanya membulat. Semua terasa nyata! Namun, tangannya terlihat seperti....
"Astaga! Ini, ini kan. aku baru menyadarinya, semua di sini terlihat seperti gambar dengan grafik tinggi. Anime? Dimensi anime?! Yang benar saj-"
"Oi! Siapa di sana! Kau ingin mencuri, ya!" teriak salah seorang yang baru saja keluar dari rumah kuno yang tak jauh dari tempat Reyn berada. Reyn tak bisa berkata-kata lagi, ia sungguh syok dengan ini semua.
Reyn menggerakkan jari jemarinya perlahan. "Ini bukan mimpi...."
PLAK!
Reyn terkejut setelah mendapat lemparan sendal dari wanita itu mendarat tepat di wajahnya. Sakit. Mengusap jidat.
Menarik kerah baju piyama Reyn sampai kesulitan bernapas. "Heh, jawab! Jangan mencoba lari kau! Kau, datang dari mana!?"
"Siapa yang lari? Dan ada apa tiba-tiba melempar sendal?!" tak kalah ngotot Reyn menjawabnya.
"Oi! Oi! Sudah cukup!" dari kejauhan datang seorang pria paruh baya memegang ember air. Walau uban menghiasi rambutnya ia masih terlihat tegak dan kuat.
"Ada apa ini! Mitsuki, ceritakan!" tanya pria itu dengan tegas.
Perempuan itu bernama Mitsuki, mulai mengendurkan tarikannya. "Dia ini mencoba mencuri di peternakan kita ayah! Mungkin ini orang yang sama dari tempo hari."
"Tunggu, siapa yang kau bilang pencuri itu?" sela Reyn.
"Jelas-jelas kau berada di sini, orang aneh!"
"Astaga! Kau ini benar-benar... Tadi kau melemparkan sendal kepadaku, dan sekarang kau menuduhku sebagai pencuri di peternakanmu? Jelas-jelas aku hanya berdiam di sini, entah karena apa sesuatu membawaku ke tempat ini."
"Lihatlah ayah, dia-"
"Sudah-sudah, cukup Mitsuki. Kau seharusnya tidak asal menuduh seseorang mencuri," berusaha menengahi.
"Ayah juga melihatnya, ia hanya berdiam diri seperti orang kebingungan. Apakah kau tersesat anak muda?" tanya pria itu menatap mata Reyn tenang.
"Ah-iya. Aku," berpikir sejenak. "Tadi aku mengejar babi hutan di sini, dan tak sadar sudah sangat jauh dari tempatku berada...."
Mitsuki tertawa mendengarnya. Peternakan ini berada jauh dari desa ramai penduduk. Bagaimana bisa Reyn berlari tanpa berkeringat mengejar babi itu sampai ke sini.
"Hahaha, sangat tidak masuk akal." ujar Mitsuki.
"Aku..."
"Sudahlah Mitsuki, biarkan ia masuk ke dalam. Ia terlihat benar-benar kebingungan," menatap Mitsuki sambil tersenyum.
"Oh iya, jika butuh apa-apa kau bisa minta bantuan ke anakku. Jangan sungkan. Permisi," ia berpaling menuju kandang kuda yang terletak sebelah tempat mereka berada.
Mitsuki menghela napas berat. "Baiklah, mari ikut aku jika kau mau!" berpaling dari Reyn segera berjalan cepat.
Reyn memutar kepalanya kanan, kiri, memutar badan. Ah, sial! Dimana pintu agar kukembali.
"Bagaimana jika... Aku terjebak di sini," lirih Reyn tanpa didengar jelas oleh Mitsuki. Mitsuki melirik ke arah Reyn.
"Hei! Mau apa tidak? Jangan membuang waktuku!"
"Baik-baik," tanpa ambil pusing Reyn menyusulnya, sesekali menikmati panorama yang luar biasa ini. Namun, dari kejauhan terlihat ada yang janggal. Seperti sebuah, tem-bok?!
