Masih ingat cerita tentang "Mirror mirror on the wall?", ya itu adalah salah satu kalimat yang aku ingat tentang cerita Snow White.
Ada satu lagi, film horor berjudul Mirror yang dibintangi oleh artis terkenal Nirina Zubir, kedua cerita yang aku sebutkan tadi berhubungan dengan cermin.
Cermin menurut aku adalah benda ajaib yang bisa merefleksikan diri kita seutuhnya. Cermin dapat memberikan penilaian pada diri kita pada saat itu juga. Ajaib bukan? dan satu yang pasti kita membutuhkannya setiap hari, selain untuk meningkatkan kepercayaan diri kita cermin juga sekaligus dapat menghilangkannya sekaligus.
Misalnya apabila ada komedo di wajah kita, atau kantung mata yang bergelayut dengan indahnya dibawah mata, dan lemak yang menumpuk di bagian tertentu di tubuh kita gara-gara kita kurang berolahraga, maka cermin akan memperlihatkannya dengan sempurna di depan mata kita, bukankah hal itu akan menghilangkan rasa percaya diri kita pada saat itu juga. Jangan lupa mata adalah penilai terbaik mengenai hal itu.
Pernah memasuki rumah kaca?, aku sejujurnya belum, tapi karena aku adalah penggemar film horor, aku sering menonton film horor dengan adegan pembunuhan di rumah kaca.
Didalam rumah kaca kita bisa menemukan banyak cermin yang bisa merefleksikan gambar kita dalam berbagai bentuk, bisa terlihat tinggi , pendek, gemuk, kurus, pokoknya terlihat lucu.
Tapi ada satu anak yang saat ini sangat membenci kaca terutama cermin. Dan bisa dipastikan dirumahnya kita tidak akan menemukan benda ajaib itu di dalamnya.
Namanya Rania. Seorang anak gadis berusia 19 tahun, dia hidup sendiri di sebuah rumah peninggalan orang tuanya. Rumah itu terletak di kota yang terkenal dengan hasil lautnya.
Orang tua Rania adalah penyumbang devisa bagi negaranya. Pekerjaan sebagai TKW, membuat mereka terpaksa meninggalkan anak satu-satunya itu.
Dan karena ketidaksukaannya terhadap cermin membuat tidak ada satupun saudara yang mau menemaninya tinggal di rumah itu.
Rania bukanlah gadis yang penakut, kakeknya adalah guru pencak silat terkenal di kota itu, dan tentu saja Rania juga menguasai bela diri sama dengan kakeknya.
Apa sebab Rania tidak menyukai cermin?, itu karena ia dapat melihat hal menakutkan yang tidak dapat dilihat orang lain melalui cermin.
Kemampuan yang tidak biasa itu ia dapatkan disaat umurnya 7 tahun, selama sebulan badannya panas tinggi, keluarganya panik terutama kedua orang tuanya. Anehnya dokter tidak dapat mendeteksi adanya penyakit ditubuhnya, orang pintar di kotanya juga angkat tangan.
Setelah sebulan, demam di tubuhnya hilang dengan sendirinya. Dan sebagai gantinya ia mempunyai kemampuan yang tidak biasa tersebut.
Dalam ingatannya, ia terbangun dari tidurnya pada suatu malam, perasaan gelisah menghantuinya, secara perlahan ia turun dari tempat tidurnya menuju ke dapur untuk mengambil segelas air putih, biasanya ia tidak pernah seperti itu, tapi pada saat itu tenggorokannya terasa terbakar.
Untuk berjaga-jaga apabila ia merasakan haus lagi, ia membawa satu teko kecil air putih beserta gelas ke kamarnya. Setelah meletakkan teko itu di samping tempat tidurnya, ia kembali tidur.
Kembali gelisah menghantui dirinya, kali ini sebuah nafas halus terdengar, " sssiiaappaa ddii sssaannaa*, dengan tergagap ia bertanya, tubuh kecilnya bergetar hebat, mau lari ke kamar kedua orang tuanya ia tidak sanggup, kakinya terasa lemas.
Satu-satunya cara adalah menutupi sekujur badannya dengan selimut. Rania kecil pun tertidur.
Pagi harinya ia menceritakan kepada kedua orang tuanya tentang kejadian semalam, ayah dan ibunya hanya mengatakan itu adalah suara angin, karena memang semalam angin diluar rumah begitu kencang.
Pada hari berikutnya, Rania selesai mandi pagi sambil menyisir rambut melihat ke arah cermin yang terletak di samping tempat tidurnya, pertama hanya terlihat wajah mungilnya yang sedang menyisir rambut tapi tak berapa lama terlihat sebuah sosok perlahan-lahan mendekati dirinya.
Seorang wanita yang memakai baju berenda warna putih, pertama wajahnya terlihat tidak jelas lalu lama kelamaan wajah itu menampakkan senyum yang mengerikan, Rania kecil menoleh kebelakang, tidak nampak wujud apapun di sana, ketika ia kembali melihat cermin, wanita itu semakin mendekati dirinya, Rania berteriak kemudian pingsan.
