"Terima kasih, Alicia. Kamu bersedia menikah denganku." Johnny berkata dengan mata berkaca-kaca.
Alicia mengangguk dan tersenyum manis. Wanita itu menunduk dan berbisik di telinga kanan Johnny, "Bukankah aku adalah Nyonya Bloom yang sangat cantik?"
Giliran Johnny yang mengangguk dan tersenyum simpul.
"Definitely, ma'am!" Ucap Johnny.
"Aku tidak sempurna, Alicia..." Suara Johnny terdengar bergetar.
Alicia mendekati Johnny dan memeluknya dengan hangat.
"Tapi kau membuat hidupku kini jadi sempurna." Ucap Alicia lembut.
Johnny merasa terharu mendengar ucapan istrinya.
"Sebentar ya, aku akan membuatkan sesuatu untukmu..." Alicia mengedipkan sebelah matanya dan berjalan ke arah dapur.
Johnny tersenyum melihat tingkah istrinya yang menggemaskam. Ia kembali bersantai di ruang keluarga, menikmati acara favoritnya di TV.
Sudah lebih dari seminggu Johnny Bloom dan Alicia Gray menikah. Johnny sangat senang mendapati Alicia merasa begitu bahagia tinggal di rumah mereka yang sederhana di tepi kota.
Johnny adalah seorang pria yang cukup tampan dan baik hati. Dia bisa dikatakan memiliki kehidupan yang nyaris sempurna sebelum sebuah tragedi besar mengubah seluruh sisi hidupnya.
Sebuah kecelakaan lalu lintas menimpa dirinya beberapa tahun yang lalu dan mengakibatkan kerusakan syaraf di tubuhnya.
Berbagai tindakan medis dan proses terapi diberikan untuk mengembalikan kondisi Johnny seperti semula. Namun sayang, Johnny pada akhirnya harus rela menerima kenyataan kedua kakinya tidak dapat digerakkan seperti biasanya.
Sejak saat itu, Johnny harus menggunakan kursi roda agar bisa bergerak dan melakukan aktivitas. Teman-teman terdekatnya mulai menjauhinya. Bahkan kekasih yang sangat dicintainya meninggalkan dirinya beberapa bulan setelah itu.
Johnny merasa hatinya hancur. Dia kecewa dengan takdir buruk yang menimpa dirinya. Mood-nya semakin memburuk hari demi hari, hingga membuat dia kehilangan pekerjaan. Dia diberhentikan oleh atasannya. Perusahaan besar tempat Johnny bekerja tidak berminat memperkerjakan pria difabel seperti dirinya.
Johnny berputus asa. Dia mulai mengasingkan diri, membeli sebuah rumah sederhana di tepi kota dengan uang sisa tabungannya. Dia menikmati hari-harinya yang sepi di sana.
Sekali-kali adiknya, Venna, datang berkunjung ke sana. Venna sudah menikah dan memiliki seorang putra. Kehadiran Venna, suami dan putranya, membuat hidup Johnny sedikit berwarna.
Suami Venna sering berdiskusi dengan Johnny. Mereka membicarakan banyak hal. Hingga pada suatu pagi yang cerah, Johnny mendapatkan ide cemerlang untuk mengembangkan keahliannya dalam bidang fotografi.
Dalam waktu singkat, hobi yang terus ditekuni Johnny berbuah menjadi peluang bisnis yang besar.
Suami Venna juga menyarankan Johnny membuat channel YouTube khusus tentang fotografi.
Johnny kemudian berfikir keras untuk membuat content tentang dunia fotografi namun dari sisi yang berbeda dari kebanyakan. Voila! Dalam waktu beberapa bulan, hasil kerja keras Johnny membuahkan hasil.
Channel YouTube Johnny mampu meraih ratusan subscriber. Johnny menjadi semakin bersemangat, ia kemudian mengembangkan bisnisnya melalui berbagai akun social media lainnya.
Pada akhirnya Johnny bisa mendapat insentif bulanan yang besar melalui bisnis fotografi online yang digelutinya. Pria difabel itu juga mulai sering diundang pada event besar dunia fotografi. Tidak jarang ia juga menjadi narasumber pada seminar-seminar fotografi internasional dengan bayaran yang memukau.
Subscriber terus bertambah hari demi hari. Johnny sudah dua kali mendapatkan penghargaan khusus dari YouTube.
Pada akhirnya takdir kembali bekerja, atas perintah Tuhan, ia dipertemukan dengan seorang gadis cantik yang ramah dan ceria.
Mereka bertemu tanpa sengaja pada sebuah pameran fotografi di kota itu. Alicia adalah seorang fotografer pemula. Wanita itu begitu excited melihat karya-karya Johnny.
Komunikasi mereka semakin intens dari hari ke hari. Hingga pada suatu hari, cinta menyapa mereka. Alicia menerima lamaran dari Johnny dengan hati berbunga-bunga.
