"Lagi-lagi dapat nilai jelek. Kenapa sih sejarah harus baca buku segini tebalnya? Bikin males baca aja. Mending tidur dari pada baca buku!"
Malam itu aku menghiraukan pelajaran sejarah dan bergegas tidur untuk menyambut hari esok. Seharusnya aku tidak mengatakan itu. Perkataan itu membuatku menyesal. Sebelum tidur, aku mendengar suara.
"Kamu harus menemukan arti dari perjuangan selama ini. Oleh karena itu kamu orang kesekian yang terpilih untuk merasakan perjuangan orang-orang terdahulu. Kamu akan mengerti bahwa hidupmu yang sekarang adalah berkat mereka."
Awalnya aku tidak peduli. Mengabaikan kata-kata itu dan bergegas tidur. Setelah memejamkan mata, aku seperti melihat sebuah cahaya terang di depanku. Cahaya itu menarik perhatianku hingga membuatku berjalan ke arahnya. Lalu aku tak ingat apa yang terjadi selanjutnya.
🇮🇩🇮🇩🇮🇩
Aku membuka mata. Namun, yang kulihat bukan atap kamarku, tetapi langit cerah berawan. Yang kurasakan bukan kasurku, melainkan tanah. Banyak orang mengerumuniku, berbicara dengan bahasa yang kubenci, bahasa Jawa. Aku membencinya karena menurutku sangat ribet saat mempelajarinya.
"Kowe sapa?"
Namun, aku tetap diam. Aku bingung karena belum bisa mencerna kejadian yang baru saja kualami.
Pakaian mereka terlihat lusuh, dan tidak fashionable ….Tunggu, itu, 'kan, baju kebaya yang mereka pakai.
"Namaku Aji. Kamu?" tanya seorang pemuda padaku.
Ia menjulurkan tangannya, menawarkan diri untuk membantuku bangkit. Aku menerima uluran tangannya.
"Kirana."
"Kamu anak mana?"
"Sidoarjo," balasku singkat.
Aku melihat keterkejutan dari sorot mata penduduk.
"Mosok se? Aku ra kenal bocah kaya kowe. Anake sopo kowe? Aku kenal kabeh karo wong nak Sidoarjo iki," ujar salah seorang penduduk.
Setidaknya aku mengerti beberapa kata yang mereka ucapkan.
"Pak James Anderson," balasku singkat yang kembali mengejutkan mereka.
"Ana wong Londo nyasar. Enake diapakne?"
Hah?! Aku bukan orang Belanda. Haduh gimana, sih. Denger nama kebarat-baratan aja udah langsung dikira bule. Sidoarjo nggak mungkin se-ndeso gini, deh. Ini di mana sih?
"Bukan, bukan. Saya orang Indonesia asli," jawabku, namun dihiraukan oleh mereka.
“Ji, gawa bocah iki nak Pak Kades. Paling nek keruan tentara Londo langsung digawa nak markas.”
Waduh, ada apa ini? Jangan-jangan aku terlempar ke masa penjajahan. Hwe … emangnya ada kejadian apa habis ini? Aku nggak suka baca buku sejarah, juga. Aku nggak begitu mengerti latar waktu dan suasana di sini. Kalau terjadi apa-apa, bagaimana? Kenapa jadi seperti ini?
Anak yang bernama Aji tadi lantas menyeretku ke rumah Pak Kades sesuai perintah warga. Sesampainya di sana aku langsung di kunci di sebuah gubuk. Keesokannya aku akan dibawa ke markas tentara Belanda.
Hari itu aku hanya diberi makan dan minum sekali, itu pun porsi yang sangat sedikit. Sepertinya aku benar-benar terlempar ke masa lalu. Aku juga melihat kebijakan cultuur stelsel masih berlaku. Banyak penduduk yang busung lapar. Aku tak tega melihatnya.
Belum bertemu tentara Belanda saja sudah takut, bagaimana jika bertemu nanti? Bagaimana nasibku setelah berada di markas tentara? Apakah aku akan dimanfaatkan? Atau melakukan kerja rodi?
Aku merindukan kegiatan sekolah yang membosankan. Aku merindukan tugas menumpuk yang memuakkan. Aku merindukan teman-teman yang suka gosipin aku. Aku ingin pulang.
Kupikir malam ini kulewati dengan suasana dan hawa dinginnya malam saja. Nyatanya Aji yang bertugas menjaga pintu gubuk malah mengajakku berbicara.
"Kamu beneran anak Sidoarjo?" tanyanya dengan nada tak percaya.
Aku menjawabnya dengan dehaman.
“Tapi mengapa pakaianmu terlihat seperti pakaian orang Belanda. Bahkan lebih bagus. Tidak seperti model yang mereka pakai pula. Nama ayahmu juga. Jangan-jangan kamu mata-”
"Bukan. Aku orang Indonesia asli."
