Surat Untuk Seseorang yang Menjadi Alasan Lahirnya Kata Ini.
Aku pernah berada pada titik di mana aku tidak tahu lagi harus berbuat apa karena terlalu merindukanmu.
Memasrahkan diri, menjatuhkan air mata, menyebut namamu dengan lirih dalam doa-doa penuh semoga.
Kepada-Nya, aku memohon agar bisa menatapmu walau dari kejauhan. Memastikan apakah dirimu dijaga oleh seseorang yang tepat.
Aku tak apa bila aku tidak dicintai lagi, aku tak apa bila aku sudah terganti, aku tak apa. Asal bahagia bisa selalu kekal di hidupmu, asal senyummu bisa lebih indah dari di saat kamu bersamaku.
Maafkan aku jika di dalam diriku kau tak menemukan apa yang selama ini kau cari.
Maafkan aku jika yang kau minta tak pernah cukup dengan apa yang aku beri.
Maafkan aku.
Namun untuk bahagiamu, segala hal akan aku upayakan sekuat hatiku.
Dulu, kau pernah mengatakan bahwa kau begitu mengagumi senja, maka kutuliskan sebuah cerita, kusematkan kata Senja di dalamnya, dan kuceritakan segala tentangmu di sana. Agar ketika senja di langit telah pergi diam-diam, ada satu senja di sini yang tak mengerti caranya tenggelam. Ia selalu menemanimu, tak kenal waktu.
Maaf, pada kenyataannya semuanya masih untuk kamu.
Tapi, perihal mengikhlaskanmu, itu benar dari hatiku, meski menemukan penggantimu, aku belum mampu.
Sebelumnya, aku berharap agar kau merasa bersalah telah meninggalkanku, agar kau merasa menyesal telah mengecewakanku, agar kau merasa berdosa telah menghancurkan hidupku.
Hingga aku tersadar, akulah yang salah karena mencurahkan seluruh rasa kepada seseorang yang tak aku ketahui akan menjadi takdirku atau tidak pada akhirnya.
Akulah yang menyesal karena terlalu dalam menyelam ke dasar hati seseorang yang membuatku tenggelam.
Akulah yang berdosa karena pernah terlintas di doaku supaya segala hal yang menimpaku juga menimpamu. Sekali lagi, maafkan aku.
Jika kau menyukai kalimat ini, bacalah, namun berjanjilah tidak boleh ada air mata yang jatuh. Karena sungguh, itu akan membuat hidupku kembali runtuh.
Jika kau tidak menyukai kalimat ini, kau tak perlu membacanya. Anggaplah ia memang tak pernah ada.
Jika kau membaca kalimat ini dengan ditemani orang lain di sebelahmu, silakan kau dan dirinya menertawakan aku; Seseorang yang tidak tahu malu menyayangimu.
Karena, entah nanti kau merasa kesepian menghadapi hari-hari, kau dapat menemui aku dalam setiap kata. Aku ada menjelma huruf untuk kau eja.
Kembalikan Aku Seperti Sebelum Mengenal Cinta
.
.
.
Patahan_ranting 🍁🍁🍁