Di tengah guyuran hujan, sebuah bus trans berhenti di salah satu halte. Seketika, keluar seorang pria dari dalam sambil menenteng sebuah tas plastik dengan hati hati. Pria itu kemudian telah beralih dan berdiri di halte tersebut, menyaksikan bus yang tadi membawanya telah melaju pergi.
Ia pun segera duduk, meletakkan tas plastik yang ditentengnya tepat di sebelah kanannya. Sementara itu, ia mulai membuka tas sandang yang sedari tadi tertutupi oleh jaketnya. Dari tas sandang itu, ia mengeluarkan handphonenya yang telah terbungkus plastik. Alasannya, agar tak terkena air hujan yang mungkin bisa membuat handphonenya rusak.
" Uh.. " Pria itu berseru kedinginan. Hujan kali ini memang cukup deras dan membawa hawa yang begitu sejuk. Namun, hal itu tak menyurutkan semangatnya untuk membelikan sebuah kue ulang tahun bagi pacarnya yang pada hari ini tengah berulang tahun. Kue ini juga menjadi bukti betapa cintanya ia kepada sang pacar, yang ia yakin pasti akan suka dengan hadiahnya ini.
Ketika handphonenya sudah menyala, segera layar handphonenya menampilkan jam digital yang menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit. Sontak hal itu membuatnya terkejut, dan membatalkan niatnya untuk mengirim kabar kepada pacarnya.
Ia pun beralih membuka aplikasi ojek online guna bisa tiba di acara ulangtahun pacarnya, yang sesuai rencana akan diadakan pada pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Namun, sayangnya driver yang dipesan tak kunjung datang hingga pria itu memutuskan untuk nekat menerjang hujan.
" Mas Tarjo, ya.. ? " tanya seseorang tiba tiba yang tentu saja mengejutkan pria itu. Ia pun segera menghampiri orang yang memanggilnya itu, dan berkata, " Iya saya Tarjo. Bapak yang namanya Mulia, kan ? " Orang itu kemudian mengangguk, dan memperkenalkan diri sebagai driver yang dipesan oleh pria itu tadi.
Pria itu senang, dan segera menaiki motor sang driver. Namun driver itu tak segera memacu motornya, yang membuatnya menjadi kesal. " Ayo jalan, Pak ! "
" Tunggu dulu, Mas. Pakai helm sama mantelnya dulu, " kata sang driver sambil menyerahkan helm hijau keungu-biruan kepada pria tersebut. Pria itu menerimanya dan langsung memakainya. " Mantelnya nggak usah. Jalan sekarang, Pak ! " seru pria itu yang kemudian dituruti oleh sang driver.
Motor itu melaju begitu lambat di tengah guyuran hujan yang membuat jalanan menjadi sedikit tergenang banjir. Ada air setinggi mata kaki yang menghambat laju motor dan kendaraan lainnya di jalan.
" Pak, agak cepat jalannya, ya. Soalnya saya buru buru. " Pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga sang driver agar terdengar jelas. " Oh, ya. Shift malam ya, Pak ? " tanya driver itu berbasa basi, yang langsung ditanggapi oleh pria itu. " Bukan. Ada ulang.. " Wajah pria itu seketika memucat. Ia teringat bahwa tas plastik yang berisi kue ulang tahun untuk pacarnya telah tertinggal di halte bis tadi.
" Pak.. ! " Pria itu langsung menepuk pundak sang driver dengan keras. " Kita balik lagi ke halte tadi ! " serunya yang tentu saja tak akan terkabul begitu saja.
" Wah, susah, Mas. " Sang driver pun mengeluh. Situasi jalanan yang dipenuhi banjir dan kemacetan, membuat ia sulit untuk membawa motornya kembali ke halte itu. " Memang ada apa, Mas ? "
" Barang saya ada yang ketinggalan disana. Saya harus ambil sekarang juga, " desak pria itu terus menerus kepada sang driver. Namun, driver itu justru memberikan solusi lain untuk masalah sang pria. Solusi itu adalah membeli lagi barang yang ketinggalan tadi.
