Kring, kring, kring suara sepeda kumbang milikku berteriak-teriak di sepanjang jalan, dengan wajah ceria aku melantunkan lagu 🎶kring, kring ada sepeda, sepedaku roda dua, ku dapat dari Ayah karena rajin bekerja🎶.
Ciiit, gedubrak, sepeda kesayanganku tiba-tiba mencium pantat Vespa tahun 80-an.
"Heh, cebol, lu apain motor gue hah", bentak seorang anak laki-laki yang umurnya tidak beda jauh dengan umurku.
Mendengar kata-kata cebol, wajahku langsung memanas. "Dengar ya beruang madu, bukannya kamu yang tiba-tiba saja mengerem mendadak", jawabku tak kalah keras.
"Heh Marsha, udah jelas-jelas kamu yang nabrak motor aku duluan", jawabnya lagi.
"Marsha?, Marsha and the Bear maksudnya?, berarti dia ngaku dong kalau dirinya itu beruang madu, eh, terus menghilang kemana tuh bahasa lu gue nya?", aku bicara dengan diriku sendiri.
Ha..ha..ha..ha, aku tidak dapat menahan tawaku.
Cowok itu hanya bengong melihat aku tertawa terpingkal-pingkal.
Aku lalu bertanya," siapa namamu?.
"Aku Vino", katanya lagi.
"Aku Vina", jawabku lagi dengan wajah serius.
"Apa?, kok kebetulan ya, nama kita beda di huruf vokal belakangnya saja", Vino mengusap-usap tengkuknya.
"Awas!", sebuah suara mengagetkan kami berdua.
Sebuah mobil Avanza berwarna putih melesat menuju ke arah kami.
Aku kehilangan kesadaran.
Aku terbangun di sebuah tempat yang berwarna putih, banyak sekali manusia yang berkumpul di tempat ini. Aku celingak-celinguk melihat apakah ada orang yang akan aku kenal.
Ternyata tak ada satu pun yang aku kenal, atau paling tidak mengenali diriku. Ada rasa sedih didalam hatiku.
Bagaimana dengan ayah dan ibu serta adik-adikku, mereka pasti sangat kehilangan diriku.
Aku menangis, semua orang melihat kearah ku.
Mereka heran melihat aku menangis. Sambil mengelap air mataku aku bertanya kepada salah satu orang yang berada tepat berada di hadapanku.
"Tempat apakah ini?, mengapa semua orang berada di tempat ini?, dan siapakah pemimpinnya?", aku memborong semua pertanyaan yang membuatku bingung.
Orang itu tersenyum dan menjawab," tempat ini dinamakan ruang reinkarnasi, kita semua ada di ruangan ini tentu saja untuk bereinkarnasi, pemimpinnya bernama Ariel, singgasananya berada diujung jalan ini", orang tersebut menjelaskannya dengan benar.
Aku bertanya lagi," Apa kalian tidak sedih meninggalkan keluarga kalian di dunia?".
Orang itu kembali tersenyum," Mengapa harus sedih, bukankah reinkarnasi memberikan kita kehidupan kedua, kita bisa menjadi lebih baik dari kehidupan sebelumnya".
Dalam pikiranku, lalu apa gunanya neraka, kalau mereka bisa berubah menjadi lebih baik, ah sudahlah, aku lebih penasaran dengan pemimpin yang bernama Ariel ini, apakah wajahnya sama dengan Om Ariel Noah? ataukah lebih tampan.
Aku jadi lebih bersemangat. Ternyata waktu yang diperlukan untuk sampai pada giliran ku tidaklah lama, dalam sekejap mata aku sudah berada didepan sebuah meja besar.
Seorang lelaki dengan ketampanan yang tidak bisa dianggap enteng menatap mataku, aku melihatnya tanpa berkedip.
Dia menatapku dengan tatapan heran, dipikiran lelaki itu baru kali ini ada manusia yang seberani ini menatap wajahnya tanpa berkedip, mana badannya mini lagi.
"Ada apa Dion?, ada masalah?", sebuah suara bariton mengejutkan semua orang yang ada di tempat itu.
"Gadis ini, dia berani sekali menatap diriku dengan mulut yang terbuka seperti itu, sungguh tidak sopan", gerutu Dion.
Sekarang mulutku malah tambah terbuka lebar melihat penampakan lelaki yang saat ini berdiri di hadapanku, dengan tinggi menjulang menembus langit, wajah lelaki itu luar biasa sangat-sangat tampan.
"Ini nyata bukan?, apakah aku berada di dunia novel?", tanyaku dalam hati.
"Ekhm, Vina, namamu adalah Vina, meninggal dikarenakan ditabrak mobil bukan?", suara itu kembali mengagetkan diriku.
Kali ini aku hanya bisa menganggukkan kepalaku.
"Kamu tidak akan bereinkarnasi", ujarnya dengan tegas.
"Aapa!, ini tidak mungkin kan?, memangnya apa salahku?, mereka bisa, mengapa aku tidak bisa, tidak adil!", tanyaku setengah berteriak.
"Kuota milikmu sudah penuh, kamu adalah anak yang berbakti kepada orang tua, sayang kepada kedua adikmu, semua menyukai ketulusan hatimu, kamu benar-benar manusia yang baik, jadi kamu tidak perlu bereinkarnasi lagi, kamu akan menjadi salah satu dari kami".
"Tidak!", aku menjambak kepalaku, aku menyesal menjadi terlalu baik, kembalikan aku", teriakku lagi.
😇TAMAT😇