Hujan rintik-rintik membasahi seluruh bagian kota. Pagi yang harusnya cerah, kini diawali dengan hujan yang seolah mengisyaratkan kesedihan.
Aku, Calista Ziberty. Gadis biasa yang dituntut untuk jadi luar biasa. Anak yang hadir kala mereka kehilangan. Anak yang dikasihani untuk dijadikan pengganti. Anak yang ada tanpa asal dan hidup tanpa terhindar dari tatapan orang yang selalu kesal.
Aku yang tak tahu apa-apa hanya menuruti perintah mereka. Bukan tak ingin melawan, hanya tak ingin membuat mereka merasa aku tak tahu terimakasih. Bukan anak mereka, aku dipungut saat balita dijalan yang tengah menangis tak tahu arah hendak pulang.
"Calista! Kamu ini nggak pernah bisa jadi kayak Lisa itu gara-gara apa? Hah?" Bentak mamaku, Sovie.
Aku hanya tertunduk, perasaan yang campur aduk membuatku tak bisa berbicara selain menunduk.
"Jawab!!"
"Kamu ini bodoh banget, ya? Masa dari dulu nilai matematika cuma 120? Kenapa nggak 150? Kenapa nggak sempurna, hah!?" Bentaknya lagi.
"Ma--maaf, ma. Lista udah ber--berusaha." Ucapku sesenggukan sambil menunduk.
"Cih, usaha katamu??. Dasar sampah! Inget ini, ya! Kalau sampai hari ini mama nggak lihat kamu ngerjain soal matematika dari Louise. Mama akan kasih kamu hukuman!" Ucap mama mengencamku.
Aku hanya mengangguk dengan kepala yang masih menunduk, berusaha menahan tangis agar tak keluar hingga bibirku bergetar.
"Dan juga, kalau sampai papa pulang hari ini kamu belum selesai. Mama aduin ke papa semuanya dan kamu tidak akan mama kasih makan. Kamu juga harus tidur diluar! PAHAM!??" Lagi-lagi ia membentakku.
Sejujurnya, aku ingin sekali mengatakan pada mereka kalau 'Aku lelah. Lelah untuk menuruti kalian semua. Lelah menjadi budak keeogisan kalian. Menjadi orang yang tak aku kenal. Menjadi pengganti, bahkan menjadi seorang yang payah karena tak memiliki pendirian untuk diri sendiri. Aku lelah.. Lelah sekali!'. Namun, itu hanya kata-kata yang mustahil untuk aku ucapkan. Aku hanya pasrah untuk saat ini, aku mengangguk mengiyakan. Mencoba menyusun rencana untuk kedepannya agar bisa lepas dari para iblis yang egois ini.
"Sekarang juga kamu pergi ke kamar Louise. Minta 100 soal matematika. Dan hari ini juga harus selesai!" Lanjutnya.
Mama lalu melenggang pergi meninggalkan diriku yang masih menunduk menahan tangis.
'Tidak, Calista. Kamu gak boleh cengeng. Kamu harus kuat supaya bisa membuat mereka menganggap dirimu itu berharga! Ingat, mereka yang menghinamu akan menjadi hina suatu saat! Yakini ini, Calista!' batinku menyemangati diri.
Tok...tok..
"Kak.. kak Louise? Kakak?" Panggilku diluar pintu kamar kak Louise.
Cklak..
"Hmm??"
Seorang remaja laki-laki keluar dengan rambut yang acak-acakan. Dia adalah anak tertua keluarga Ziberty, Louise Ziberty.
"A--aku minta soal matematika!" Ucapku.
"Lagi? Kemarin sore, kan sudah 50 soal!'' ucap kakak.
"Ibu yang nyuruh, kak!" Ucapku pelan sembari menunduk.
"Berapa soal?"
"100 soal ada, kak?" Ucapku mendongakkan kepala.
"APA???" Ucapnya terkejut.
"Kamu gila? 100 soal itu banyak tau! Bisa-bisa nanti sore baru selesai ngerjain" lanjutnya.
"Gak papa, lah. Udah cepet kasih ke Lista soalnya!" Ucapku menengadahkan tangan.
"Dasar keras kepala!!" Ucapnya padaku dan langsung masuk dan pergi.
Setelah menerima kertas soal, aku langsung mengerjakannya.
*****
4 jam sudah berlalu. Kini jam menunjukkan pukul 12 siang, yang berarti matahari sedang terik-teriknya.
"Semangat, Calista! Bentar lagi selesai! Fiuhh.. untung tinggal cari hasilnya!" Ucapku pada diriku sendiri.