Tapi pria itu yang tahu betul untuk siapa dan bagaimana ia mendapatkan barang itu, tentu saja menolak keras. Kue ulang tahun yang dibelinya dengan susah payah pantang ditukar dengan kue ulang tahun lainnya yang pastinya tak akan sama rasanya. " Barang saya itu khusus. Kue ulang tahun dari kota seberang. Khusus dibuat disana dan rasanya juga pasti beda. Pacarnya saya yang minta. "
" Kue ulang tahun biasa aja udah cukup, Mas. Kalau cinta, pacar Mas bakal terima, kok. " Entah mengapa perasaan pria itu mendadak gelisah mendengar kata kata sang driver. Ia seperti tak nyaman dan memiliki dugaan aneh terhadap ucapan itu. Seolah ada kejadian yang akan terjadi setelah ini.
" Saya ingin yang spesial untuk pacar saya. Itu bukti cinta saya. " Pria itu bersikeras, namun sang driver tetap melaju dan membawanya ke sebuah toko roti di pinggir jalan.
Tentu saja pria itu marah. Ia ingin memutar balik, tapi kenapa malah datang ke toko roti lainnya. Menurutnya, driver itu sudah keterlaluan. " Lho, apaan ini, Pak ? Saya mau ke halte tadi, kenapa ke sini ? Saya nggak mau bayar sebelum permintaan saya dituruti. "
" Huh, Mas ini.. " Driver itu menghela nafas panjang. Dengan wajah yang berusaha sabar, ia melihat kepada pria tersebut. " Pacar Mas bakal mengerti, kok. Kalau dia cinta sama Mas, dia juga akan menghargai pemberian Mas. "
Pria itu terdiam, tampak ragu untuk sejenak. Perasaannya diliputi kebimbangan, mengira-ngira apakah yang dikatakan oleh sang driver adalah kebenaran.
" Ya, Bapak benar. " Pria itu tersenyum, menyadari makna ucapan sang driver. Ia pun segera memasuki toko roti itu dengan pakaiannya yang basah teramat kuyup, benar benar mengejutkan pelayan toko yang tak menyangka akan kedatangan tamu dari dunia bawah laut.
~~~
Hujan mulai reda saat mereka mendekati lokasi tujuan. Pria itu langsung menunjuk sebuah rumah bercat biru laut dengan pagar tinggi yang melindunginya. Rumah itu adalah tempat tinggal kekasihnya, yang hari ini berulang tahun.
" Sudah disini aja, Pak. " Sang driver segera menghentikan motornya. Pria itu pun turun dari motor, dan segera mengeluarkan selembar uang seratus ribu yang diberikan kepada driver itu. " Saya benar benar berterima kasih kepada Bapak. "
Driver itu terkejut, namun tetap mengambil uang itu dengan senang. " Sama sama, Mas. Semoga pacarnya senang ya, Mas. "
" Iya, Pak. " Pria itu kemudian berbalik, tapi segera dicegah oleh driver tersebut yang ternyata meminta helmnya untuk dikembalikan. Pria itu pun menepuk jidatnya, dan melepaskan helm itu untuk diberikan kembali kepada sang driver yang akhirnya pergi meninggalkannya seorang diri di depan pagar rumah kekasihnya.
Titt..
Sudah tiga kali bunyi bel dibunyikannya, namun pintu tetap tak terbuka. Ia kemudian mencoba untuk melihat jam di handphonenya yang menunjukkan pukul delapan. Memang terlambat, tapi acaranya pasti belum selesai. Lagipula kata pacarnya, dia juga mengundang teman temannya yang pastinya takkan pulang secepat itu.
Tak jauh dari sana, ada sebuah mobil yang berhenti di seberang. Pria itu tertarik, lalu memutuskan untuk memandangi mobil itu sejenak. Ia kemudian melihat seorang pria dan wanita keluar dari mobil tersebut.
Dirinya langsung terpaku menatap wanita itu yang tidak asing baginya. Ia mengenalnya, bahkan tahu nama wanita tersebut. Namun untuk saat ini, ia tak mampu untuk memanggil namanya. Ia hanya bisa menangis dan berucap dalam hatinya, " Ternyata, kamu hanya pura pura mencintaiku.. "
~~~