Matahari semakin tenggelam, menciptakan semburat merah di ufuk barat. Seorang gadis tengah berdiri di depan gerbang sekolah, menunggu angkutan umum yang tak kunjung lewat.
Lagi-lagi jam belajar di kelas bertambah setengah jam, lantaran gurunya ingin menuntaskan materi hari ini. Lalu, minggu depan akan pindah ke bab materi selanjutnya.
Semua gara-gara murid di kelasnya yang tidak pernah bisa diam, membuat sang guru murka dan memberi hukuman seperti ini. Meski jengah dengan keseharian seperti ini, namun Aurin tidak bisa melakukan apapun terhadap kelasnya.
“Kok belum pulang?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dari dalam sekolah dengan menaiki motor matic.
“Nunggu angkutan umum,” balas Aurin singkat.
Anak itu murid di kelas 9A, Aurin mengetahuinya dari bet kelas yang terjahit di seragamnya. Tanpa sadar mata Aurin melihat nama dada anak itu, Argio Davian.
“Mau aku anterin?” tawarnya yang nampak seperti modus bagi Aurin.
Aurin membalasnya dengan gelengan singkat.
“Baiklah aku temanin kamu sampai angkutan umumnya datang. Sekolah sekarang udah sepi, nih. Nggak baik cewek ditinggal sendirian di tempat sepi kayak gini. Nanti kalau ada apa-apa bagaimana? Siapa yang mau tanggung jawab?” imbuhnya panjang lebar.
Aurin hanya membiarkan Argio menemaninya begitu saja.
“Pasti kalau sudah bosan dia bilang mau pulang duluan. Ending-nya bakalan sama dengan kejadian di sekolah lama, ditinggal sendirian.”
Telepon Aurin berbunyi. Dia segera mengangkat begitu tahu nama yang tertera di layar ponsel itu mamanya.
{ Halo …? }
{ Kenapa belum pulang, Rin? Sudah jam 5 lebih, loh. Emang nggak ada angkot yang lewat? }
Suara dari pemilik telepon di seberang terdengar khawatir.
{ Belum, ma. }
Aurin menghela nafas panjang. Dia mengerti kekhawatiran mamanya, dan sebenarnya dia tak ingin membuat beliau seperti itu.
{ Nggak ada teman, 'kah, yang mau nebengin kamu? Kalau ada nebeng dulu. Nanti Mama ganti ongkos bensinnya. Papa lembur, jadi pulang telat. }
Aurin melirik seseorang disebelahnya. Iya tampak sibuk dengan ponsel di tangannya kini.
{ Oke, ma. Aku nebeng teman kalau begitu. Aku tutup teleponnya, ya. }
Mendengar Aurin mengatakan itu, sontak Argio memalingkan pandangannya dari ponsel. Sementara Aurin bergegas memasukkan ponselnya ke dalam tas begitu panggilan berakhir.
“Apakah tawaranmu masih berlaku?” tanya Aurin memastikan.
Argio menganggukkan kepala. Dia tersenyum tipis, lalu mempersilahkan gadis itu naik ke motornya. Argio menyalakan mesin, menunggu Aurin telah duduk dengan baik di belakang, lantas meninggalkan sekolah. Suasana terasa hening sebentar sebelum Argio akhirnya memecahkan suasana itu.
“Namamu siapa?”
Meski Aurin menyadari modus itu, dia tetap menjawabnya dengan singkat.
“Aurin.”
“Rumahmu di mana?”
“Perum Gemilang Cluster Lily Blok A-12.”
“Loh, rumahku juga di perumahan itu. Aku di blok E-09.”
Aurin hanya ber-oh-ria. Selama di perjalanan mereka saling diam. Aurin lebih memilih menikmati pemandangan dan semilir angin yang menerbangkan rambutnya.
Sedangkan Argio berusaha fokus dengan jalanan di depannya. Namun, gagal karena dia beberapa kali menoleh ke kaca spion. Dia ingin membuka pembicaraan tapi urung ketika melihat gadis itu lebih memilih menikmati suasana.