Teriakan Rania terdengar oleh kedua orang tuanya, melihat anaknya pingsan mereka membawanya ke rumah sakit, seperti sebelumnya dokter masih mengatakan bahwa Rania baik-baik saja.
Kejadian itu terulang lagi keesokan harinya, Rania selalu histeris apabila melihat kaca, akhirnya semenjak saat itu semua kaca yang dapat memantulkan bayangan dienyahkan dari rumah itu.
Setelah beranjak remaja, Rania tetap berhati-hati, dia selalu menghindari melihat kaca.
Hari kelulusan tiba, dua hari lagi akan ada acara hari wisuda, Tantenya Rania yang mempersiapkan semua keperluan Rania termasuk membawa Rania ke salon untuk dirias.
Pada saat hari wisuda jam 6.30 pagi Riana sudah berada di salon, Rania karena bahagia, dirinya melupakan hal yang selama ini ia hindari, ketika ia mulai dirias ia menatap cermin, sebuah kekuatan besar menariknya ke dalam cermin, Rania berteriak dan ambruk.
Ketika ia terbangun, ia mendapati dirinya disebuah rumah yang bergaya Belanda, terdengar percakapan dengan bahasa yang tidak ia mengerti.
Beberapa orang bercakap-cakap sambil memegang gelas dengan isi air yang berwarna merah.
Sesekali mereka tertawa, Rania berdiri dan mendekati mereka, tapi sepertinya tidak ada satupun yang menyadari keberadaannya. Rania mencoba berbicara tetap saja ia sepertinya tidak terlihat.
Langkah kakinya menuntun ke suatu tempat, disebuah kamar terdengar isak tangis seorang perempuan, Rania memasuki kamar itu, ada seorang wanita memakai baju putih berenda sedang menutup kedua matanya, Rania berjalan mendekatinya, apa yang terjadi kemudian adalah wanita itu menatapnya dan berkata," akhirnya kau datang juga, aku akan memperlihatkan padamu sesuatu".
Suasana berubah, ia sekarang berada disebuah rumah yang lumayan besar, lagi-lagi ia mendengar sebuah percakapan.
"Pokoknya Ibu tidak setuju kamu menjalin hubungan dengan perempuan Belanda itu, Ibu sudah menjodohkan kamu dengan anaknya Winarni, sahabat Ibu", kata seorang wanita yang memakai kebaya. Dihadapan wanita itu duduk seorang laki-laki dengan wajah tertunduk.
"Tapi Bu, Elisabeth sedang mengandung anakku", jawabnya lirih.
"Ibu tidak peduli, pasti perempuan itu yang menggoda dirimu duluan, putuskan hubunganmu dengannya, bersiap-siaplah, malam ini calon mertuamu akan datang bersama anak gadisnya", kata wanita itu sambil berlalu.
Lelaki itu mengangkat wajahnya, Rania membeku ditempat, wajah itu adalah wajah kakek buyutnya semasa muda.
Kembali lelaki itu terlihat cemas," bagaimana ini? aku sudah berjanji kepada Elisabeth untuk bertemu di tempat biasa".
Kembali Rania berada di tempat yang berbeda, saat ini hari sudah malam, ia berdiri disebuah hutan, lalu ia melihat sesosok bayangan mendekat, ternyata sosok tersebut adalah Elisabeth, ia terlihat gelisah, waktu berlalu, orang yang ditunggunya belum juga datang.
Rania yang berada di samping Elisabeth juga ikutan cemas, bagaimana tidak, Rania tahu yang ditunggu Elisabeth adalah kakek buyutnya.
Terdengar langkah kaki mendekat, Elisabeth dengan suara yang gembira mendekati langkah kaki itu, awal bencana dimulai, ternyata yang datang itu adalah tiga orang pribumi, melihat ada seorang wanita keturunan Belanda berada di tengah hutan, jiwa buas mereka datang, dengan biadab mereka menyakitinya, setelah itu membunuhnya dan memasukkan tubuh wanita itu kesebuah sumur yang tidak terpakai, sumur itu lalu mereka tutup dan diatasnya diletakkan sebuah batu yang lumayan besar.
Rania yang sedari tadi menutup matanya karena tidak sanggup melihat semua itu, menangis histeris. Tega sekali mereka.
"Bagaimana?, hehe.., Rania, kamu lihat apa yang sudah keluargamu lakukan padaku?, aku menanggung semua rasa sakit itu sendirian, sementara kakek buyut mu bersenang-senang, kau tahu?, gara-gara aku menghilang, Mommy ku menjadi gila, dan Daddy meninggal pada saat itu juga karena serangan jantung. Kali ini aku tidak mau sendirian lagi, aku akan membawamu bersamaku berada ditempat gelap dan lembab", kata Elisabeth.
"Tapi mengapa harus aku, apa salahku?", tanya Rania sambil ketakutan.
"karena....wajahmu mirip sekali dengan wajah Nenek Buyut mu, wanita yang pada akhirnya mendampingi Ayah dari anakku", jawabnya sambil menyeringai.
"Tidaaaak!", teriak Rania.
😱TAMAT😱