Kisahnya berawal ketika Sarah masih duduk di bangku SMA. Ia kadang mendapatkan rundungan dari teman-temannya karena terlalu pintar.
Bahkan mereka semua melakukan hal jahat demi menjatuhkan Sarah sampai beasiswa yang dimilkiknya tercabut.
'Apa yang harus aku lakukan sekarang?' gumam Sarah saat hendak pulang ke rumahnya.
Sarah tinggal sendiri di apartemen loteng yang hanya cukup satu kasur kecil lemari kecil dan rak sepatu seadanya.
Sedangkan kompor kulkas dan yang lain, selalu berada di sudut kamar tidak berubah.
"Huh ..." hembusan nafas berat yang ia keluarkan.
Bruk ...
Sarah menjatuhkan tubuhnya di atas sebuah kursi taman dekat apartemennya sembari menunduk dan mengacak-acak rambutnya.
Di tempat lain ada sepasang-sepasang mata mengintai Sarah.
"Apa dia yang beranama Sarah?"
"Iya, dia yang bernama Sarah tuan."
"Apa yang terjadi? Cari tau secara rinci tentang dirinya."
"Baiklah tuan."
'Kenapa mamah selalu mendesak diriku untuk menemuinya? Apa karena ayahnya pernah menanam saham ke perusahaan kami?' umatnya dalam hati.
"Huh ... sudahlah ayok kita lebih semangat lagi Sarah!" ucapan Sarah menyemagati dirinya sendiri.
"Aku harus mencari kerja pokoknya," ujar Sarah kembali lagi berjalan ke apartemen.
Grek ...
"Aku pulang," ucapan itu selalu ia berikan saat dirinya memasuki rumah.
Tek ... Bruk ...
'Huh ... tubuhku lega sekali rasanya.'
Begitulah ungkapan Sarah ketika tubuhnya di baringkan ke kasur kecil tercinta.
Gryuuk .... ~ Suara perut Sarah.
'Astaga aku lapar ya?'
"Mari kita lihat apa yang ada di kul-"
"Kas ..."
Nada suaranya melirih saat melihat ke dalam kulkas. Tidak ada apa-apa, kosong begitulah bentuknya.
Hanya ada sebotol air mineral saja dan sebotol kecap.
"Huh .... andai aku menemukan orang yang memegang saham ayah. Mungkin aku tidak akan sesengsara ini."
"Sudah, sudah besok kita akan cari pekerjaan ayo semangatlah Sarah!"
Keesokan harinya.
Tring ....
"Selamat datang ada yang bisa aku bantu?"
"Hmm, aku ingin bertanya apakah disini ada lowongan kerja?"
"Maaf nona, kami sudah full."
~▪︎~
Tring ....
"Permisi apakah disini menyediakan lowongan kerja?"
"Maaf sedang tidak ada."
~▪︎~
Tring ....
"Permisi, aku ingin membeli mie instan satu."
"Baiklah silahkan menunggu."
Sarah sudah frustasi akan semua impian nya, bahkan semangatnya pun sudah usang dan hilang.
"Huh ...."
"Ayok cepat-cepat, kita masih ada 2 pesanan yang harus di antar ke blok H. Jadi jangan mengecewakan mereka tau."
"Iya siap."
"Hah ... andai saja aku lebih banyak karyawan," gumam pemilik toko.
'Huh? Mereka membutuhkan karyawan. Apa ini akhirnya untuk ku mendapat pekerjaan?' ucap Sarah dalam hatinya.
Sarah pun mulai mendekati pemilik toko yang berada di kasir. Sembari memasang raut wajah lesu ia hanya bisa menunduk pasrah.
"Hmm, permisi?"
"Oh, iya apa yang kau pesan tadi?"
"Hmm bukan, bukan, pesanan ku belum datang."
"Apa pesanannya belum datang dasar!"