Ketika motor mereka sudah sampai tujuan, Aurin bergegas turun dan mengucapkan terima kasih. Lalu ia segera memasuki rumah.
“Aish … susah banget, sih, deketin dia,” lirih Argio.
💮💮💮
Suasana SMP Citra Karya selama istirahat.
“Rin, mau makan apa?” tanya seorang siswi padanya.
Aurin terdiam sejenak untuk menelusuri menu yang tersedia. “Batagor aja, deh.”
“Oke …. Minumnya?”
Aurin menunjuk gambar es teh. Kemudia siswi itu beranjak dari meja dan mulai memesankan makanan untuk mereka.
Seperti biasa, suasana kantin selalu ramai saat jam istirahat. Biasanya Aurin membawa bekal, namun karena mamanya sibuk terpaksa dia membeli makanan di kantin.
Di antara ingar-bingar itu Aurin masih merasakan kesepian. Sudah kesekian kalinya dia berpindah-pindah sekolah hanya karena mengikuti pekerjaan papanya yang selalu berpindah-pindah.
Aurin lelah harus berkenalan ulang dengan teman baru, serta menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi baru. Ia ingin sekali bersekolah di satu SD atau SMP hingga lulus. Lalu memiliki sahabat karib. Selama ini dia hanya memiliki teman yang tak terlalu akrab.
“Nanti pulang naik angkot lagi?”
Suara itu membuat Aurin mengarahkan kepala pada sang empunya. Sosok itu sukses membuyarkan lamunannya. Matanya mengerjap beberapa kali melihat sosok yang tak asing itu sebelum akhirnya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
“Gimana kalau aku anterin pulang lagi? Rumah kita, 'kan, masih satu kawasan. Terlebih menghemat pengeluaranmu.”
Argio memberikan sebuah tawaran pada Aurin. Tetapi Aurin selalu menganggap tawaran dari lawan jenis itu hanya sebuah kedok untuk menyembunyikan niat modusnya.
“Nggak. Makasih,” balas Aurin singkat.
Mata aurin berusaha mencari bangku kosong lain di sekitarnya. Ketika menemukan tempat itu, dia langsung menarik teman yang membawa pesanan mereka untuk pindah dari kursi yang saat ini Aurin tempati.
Argio dan teman aurin yang melihat itu pun menjadi bingung dengan kelakuan tiba-tibanya.
💮💮💮
Beberapa kali Aurin bertemu Argio. Entah di perpustakaan, ruang guru, kantin, bahkan di lapangan. Memang itu fasilitas umum. Tetapi sekolah yang terbilang luas untuk sebuah SMP seperti ini bukankah kemungkinan untuk sering bertemu sangatlah kecil? Kalau ruang guru mungkin kebetulan saja waktunya pas saat menumpuk tugas.
Setiap mereka bertemu Argio selalu menawarkan pulang bersama. Hal itu membuat Aurin merasa bingung, marah, takut, dan berbagai pikiran negatif lainnya.
“Bukankah itu tandanya dia suka sama kamu, ya," ujar teman yang selalu menjadi tempat keluh kesahnya di SMP Citra karya.
Aurin gelisah. “Tapi ….”
“Cobalah berhenti menghindarinya saat bertemu nanti. Lalu tanyakan apa alasannya selalu memintamu pulang bersama. Mungkin kamu akan terkejut dengan jawabannya. Kita, 'kan, sama-sama nggak tahu niatnya yang sebenarnya. Nanti kalau dia macam-macam sama kamu, langsung telepon aku aja. Biar aku bantu kamu menghajar dia.”
Aurin tertawa. “Boleh dicoba, nih,” batinnya.
Meski merasa takut, tapi Aurin merasa sepertinya sikap Argio sudah kelewatan. Dia harus segera menghentikannya. Aurin memilih waktu untuk bertemu Argio sepulang sekolah hari ini.
“Apa alasanmu selalu ingin mengantarku pulang?”