"Astaga..." tak bisa berkata apa-apa lagi. Pantas saja sedari awal ia berada di sini seperti tak asing dengan gaya gambar dari dunia ini. Gaya khas dari WIT studio dengan anime garapannya Attack on Titan.
°•••°
Rumah kayu terlihat bersih. Tanaman hias menyapa seketika berada di depan pintu masuk. Sesekali suara kuda dan sapi terdengar. Sungguh bau sapi yang menyengat.
"Ayo! Masuk!" ujar Mitsuki sudah duluan. Reyn menuruti perkataannya.
"Permisi."
Di dalam ruangan terdapat empat orang selain kami berdua. Ibu, dua anak kecil berumur sekitar empat tahun dan enam tahun, dan satu sepantaran kami berumur 17 tahun.
Anak-anak yang sedang bermain bersama wanita tengah paruh baya, uban mulai menutupi rambut lurusnya tanpa mengurangi ketenangan parasnya. "Mitsuki, siapa orang itu?"
"Aku juga belum mengetahuinya, Bu. Mungkin dia tersesat di daerah ini. Ayah menyuruhku untuk membawanya ke sini."
Seketika ibu Mitsuki beranjak dari tempatnya berada menuju Reyn. "Halo, selamat datang. Nama bibi ialah Ayuno. Namamu, apa bibi boleh tahu?
Reyn tersenyum. "Ah, namaku Reyn. Terima-kasih sudah memperbolehkan ku di sini," ia menundukan badan.
"Reyn, jika butuh apa-apa katakan ke Mitsuki atau Revana, dia anak bibi yang baik. Yang bersamamu saat ini ialah Mitsuki, dan ini dia Revana, adik Mitsuki, hanya berbeda beberapa menit saja. Bibi ingin pergi ke atas untuk menjahit," ujar wanita itu tersenyum, lalu menuju tangga.
"Terima kasih banyak, bibi!" ia hanya tersenyum.
Keheningan tercipta antara ketiga orang di dalam ruangan. Adik dari Mitsuki dan Revana masih asik bermain kejar-kejaran dan sekarang menuju luar ruangan.
"Ah, salam kenal Revana, Mitsuki. Maaf kalau merepotkan," ucap Reyn untuk memecahkan keheningan.
"Iya, maafmu diterima. Memang agak merepotkanku, seharusnya saat ini aku bersama ayah di kandang untuk menyikat. Kau bersama Revana saja, dadah," Mitsuki memutar bola matanya lalu pergi begitu saja menyisakan Reyn dan Revana.
Mata mereka saling bertemu. Revana memalingkan wajahnya malu.
"Um-, apa ada yang bisa... kubantu?" tanya Revana menggerakan jari-jemarinya. Ia saat ini tengah berdiri di sebelah tangga.
"Ah, terima kasih Revana. Namun, sepertinya aku tidak butuh apa-apa. Aku akan berkeliling sebentar untuk melihat-lihat peternakan ini. Bolehkan?" Revana mengangguk sambil tersenyum.
"Baik, terima kasih. Tak apa ku tinggal?"
Revana sempat melamun lalu dikagetkan oleh ucapan Reyn. "Eh-eh, tak a-pa. Iya," menunduk malu. Walaupun Mitsuki dan Revana ialah saudara kembar tetapi sifat mereka sangat bertolak belaka.
Sinar mentari yang sejuk masih dalam suasana pagi. Burung -burung berterbangan membentuk formasi berburu. Tak jauh dari peternakan ini ada sebuah sungai dengan kabel mengikuti alur sungai. Kalau tidak salah ini digunakan untuk kapal besar. Tepat dimana colossal Titan menghantam ditrik shiganshina tempat tinggal Eren, Mikasa, dan Armin sehingga para warga diungsikan menggunakan kapal tersebut. Pertanyaan terbesarnya ialah, saat ini ia berada di fase apa? Sebelum penghancuran tembok itu, setelah rumbling? Kurasa itu tidak mungkin. Tanah di tempat ini masih mulus dan jelas-jelas masih ada tembok di sini, kemungkinan terbesar ialah...