"Oh, baiklah. Kehidupan seperti apa yang kamu jalani selama ini?" tanyanya penasaran.
"Rebahan, nonton tv, main ponsel, ngerjain tugas daring, makan, tidur, streaming film. Oh, juga harus belajar untuk ujian."
"Hah? Nggak ada perang, kah? Kelihatannya hidupmu damaİ. Kamu juga menggunakan kata yang tidak kumengerti."
"Iya, karena di tempatku anak kecil hingga seusiaku harus fokus sekolah. Belajar yang rajin sebagai bentuk menghargai jasa para pahlawan yang sudah bersusah payah membuat Indonesia merdeka.
"Seharusnya aku menyadari ini dari awal. Nyatanya setelah terlempar puluhan tahun kebelakanh barulah aku mengerti," ujarku berusaha menahan tangis.
“Aku malah ingin sekolah. İngin merasakan seperti yang kamu rasakan. Andaikan aku lahir di tempat kamu lahir ….”
"Ini tahun berapa?"
"Tahun 1934. Memangnya ada apa?"
"Aku berasal dari masa depan, dari tahun 2020. Seharusnya aku tak di sini. Aku harus kembali," ujarku.
"Benar. Tempatmu bukan di sini. Kalau begitu aku akan membantumu melarikan diri dari sini. Karena jika sudah memasuki markas, kamu tidak akan bisa keluar dari sana seumur hidup," ujar Aji.
“Tapi aku juga tidak tahu bagaimana caraku kembali ke tempatku berasal. Aku saja tidak tahu bagaimana aku bisa sampai di sini.”
“Meski begitu, kamu tidak boleh ada di sini. Aku juga tidak bisa melindungimu. Setidaknya kamu harus kabur ke tempat yang lebih aman.”
Aku menurut, meski air mata sudah terbendung di pelupuk mata. Sementara itu ia memastikan tidak ada orang yang melihat aksinya. Dengan perlahan ia membuka pintu gubuk yang dikunci. Membawaku pergi dari desa itu. Namun, sepertinya warga desa ada yang mengetahui itu. Mereka pun mengejar kami.
"Cepatlah pergi! Biar aku yang menghadapi mereka. Kemungkinan aku hanya akan dipukulin warga."
“Tapi ….” sangkalku diinterupsi olehnya.
"Tidak, tidak boleh!" Aji mendorongku.
“Hanya kamu satu-satunya orang yang aku kenal di sini.” Tangisku pecah.
"Pergilah! Aku harap kamu bisa terus hidup bahagia. Di tempat kamu tidak bisa merasakan itu. Aku akan tetap di sini menghadang mereka. Temukan jalan pulangmu. Kuharap suatu saat aku bisa menghabiskan waktu berbicara denganmu lagi."
Itu tidak mungkin. Jika aku bisa kembali ke masaku, kita tidak akan pernah bisa berbicara seperti ini lagi. Kita hidup di masa yang berbeda. Jarak kita terlalu jauh, bahkan untuk dijangkau oleh nalar sekalipun.
Aku sempat melihat setetes air mata meluncur di pipinya. Namun, segera ia hapus. Mau tak mau aku harus terus berlari. Meski dalam hutan yang gelap, aku tak berhenti berlari. Aku takut sekali, tapi aku lebih takut dengan nasib Aji.
Apa yang terjadi dengannya sekarang, ya?
Meski aku diberi makan dan minum sekali, tapi Aji diam-diam menyusupkan camilan ke dalam gubuk. Ia membawaku ke rumah Pak Kades tanpa mengikatku layaknya buronan. Ia justru menggenggam tanganku. Tatapannya sangat teduh. Meski kondisinya tak jauh lebih baik dariku, ia tetap menolongku. Dalam waktu kurang dari sehari, aku sudah merasa akrab dengannya.
Semoga ia baik-baik saja saat ini.
Aku mendengar suara tembakan yang keras sebanyak dua kali. Jantungku tiba-tiba berhenti. Aku menghentikan langkah, mulai terduduk seketika dan menangis.
Jangan-jangan itu tentara Belanda.
Aku sempat mendengar suara teriakan dari banyak orang. Aku segera tersadar dan mulai berlari. Namun, aku tak melihat bahwa di depanku ada jurang.
Aku terpelanting dan jatuh ke sana. Aku tak merasakan apapun, hanya bisa pasrah dan menutup mata.
Di saat itulah, aku merasa seperti ada cahaya yang menyilaukan menyelimutiku. Lalu aku juga mendengar sebuah suara.
“Sudah saatnya kembali."
Kemudian aku tak mengingat apa yang terjadi berikutnya.
🇮🇩🇮🇩🇮🇩
Alarm berbunyi, membuatku terbangun dari tidur yang panjang.