Argio terdiam sebentar. Dia nampak terkejut sembari mengerutkan dahinya.
“Kamu lupa sama aku? Pantesan sikapmu berbeda dengan yang dulu.”
Aurin nampak seperti orang bodoh saat merasa kebingungan. Argio sebenarnya ingin tertawa melihat itu.
“Dia tidak benar-benar berubah,” batin Argio terkekeh geli.
“Maksudmu?”
“Aku Argio. Si kerdil yang sering dipalakin uang jajan sama kakak kelas pas SD. Kamu, 'kan, yang waktu itu dengan beraninya maju membelaku?”
Aurin tersentak. Mendengar Argio mengatakan itu dan membuatnya memutar memori lama yang tidak pernah dilakukan. Kejadian itu tampak jelas. Dia seperti sedang melihat film hitam putih dari sebuah proyektor jadul.
“Oh … maaf. Aku lupa. Sudah terlalu lama kejadian itu.”
“Nggak masalah.” Argio memberi jeda sejenak. “Kamu nggak tanya bagaimana aku bisa mengenalimu? Tampilanmu yang dulu dan sekarang, 'kan, beda.”
“Benar. Dulu aku sangat tomboi. Sekarang sudah terlihat seperti cewek sungguhan. Wajar bagi orang yang mengenalku dulu lupa sama penampilanku sekarang." batin Aurin.
“Jadi … bagaimana kamu bisa mengenaliku.”
"Aku tahu kabar bahwa ada warga baru di komplek Lily. Tapi kata orang tuaku aku kenal banget sama anaknya. Saat pertama kali mengantarmu, aku baru sadar. Kalau selain jadi murid baru di sekolahku, kamu juga anak dari warga baru di perumahanku.
“Tapi aku berpikir, aku kenal kamu di mana? Kenapa orang tuaku bilang aku kenal kamu banget? Ternyata pertanyaan itu terjawab keesokan harinya. Saat Papamu bersiap pergi bekerja sekalian mengantarmu sekolah.”
Aurin tampak menerawang sejenak. “Pantas saat itu kamu terlihat kaget saat aku akan pergi ke sekolah.”
“Jadi …?”
“Oke deh. Aku mau pulang bareng sama kamu. Sekalian bahas masa-masa yang hampir aku lupakan itu.”
“Sip deh.”
Mereka pun segara menaiki motor untuk pulang bersama. Tentu saja Aurin sudah izin ke Papa Mamanya dan sudah disetujui.
“Aurin, aku cuma mau mastiin ….”
“Apa?" Tanya Aurin penasaran dengan arah pembicaraannya.
“Kita masih berteman, 'kan?”
“Maksudmu? Tentu saja masih."
“Habisnya kamu lupa sama wajahku. Jangan-jangan kamu juga lupa kalo dulu kita temenanndeket banget sampai kayak lem.”
Aurin tertawa singkat. “Konyol banget. Buat apa aku lupa hal macam itu. Cuma teman aja. Lupa wajah wajar, lupa memori bersama yang nggak wajar.”
“He? Kenapa aku merasa nada bicaramu terdengar kecewa, ya? Apa ini cuma firasaku saja? Atau … jangan-jangan kamu menginginkan lebih dari itu?” ujar Argio yang terdengar seperti ingin menelisik maksud hati Aurin.
Aurin berdeham sebentar. “Temenan aja dulu. Hal yang belum ada saat ini, biar muncul sendiri pelan-pelan. Kita nggak tahu masa depan bakalan gimana jadinya.”
“Bener juga. Kalo gitu mulai besok, aku yang anter dan jemput kamu pulang sekolah, ya. Biar Papamu fokus kerja aja.”
“Kalo itu kamu coba tanyakan sama beliau-beliau saja. Itu bukan keputusanku seorang.”
Mereka tertawa bersama sembari menikmati semilir angin di perjalanan. Saat ini, waktu terasa berhenti bagi mereka.
Selesai~
Original : Juli 2020
Remake & Upload : Juni 2022