"Penghancuran pertama! Tapi bisa jadi tembok itu sudah hancur. Hanya saja keluarga ini belum mendapat informasi karena keterbatasan teknologi di sini. Entahlah, aku juga belum tahu dimana ini. Mungkin aku akan bertanya pada Revana," Reyn berjalan berbalik menuju dalam rumah.
Dalam perjalanan Reyn menemukan sebuah kalung tali dengan batu seperti kristal di tengahnya. Memasukannya ke dalam saku.
"Permisi, Revana. Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"
"Ah-iya, boleh saja Reyn. Ada apa?" menatap Reyn berusaha tersenyum.
"Apa nama daerah ini? Atau lebih tepatnya di bagian tembok mana ini?"
Revana sedikit kebingungan mendengarnya. "Apa... kau benar-benar tidak tahu akan hal itu?" Reyn mengangguk.
"Em... Peternakan ini berada di dalam tembok Maria. Posisinya agak berjauhan dengannya, tetapi kau masih dapat melihat tembok itu dari sini," jawab Revana. Reyn mengangkat kedua alisnya.
"Ada apa?" tanya Revana.
"Ah-, tidak apa... Hanya, apa kau tidak takut dengan ancaman mahluk raksasa di luar sana? Revana?" tanya Reyn berhati-hati.
Ia tersenyum dan menatap jendela di sebelahnya. "Sudah 100 tahun lamanya tempat ini aman dari serangan mahluk mengerikan itu. Kami hidup tanpa khawatir tentang hal itu. Keluarga kami bahkan belum pernah bertemu dengan raksasa itu. Kak Mitsuno yang bertugas sebagai polisi militer saja belum pernah melihatnya. Jadi, kami tidak terlalu memperdulikan itu."
"Kenapa!? Kenapa aku datang ke dunia ini dengan timming yang buruk!? Hahaha," lirih Reyn masih terdengar samar oleh Revana.
"A-apa? Maksudnya?"
"Dengar Revana! Sebentar lagi tembok ini akan diruntuhkan oleh raksasa itu. Kita harus segara lari dari tempat ini selagi sempat! Ayo ikut aku memperingatkan Mitsuki!"
"Apa mak-sudmu?" tangan Revana ditarik paksa oleh Reyn menuju luar rumah.
Reyn telah berada di depan Mitsuki. Mitsuki kebingungan mengapa ia menarik Revana ke sini? "Oi! Apa yang kau lakukan terhadapnya? Revana, jelaskan!" Revana hanya terdiam dalam keheranan.
"Kita harus segera pergi dari tempat ini bersama lainnya. Tembok Maria akan segera hancur!" jelas Reyn kepada Mitsuki dan ayahnya yang tiba-tiba muncul.
"Hah?! Apa kau gila? Tembok ini jelas bertahan 100 tahun lamanya dari mereka!" sela Mitsuki menunjuk wajah Reyn.
"Justru itu, kita saat ini sedang dalam situasi yang menghawatirkan! Sebentar lagi Titan setinggi 50 meter lebih akan menghancurkan tembok ini!"
"Kau benar-benar gila. Kak Mitsuno mengatakan bahwa Titan hanya setinggi 3-15 meter saja atau lebih, tidak lebih dari tinggi tembok! Jadi sebaiknya kau menyerah saja dengan imajinasinya itu!" Mitsuki kembali melanjutkan menggosok kuda.
"Tenang Reyn, semua akan baik-baik saja. Lagipula kami memiliki pasukan untuk menghalau mereka jika masuk sekalipun. Mereka sudah terlatih dengan baik untuk melawannya," ujar pria itu tersenyum.
Reyn mulai melepaskan pegangan tangan Revana. Semua orang di ini benar-benar tidak mengetahui kejadian setelah ini. Percuma saja, tidak ada yang peduli. Reyn berbalik menuju danau kembali. Kali ini Revana mengikutinya penasaran. Mitsuki yang melihatnya memutar matanya.
"Reyn, apa- yang kau maksud ucapannya tadi?" tanya Revana. Sebenarnya ia agak sedikit percaya dengan perkataan Reyn tadi, karena 100 tahun belum terjamah oleh raksasa itu justru ini adalah saat-saat yang genting.
