Nia duduk di bangku sebuah taman bersama Wisnu, pemuda yang setahun ini menjadi kekasihnya.
Wisnu, pemuda dari keluarga kaya yang terlihat jelas dari penampilannya yang necis dan trendi. Sedangkan Nia hanya gadis sederhana, namun memiliki paras dan kepribadian yang mampu meluluhkan hati Wisnu.
Saat itu, raut wajah keduanya tampak sendu. Keduanya banyak terdiam, atau berdebat jika mulai berbicara.
"Maafin aku Nia, aku nggak bisa lanjutin hubungan kita. Maaf kalo selama ini aku banyak salah sama kamu." ucap Wisnu, menyiratkan jika ingin mengakhiri hubungan mereka.
"Kenapa sih, Nu? Apa yang salah? Bukannya selama ini kita baik-baik aja??" desak Nia, tak habis pikir dengan keputusan yang diambil Wisnu secara sepihak itu.
Wisnu tertunduk, lalu mendongak ke langit untuk menahan air mata yang sudah hampir luruh. Ia menghela napas dalam, lalu mengeluarkan ponselnya dari saku. Alunan lagu mulai terdengar lirih dari playlist ponsel Wisnu.
"Ngapain kamu nyetel lagu itu saat begini??" tukas Nia, kesal.
Wisnu menoleh dan menatap Nia dengan dalam, "Aku mau dengerin lagu kenangan kita ini sama-sama, mungkin untuk terakhir kalinya." ucapnya sambil terus menatap Nia sambil tersenyum penuh arti.
"Itu lagu bahagia kita, Nu. Nggak cocok didengerin sekarang."
"Supaya perpisahan ini, nggak terlalu menyakitkan buat kita." timpal Wisnu, beralasan.
"Wisnu, tolong bilang apa alasannya sampe kamu mau kita pisah? Apa kamu udah ada gadis lain? apa karena aku cuma gadis biasa yang nggak pantes buat kamu?"
"Mungkin kamu nggak perlu tau. Tapi yang jelas, keputusanku ini nggak merubah perasaanku ke kamu. Aku pamit. Jaga diri kamu ya?" Ujar Wisnu seraya bangkit dari tempat duduknya dan beranjak. menjauh dari Nia, tanpa menoleh sekalipun.
Wisnu tampak semakin menjauh hingga sudah berada di tepi taman, dan hendak menyeberang di jalan. Nia yang merasa terluka pun berujar lirih, "Aku nggak mau denger lagu itu lagi, dan nggak mau ketemu kamu lagi, Nu!"
Nia beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke arah yang berlawanan dengan Wisnu, mereka saling membelakangi.
Namun baru beberapa langkah Nia berjalan, ia mendengar suara orang berteriak dari arah belakangnya.
"AWAS ... !!!"
Dan beberapa detik kemudian terdengar suara rem mobil yang berdecit sangat kencang seakan mencoba menghentikan laju kendaraannya sebisa mungkin.
BRAAAKKK
Suara hantaman terdengar begitu keras. Rupanya, si pengendara tersebut gagal mengendalikan laju kendaraannya hingga menabrak sesuatu.
Nia tersentak kaget dan langsung menoleh ke arah sumber suara. Matanya terbelalak saat melihat keadaan yang kacau mulai terjadi.
Gadis manis berlesung pipi itu memicingkan mata, coba mempertegas pandangannya. Seketika jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat beberapa orang menggotong sesosok tubuh yang memiliki ciri dan berpakaian persis dengan yang dipakai Wisnu.
Dengan segera, Nia mendekati keramaian itu dan menyibak kerumunan manusia di sana. Alangkah terkejutnya ia ketika apa yang tidak ia harapkan justru adalah sebuah kenyataan. Bak disambar petir di siang bolong, Nia terduduk lemas menatap tubuh terkulai bersimbah darah yang sudah berhasil dievakuasi itu.
"Wisnu ...!!!" pekik Nia, histeris.
"Mbak kenal sama korban?" tanya salah seorang yang ikut mengevakuasi jasad Wisnu.
Nia hanya mengangguk sambil terus terisak dan meratapi tubuh pemuda tercintanya yang terluka sangat parah, hingga harus meregang nyawa di lokasi kejadian.