"Hmm tuan, tuan, aku hanya ingin bertanya apa kalian membuka lowongan kerja?"
"Hah? Kau ingin bekerja?"
"Iya, aku sedang butuh pekerjaan demi sekolahku."
"Syukurlah, kau di terima kerja hari ini dan kau boleh melakukan pekerjaanmu besok."
"Kalau boleh tau aku di bagian mana ya?"
"Lihat saja besok."
Perasaan senang, bahagia, sekarang menjadi miliknya. Sarah tidak mengka kalau dirinya akan mendapatkan sebuah pekerjaan walau gaji yang ia dapat tidak terlalu besar.
Selama di perjalanan, Sarah melihat seseorang tertunduk di tempat ia biasa menunggu. Sembari memegangi perutnya.
'Apakah dia kelaparan?' tanya Sarah dalam hatinya.
'Tapi aku juga? Bagaimana ya?'
Tap ... tap ....
"Permisi?"
"Iya?" jawaban serak dari orang itu.
"Apa kau lapar?" tanyanya lagi.
"Iya."
"Ini aku ada sedikit kelebihan makanan. Mungkin kau mau menerimanya," ucap Sarah langsung memberikan bungkus plastik yang ada di tangannya.
"Terimakasih nona, terimakasih."
Di tempat lain.
"Kau lihat kan tuan, dia lebih mementingkan orang lain di banding dirinya sendiri."
"Iya, dasar wanita ini. Bawa dia kehadapanku."
"Bukankah kau ingin makan malah di Resto Star bersama tamu penting mu?"
"Kau saja yang datang. Aku ingin makan malam bersamanya di Resto milikku sendiri."
"Baiklah tuan."
Penculikan Sarah pun di mulai. Dengan baju seadanya dan tanpa make up, Sarah akhirnya sampai tepat di hadapan seorang CEO dingin nan berbahaya.
'Ada apa? Apa aku menyinggungnya? Apa aku dalam bahaya sekarang?' pertanyaan demi pertanyaan terlintas dalam benak Sarah.
"A-ada apa tuan? Apa aku pernah menyinggung mu?"
"Tidak, aku hanya ingin makan malam bersamamu. Jadi makanlah."
'APA? Apa ini sebuah bencana atau rejeki yang aku dapatkan?' pertanyaan syok muncul kembali.
"Makanlah atau rumahmu akan ku lenyapkan."
"Eh? I-iya aku akan makan."
Selama makan malam bersama, hanya ada keheningan dan suara garpu, sendok terhentak di piring.
Sesuatu yang mengganjal di hati CEO ini pun terungkap walau masih di dalam benaknya.
'Jadi ini alasan mamah ingin aku mengenalnya, sepertinya dia akan berbeda dari wanita yang lain.'
~▪︎~
Makan malam pun selesai, semburat senyum bahagia terlihat jelas di wajah Sarah. Entah sudah berapa lama ia tidak makan makanan seenak ini.
"Terimakasih kasih atas makanannya tuan, aku benar-benar berhutang budi padamu."
"Nama ku Joy senang bisa bertemu denganmu."
"Iya, iya. Senang bertemu denganmu tuan Joy."
"Mulai hari ini, aku akan menjadi wali mu untuk melanjutkan sekolahmu."
'HAH? BAGAIMANA TUAN JOY BISA TAU?'
"Tidak perlu bertanya mengapa, kau akan melanjutkan sekolah besok."
Sarah hanya terdiam, banyak kebahagiaan yang muncul di hari ini. Entah karena ia melakukan kebaikan atau memang tuhan memberkati dirinya.
Sejak saat itu tuan Joy dan Sarah tinggal di rumah yang sama, karena permintaan langsung dari tuan Joy dan semua orang di sekolah tak mampu membicarakan dirinya lagi.
Jika sampai ketahuan ada yang membicarakan Sarah, maka tuan Joy tidak akan sungkan mengeluarkannya dari sekolah ini.
- END -