"Kau tidak akan mempercayainya," menatap air danau yang tenang.
"Emm... Aku akan percaya...."
Reyn sedikit menoleh Revana." Apa kau yakin?" ia mengangguk.
"Apapun itu, kau terlihat seperti orang... ba-ik," menundukan wajahnya.
"Baiklah," menarik napas.
"Sebenarnya aku datang dari dunia yang berlainan dengan dunia ini, aku dari dimensi yang berbeda. Yah, kau tak akan mengerti. Pada intinya aku mengetahui segala peristiwa yang akan terjadi di dunia ini! Jadi, percayalah, Revana, tembok Maria akan runtuh beberapa hari kedepan!"
Revana membulatkan matanya."AP-PA! dunia... lain? Aku pernah membaca beberapa buku cerita tentang itu dari kak Mitsuno... Ternyata itu... Benar?! Apa kau tidak berbohong?!"
"Lihat saja, kau tidak percaya juga, kan?"
Hening sejenak, Revana tidak bisa berkata-kata lagi. Mungkin, orang yang didepannya ini berkata benar, Revana harus bercaya dengan perkataannya. Bagaimanapun juga raut wajah Reyn tidak berbohong, Revana tahu persis tentang hal itu.
"Tapi... Bagaiman aku harus meyakinkan mereka agar mau mengungsi? Mitsuki dan ayah tak akan mudah percaya pada hal seperti itu, tetapi mungkin saja, ibu," di dalam hati Revana mulai timbul rasa cemas dan khawatir tentang ucapan Reyn.
Satu alis Reyn terangkat. "Kita mulai dari itu. Sesegera mungkin kita harus melakukannya!"
•°°°•
"Benarkah, Reyn? Kalau begitu itu sangat mengerikan," ujar ibu setelah diberi pemaparan Reyn. Revana berada di sebelahnya. Ia terlihat antara percaya atau tidak percaya.
"Kebetulan nanti sore anak bibi yang menjadi polisi militer akan berkunjung ke sini. Mari kita tanya kepadanya."
"Ah, baik bibi. Terima kasih. Aku akan menunggu," Reyn berbalik menuju luar rumah menyisakan Revana dan ibunya. Tampak mereka mendiskusikan sesuatu.
Kembali menuju danau. Ia berpikir untuk menelusuri hutan dengan pepohonan raksasa itu. Dengan tenang menyusuri rerumputan cerah.
"Sangat cocok untuk menggunaka manuver 3d, ternyata dilihat dari dekat sangat menyeramkan."
Pohon menjulang setinggi 50-70 meter dengan diameter raksasa. Suara menyeramkan terkadang muncul memekakan telinga Reyn. Tanpa ia sadari, Revana telah berada di belakangnya.
Reyn membalikan badannya. "Kau mengagetkanku saja. Haha," ujarnya bercanda.
"Eh-eh? Maafkan aku...."
Reyn tersenyum simpul pada remaja seumuramnnya dengan rambut hitam pendek. Manik hijaunya dan senyuman manis di wajahnya mendambakan seseorang.
Keheningan tercipta beberapa detik. "Oh ya, aku menemukan kalung ini tadi di pinggir danau itu," menunjuk ke arah danau. "Apa ini milikmu?"
Revana memicingkan matanya, lalu tersenyum bahagia. "Itu kalung pemberian kak Mitsuno! Aku kehilangannya beberapa hari yang lalu dan takut dimarahi olehnya. Tetapi kau menemukannya, terima kasih. Boleh kuambil?" mengulurkan tangan kanannya.
"Ah jadi begitu, ambil saja. Ini memang milikmu," memberikan kalung kepada Revana.
Revana mengenakan kalung dengan perlahan, tampak cocok. Senyuman terukir diwajahnya.
"Kau ingin berjalan-jalan?" tanya Reyn tersenyum. Revana menganggukkan kepalanya. Tampaknya Revana menyukainya.