Jadi, semua ini hanya mimpi. Mengapa terasa begitu nyata?
Aji ... setiap mengingat nama itu dadaku terasa sesake Semoga dia selamat.
"Maafkan aku …." Aku menangis sesenggukan kala mengingat suara teriakan setelah suara tembakan yang bergema dalam hutan di mimpiku.
Dia satu-satunya orang yang menemaniku di gubuk saat itu. Ia juga satu-satunya lelaki yang aku ajak bicara panjang lebar selama hidupku.
Akankah aku bisa menemukan lelaki seperti Aji?
Aku mengusap air mata di pipi. Mulai memasuki kamar mandi, bersiap untuk pergi ke sekolah.
Sesampainya di sekolah aku diberondong pertanyaan oleh teman sebangkuku.
"Kenapa matamu sembab?"
“Aku mimpi buruk semalam.”
“Sudahlah itu hanya bunga tidur saja. BTW, jam terakhir nanti ada mapel sejarah, loh. Katanya guru baru. Mana baru masuk langsung kuis lagi. Kemarin anak IPS ngeluh gegara kuis dadakan. Ih, males banget baca buku sejarah segini tebalnya.”
Mendengar itu, aku jadi teringat mimpi semalam. Aku harus menemukan kejadian yang terjadi pada tahun 1934. Sebelum bel masuk sekolah, saat istirahat pertama dan kedua, aku habiskan untuk membaca buku LKS dan paket sejarah.
“Kirana kenapa, sih? Tumben amat rajin banget baca sejarah. Biasanya, 'kan, paling ogah kayak elu,” timpal seorang murid di kelas.
“Nggak tahu, tuh. Entah dia kesambet apaan hari ini,” balas teman sebangku Kirana.
Kuabaikan perkataan mereka. Ku ingin mendapatkan kepastian tentang Aji yang masih hidup atau tidak sesuai kami berpisah. Namun, tak kutemukan. Ingin mencari di internet pun tak ada waktu karena sang guru sudah datang.
"Selamat siang anak-anak. Perkenalkan nama saya Darmo. Baiklah kita langsung mulai kuisnya, ya."
Setiap pertanyaan yang Pak Darmo keluarkan, hampir semua aku yang menjawab. Karena setelah membaca buku-buku itu, hampir semuanya masuk dalam kepalaku.
“Jawabanmu betul semua, tapi kenapa kamu murung, Nak?” tanya guru itu.
"Saya sedang mencari kejadian lampau di buku, Pak. Tapi tidak bisa saya temukan. Sepertinya benar-benar bukan kejadian dari masa lalu," balasku dengan menunduk.
Sepertinya itu hanya khayalanku saja. Namanya juga mimpi, wajah kalau disesatkan oleh imajinasi alam bawah sadar.
Murid sekelas pada heboh mendengar perkataan yang tak terduga keluar dari mulutku. Bahkan teman sebangkuku mulai menyenggolku karena mengatakan hal itu di depan guru. Aku yang sadar pun langsung meminta maaf pada Pak Darmo.
"Bisa saja kejadian itu tidak tertulis di buku sejarah. Namun, tertulis abadi dalam hati dan memorimu," ujar beliau sembari mengedipkan mata.
Baru kusadari, ketika melihat Pak Darmo dari dekat, wajahnya mirip Pak Kades yang ada di mimpiku. Pantas saja aku merasa familiar.
Tapi mengapa Pak Darmo mengedipkan matanya padaku ya?
"Anak-anak sebaiknya kalian contoh teman kalian ini. Membaca buku sejarah demi mempersiapkan kuis dadakan yang saya berikan. Kalian sebagai generasi bangsa harus meneruskan perjuangan para pahlawan. Bukan berupa perang, melainkan dalam bentuk belajar demi menjadi penerus bangsa yang lebih baik. Mari kita buat Indonesia bersinar di mata dunia."
Setelah itu aku tak mendengarkan perkataan Pak Darmo lagi. Tanpa disadari, kegiatan di sekolah pun berakhir. Saatnya kembali ke rumah.
Di tengah jalan aku ditabrak seseorang.
“Maaf,” ujarnya.
Aku mengangguk dan membantu memunguti kertas-kertas yang berserakan di tanah. Aku melihat sekilas tulisan di kertas itu berupa 'Makalah' dan 'Universitas'. Namun, tak sempat melihat nama dan asal universitasnya secara jelas lantaran semua sudah diambil oleh orang itu.
“Makasih udah dibantu.”
Saat aku melihatnya untuk membalas, jantungku tiba-tiba terasa berhenti sejenak. Hanya ada satu orang yang mampu membuatku seperti itu.
“Aji!” seruku. Air mataku menetes tanpa kusadari.
la pun tersenyum padaku.
Selesai~
Original : Agustus 2020
Remake & Upload : Juni 2022