Alicia tidak mempermasalahkan keterbatasan fisik Johnny. Bagi wanita itu, Johnny mampu membuat dirinya merasa nyaman.
Alicia juga mampu merasakan ketulusan cinta Johnny. Alicia telah berjanji dalam hatinya, ia akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Johnny.
Tentu saja hubungan mereka tidak lepas dari berbagai ujian dan cobaan. Seperti saat ini, mantan kekasih Johnny mulai mencoba mengganggu kehidupan rumah tangga mereka.
Setelah wanita itu mengetahui Johnny memiliki pendapatan yang besar, ia berusaha mendapatkan lagi hati Johnny.
"Drrrrtttt..." Ponsel Johnny bergetar di atas meja kayu mahoni di ruang tamu.
Awalnya Johnny tidak menyadari hal itu. Setelah beberapa kali bergetar, Alicia kebetulan keluar dari dapur dan berjalan melewati meja kayu vintage itu.
Alicia melihat ponsel Johnny yang sedang bergetar. Ia meraih ponsel tersebut dan melihat sebuah nomor yang tidak dikenalinya sedang memanggil. Ia bergegas menyerahkan ponsel itu kepada Johnny.
"Halo..." Ucap Johnny.
Alicia kemudian kembali ke dapur, meninggalkan Johnny sendirian di ruang tamu.
"Halo, sayang..." Sahut suara seorang wanita di seberang telpon.
Johnny terdiam sejenak. Dia terlihat sedang berfikir. Dia merasa mengenali suara itu, namun sedang mengingat-ingat siapa pemilik suara manja itu.
"Sayang, ini aku. Angeline..." Wanita itu menyebutkan namanya.
"Oh... Iya, Angel. Ada apa?" Ujar Johnny dengan nada suara ketus.
"Oh God... Mengapa kamu sekarang seketus itu?" Tanya Angeline.
"Ada apa? Apakah ada hal penting sehingga kau menghubungiku?" Johnny bertanya tanpa basa-basi.
Alicia muncul dari arah dapur sambil membawa sepiring pancake pisang dan secangkir coffee latte untuk Johnny. Wanita itu tersenyum dan berkata, "Special for you..."
Johnny tersenyum dan melirik pancake pisang tersebut dengan penuh minat.
"Thanks, honey..." Ucap Johnny sambil mengecup lembut kening istrinya.
Alicia tersenyum manis dan bergegas kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya yang lain.
"Kau lagi dimana? sama siapa?" Tanya Angeline. Dia mendengar sayup-sayup suara seorang wanita di dekat Johnny.
"Aku di rumah, bersama istriku." Ucap Johnny.
"Istri? Apa?" Angeline sepertinya kaget mendengar jawaban Johnny. Dia tidak mengetahui bahwa Johnny sudah memiliki seorang istri.
"Kapan kau menikah?" Tanya Angeline seolah tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Johnny.
"Minggu lalu. We've just married!" Sahut Johnny tenang.
"What!?" Angeline menjerit dengan suara tertahan.
"Tidak! Impossible! Bagaimana kau bisa melakukan itu tanpa memberitahuku lebih dahulu?" Tanya Angeline panik.
"Hmmm.. Apakah ada hal penting, Angel? Kau sudah terlalu banyak membuang waktuku." Ujar Johnny ketus.
"Johnny, aku kekasihmu. Tidak seharusnya kau menikahi wanita lain!" Tukas Angeline.
"Bukankah sudah lama kau memutuskan hubungan kita? Kau yang menginginkannya." Ujar Johnny.
"Wanita sehebat dirimu tidak pantas mendapat suami difabel sepertiku." Johnny melanjutkan ucapannya dengan nada ketenangan yang luar biasa.
"Johnny... Aku tidak pernah bermaksud begitu..." Ratap Angeline.
Johnny menghela nafasnya. Dia sudah tidak sabar ingin mengakhiri obrolan mereka.
"Terima kasih, Nona Angel. Anda sudah menghubungi saya. Maaf waktu saya sangat terbatas. Jika ada hal penting, anda bisa menghubungi team admin untuk pembicaraan selanjutnya." Ujar Johnny sebelum memutuskan panggilan.
Angeline terkejut setengah mati. Dia tidak menyangka akan mendapat kata-kata seperti itu dari mulut Johnny. Dan yang lebih membuat dirinya terkejut lagi adalah kenyataan bahwa Johnny telah menikah.
"Ternyata ada wanita lain yang mengincar kekayaan Johnny..." Angeline mulai berprasangka.
Angeline sangat menyesali kebodohannya, seharusnya dia lebih gercep mendekati Johnny sehingga bisa mendapatkan hatinya lagi.
"Kau benar-benar bodoh, Angel..." Angeline tidak henti-hentinya merutuki dirinya sendiri.
***TAMAT***