Waktu berlalu dengan cepat, Reyn dan Revana entah menjadi akrab dalam satu hari itu. Terkadang Mitsuki juga ikut bermain dengan mereka karena merasa bosan. Yah, mereka bertiga mulai berteman.
Kak Mitsuno tidak datang hari itu, melainkan keesokan harinya. Mereka sudah berdiskusi dengannya perihal hancurnya tembok Maria, tetapi kak Mitsuno mengatakan ia tidak mendapatkan kabar apa-apa tentang itu. Sejauh ini belum ada laporan raksasa setinggi itu. Sehingga ibu, ayah, Mitsuki, dan Revana mulai merasa tenang karena ucapan Reyn terbukti salah saat ini, hanya perasangka dugaan semata pikir mereka.
"Mungkin saja kau salah Reyn, kau salah melihatnya," ujar Revana memecah keheningan malam. Mereka berdua pergi keluar setelah makan malam untuk melihat pemandangan kunang-kunang yang memukau. Reyn hanya terdiam memandang takjub.
"Esok kuakan pergi dari tempat ini. Apapun yang terjadi. Revana, maukah kau ikut denganku? Ini demi keselamatanmu.
Revana tertegun. "Ma-af, Reyn. Aku tak bisa meninggalkan keluargaku di sini."
°•••°
Pagi hari yang cerah, embun bertengger pada dedaunan pohon raksasa itu. Angin sejuk, atau bahkan dingin menyelimuti rumah kecil di daerah terpencil.
"Selamat tinggal semua, terima kasih atas semua ini. Aku pamit," berjalan menjauh dari peternakan itu.
"Biarlah, aku tak memperdulikan lagi," lirih Reyn.
Beberapa hari berlalu sejak keeprgianya. Tembok Maria benar-benar dihancurkan. Keluarga di sebuah peternakan tidak mengetahui informasi tersebut baru tahu ketika kapal-kapal besar berkelana menyusuri sungai. Naik ke kapal pun percuma, kapal tidak akan berhenti sebelum tiba di tujuan. Dari kejauhan para raksasa berjalan mendekati rumah tersebut. Titan setinggi 2-15 meter memberikan aura ketakutan bagi keluarga itu. Mereka menyesali tidak mengambil peringatan Reyn.
Mata biru milik Mitsuki melihat semua kejadian mengerikan. Kejadian dimana satu keluarganya dimakan hidup-hidup oleh para raksasa. Ia berhasil kabur menaiki kuda satu-satunya. Sambil menangis dan sesak berguncang di atas kuda berlari cepat berdampingan dengan kapal besar.
•°°°•
Beberapa hari semenjak kejadian itu para pengungsi distrik shiganshina dan tembok Maria mengungsi ke tembok yang lebih dalam.
"Lihat, ini semua benar-benar terjadi. Aku ingin melihat wujud Titan dari dekat dan bertemu, Eren, Mikasa, dan Armin. Kalau begitu, aku akan memasuki survey corps. Namun, sepertinya mereka ada di dalam distrik ini. Biar kucari!" Reyn mulai berkeliling. Tanpa disangka ia bertemu dengan Mitsuki, wajahnya tersirat suram, sedih, marah, campur aduk. Mitsuki tengah mengantri untuk mendapatkan sebuah roti.
Reyn menepuk pundak Mitsuki. Ia menoleh. Namun, tiba-tiba Mitsuki tampak sangat marah kepada Reyn. Alhasil Reyn mendapat pukulan sempurna di wajahnya. Dua kali dari Mitsuki.
"HEI! KEMANA KAU! KAU TINGGALKAN KAMI BEGITU SAJA! SEMUA KELUARGA KU MATI MENGENASKAN!" teriak Mitsuki berbarengan dengan bilur air mata deras.
"Dasar! Orang dari mana kau tau-tau hal itu! Hiks..." suaranya melemah terisak.
Reyn memegang pundaknya, lalu memeluknya membiarkan larut dalam kesedihan. "Aku turut... Berduka."