"Mbak, ini HP korban. Tadi terpental, sempat terlindas ban mobil itu juga." ujar seorang lainnya yang menemukan HP milik Wisnu yang memang masih digenggamnya saat kejadian.
Polisi pun didatangkan ke lokasi untuk mengurus segala sesuatunya.
*
Nia datang di acara pemakaman Wisnu keesokan harinya. Ia pun mendatangi ibu Wisnu yang terduduk dengan tatapan kosong.
"Saya sangat berduka cita, Bu. Saya tidak menyangka kalau Wisnu akan pergi secepat ini." ucap Nia, diiringi isak tangis.
"Wisnu anak baik, dia menuruti kemauan saya. Dia mau meninggalkan kamu, tapi ... dia pergi terlalu jauh." sahut ibu Wisnu sambil menatap Nia dengan tajam.
Nia tertunduk, hatinya terasa semakin pedih karena mengetahui kenyataan pahit yang seharusnya ia tahu sejak awal. Ia pun pamit pulang setelah meminta maaf karena sudah mencintai Wisnu.
*
Malam harinya, Nia belum bisa terlelap. Air mata masih saja mengalir deras dari kedua pelupuk matanya hingga sembab. Masih jelas terbayang saat-saat terakhirnya dengan Wisnu. Sikapnya memang sudah mulai menjauh, tetapi rasa cintanya masih begitu menyentuh di hati Nia. Akhirnya, Nia pun tertidur karena lelah terus meratap dalam diam.
Namun, tidurnya yang baru terasa sekejap itu harus terganggu oleh dering ponsel yang lupa ia senyapkan.
Gadis yang sedang nelangsa itu terbangun dengan matanya yang sembab. Tangannya meraba-raba kasur tempatnya meletakkan ponsel sebelum tidur, lalu mengambil ponselnya.
"Nomor siapa nih?" gumamnya sambil memicingkan mata menatap ke layar ponsel.
Ia melihat ke arah jam dinding, pukul 23.55 WIB.
"Ah, tengah malam begini siapa sih yang iseng?" Ia pun memilih untuk tak mempedulikan, karena mengira itu hanya orang iseng yang tak tahu aturan.
Namun panggilan itu terus saja masuk hingga membuatnya terganggu. Dengan malas, Nia pun menerima panggilan asing itu.
"Halo?" ucapnya dengan suara serak, khas orang bangun tidur.
Tak ada sahutan, namun perlahan Nia mendengar alunan suara yang sangat familiar di telinganya, lirih dan kemudian semakin jelas.
Nia terkesiap, "Lagu ini ...." suaranya tercekat, benaknya sontak kembali ke masa-masa indah bersama Wisnu.
Ia terus mendengarkan alunan indah lagu yang menjadi kenangan saat ia dan Wisnu berikrar menjadi sepasang kekasih, tetapi lagu itu juga yang terdengar saat mereka berpisah.
Nia bak tersadar dari hipnotis, ia buru-buru mengakhiri telepon itu dengan perasaan yang tak karuan. Perlahan, bulu kuduknya meremang. Ia menoleh ke arah jam dinding untuk kedua kalinya, pukul 00.00 WIB.
Ia berniat untuk kembali tidur, dan tak lupa untuk mengaktifkan mode senyap ponselnya. Namun, tiba-tiba layar ponselnya mendadak mati dengan layar yang hanya menampilkan warna hitam.
Nia heran, ia berpikir jika ponselnya sedang ada masalah teknis. Ketika ia hendak meletakkan lagi ponselnya, tiba-tiba di layar muncul tulisan berwarna putih bertuliskan :
IKHLAS LAH DEMI AKU, JANGAN MENANGIS TERUS. DENGARKAN LAGU KENANGAN KITA KALAU KAMU RINDU AKU..
Mata Nia terbelalak tak percaya dengan tulisan yang mendadak muncul di layar ponselnya itu.
Jantungnya berdegup kencang, semilir angin tiba-tiba menyusup ke dalam kamarnya yang tanpa jendela. Lagi-lagi, bulu kuduknya meremang. Pandangan mata Nia perlahan kabur, semua mendadak gelap. Nia, pingsan.
T A M A T
~∆~
{ Ini hasil menghalu aku semalam, tapi baru diketik sebagian karena membayangkan kejadiannya jadi takut sendiri. 🤭 Jadi baru dilanjut pagi ini 😅. Semoga kalian terhibur ya 😊 }