°•••°
Beberapa tahun berlalu di dunia anime. Reyn dan Mitsuki hidup bersama di sebuah gubuk yang mereka buat sendiri di dalam tembok rose. Reyn bekerja serabutan di dalam distrik.
Ia berhasil bertemu dengan Eren, Mikasa, dan Armin sewaktu pemilihan kandidat pejuang. Namun, Reyn gagal dalam test.
Hari ini ia tengah berjalan-jalan untuk mencari pekerjaan di sana, Mitsuki ikut bersamanya. Secara kebetulan ia melihat banyak dari kandidat terpilih berada di atas tembok, tampak sedang membersihkan/membenarkan meriam.
Reyn terpikir sesuatu. "Tunggu, tunggu! Bukankah ini..." membulatkan matanya tanpa pikir panjang ia segera lari menjauh dari pintu masuk distrik dengan menarik tangan Mitsuki. Momen ini adalah penghancuran tembok ke-2 oleh colossal Titan!
DUAR!
Reyn dan Mitsuki berlindung dari pentalan batu. Berlindung dibalik rumah. Namun, tampaknya nasib Reyn kurang beruntung, ia terhimpit oleh batu besar yang berhasil lolos.
"REYN!! ASTAGA!" teriak Mitsuki panik.
Bilur air mata mulai mengalir. Wajahnya terkena cipratan darah setengah tubuh Reyn.
"Argh! Sial! Sakit sekali..." Reyn mengernyit kesakitan. Mitsuki berusaha sekuat tenaga memindahkan batu tersebut, tetapi sia-sia, tidak bergerak sedikit pun.
"CUKUP MITSUKI! CEPAT LARI TANPAKU! DI SANA ADA RAKSASA ITU! LARI!" teriak Reyn. Sungguh bingung, Mitsuki akhirnya putus asa, ia menuruti perintah Reyn. Sebelum pergi Mitsuki mencium kening Reyn sambil terisak.
"Pe-gang kalung i-ni... Pegang... Revana menitipkan-nya kepadamu. Tolong, ambilah. Terima kasih atas usahamu selama ini membantuku. Terima-kasih," lirih Mitsuki dengan menahan isak tangis. Bilur air mata terus membasahi. Ia segera berlari mengikuti kerumunan orang-orang. Sesekali melirik ke arah Reyn yang tersenyum. Ya Tuhan!
Reyn mengangkat kalung kristal ini.
FLASH BACK ON⏳
"Kalung ini adalah pertanda sebuah ikatan yang kuat. Seperti batu kristal ini, didapat dari sumber kekuatan manuver 3d, kak Mitsuno mengatakannya."
"Suatu saat aku akan memberikan ini kepada orang yang kusayangi, sebagai simbol ikatan yang kuat," ujar Revana di keheningan malam.
"Benarkah?"
"I-ya. Ee-eh mengapa aku mengatakan hal memalukan itu!" Revana memalingkan wajahnya yang memerah
"Hahaha... Yasudah semoga berhasil. Mari kita masuk ke dalam, di sini terlalu dingin."
FLASH BACK OFF ⌛
"Revana... Kau ini, benar-benar...." pandangan Reyn mulai memudar, langkah Mitsuki mulai menjauh dan semakin buram, buram, dan gelap.
°•••°
Di sebuah ruangan kamar yang sejuk karena hawa pendingin ruangan. Reyn terduduk di depan pintu kamar mandi. Matanya terpejam dan perlahan membuka matanya.
"Eh... Apa yang terjadi?" ujar Reyn seperti tidak terjadi apa-apa. Yap, ingatan tentang dunia tadi lenyap. Ia mengangkat tangan kanannya.
"Kalung? Sejak kapan aku memiliki kalung? Kalung siapa ini?"
Mungkin untuk saat ini ia tidak dapat mengingat semua kejadian yang telah berlalu. Namun, Ia dapat merasakan sesak dan sedih melihat kalung kristal itu. Bilur air matanya menetes tanpa tahu pasti, apa yang ia pikirkan?
TAMAT
Terima kasih sudah membaca! Jaga kesehatan, ya!