Setelah selesai, aku lekas mandi. Namun, saat baru selesai berpakaian aku malah merasa sakit teramat sangat yang menyerang perutku. Perasaan mual muncul hingga membuatku langsung kembali masuk kedalam kamar mandi.
Aku mengeluarkan seluruh isi perutku. Hanya air, karena aku kemarin sore hingga saat ini belum makan.
Aku menatap wajahku di cermin. Wajah pucat dan rambut yang belum sempat aku rapihkan. Aku lantas mengulas senyum, senyum yang memilukan.
"Ha..ha..ha!! Calista, Calista! Kau bodoh, ya? Tidak lelah?" Tawaku sambil meneteskan air mata.
"Ingin sekali aku mati! Ha..Ha..ha..'' Tawa lepas dari mulutku yang menggema di seluruh ruangan kamar, mungkin terdengar sampai luar.
Ingin sekali aku mengakhiri hidup yang menyedihkan ini. Namun, aku tak pernah bisa melakukannya. Takut akan membuat kak Louise sedih. Hanya dia yang peduli padaku selama ini.
Aku kembali memasuki kamar. Tubuhku lemas sekali. Aku ingin berjalan keluar dari sini. Namun, alu tak sanggup lagi. Aku kembali muntah, namun kali ini adalah darah. Aku melihat ada air di meja pojok kamar. Ingin sekali aku meminumnya. Akhirnya, aku berjalan menghampirinya. Namun, dadaku sesak saat aku selesai meminum air itu.
Prang..
Gelas di tanganku pecah. Serpihannya mengenai kakiku. Aku hanya meringis menahan rasa sakit dan keinginanku untuk melepas tangis. Aku terjatuh, terduduk di antara serpihan kaca yang semakin dalam menancap di kaki dan pahaku.
Pandanganku buram, dadaku terasa berat. Perlahan aku mendengar seseorang menggedor-gedor pintu kamar. Namun, saat itu juga semuanya menjadi hitam.
*****
Pagi menyapa. Menampakkan sang Surya yang seolah tersenyum mengejek diriku yang terbaring lemah entah dimana. Ruangan dengan dinding berwarna gold dan hitam yang mendominasi. Menyeramkan, namun elegan.
Tubuhku tak sanggup aku gerakan. Hanya mata, bahkan mulutku tak sanggup bicara. Aku pikir tadi aku sudah mati, ternyata tidak. Padahal aku mengharapkan itu.
Entahlah, dituangkan ini aku merasa damai dan tak asing. Mataku menjelajahi seluruh ruangan dan berhenti menatap seseorang yang tertidur di sofa.
'Kak Louise' batinku.
Tak lama kemudian, mataku kembali tertutup akibat tenagaku yang belum pulih.
*****
Malam sudah tiba saat diriku membuka mata. Sepertinya, ada banyak orang yang bercakap-cakap di depan kamar ini. Aku mendengar beberapa orang membuka pintu, aku lalu lekas memejamkan mata berpura-pura tidur.
"Tuan, Putri Sierra sepertinya belum sadar. Biarkan saya memanggil dokter, tuan!" Ucap seseorang di dalam kamar ini.
"Hmm.. lebih baik panggil dokter. Aku tidak ingin putriku yang cantik ini kenapa-napa!" Ucap seseorang lainnya.
Orang yang memanggil tuan tadi sepertinya adalah pelayan, dan yang dipanggil tuan adalah majikannya. Mungkin saja, kan??. Tapi, eh.. kenapa mereka menyebut nama Putri Sierra? Apakah disini mungkin ada Putri Sierra yang hilang dulu? Atau, kah mereka salah menyebut diriku putri Sierra? Ah... Entahlah, pikiranku kacau!.
Saat ini, dokter masuk bersama pelayan tadi. Mereka berbincang-bincang sebentar. Namun, lagi-lagi mereka menyebut nama Putri Sierra lagi. Itu membuat diriku semakin penasaran.
"Dokter, buat putri Sierra bisa sadar secepatnya! Saya ingin melihat putri saya sadar!" Ucap orang yang merupakan majikannya.
"Baik, tuan. Kalau begitu, saya akan menyuntikkan obat lagi supaya putri Sierra lebih cepat sadar!" Ucap seseorang yang disebut dokter.
Seketika, bulu kudukku merinding. Apa mereka bilang? Jarum suntik, kan? Semoga saja bukan aku yang disuntik! Ketakutan terbesar milikku hanyalah jarum suntik!
Hening, belum ada pembicaraan apapu yang dimulai lagi. Aku rasa, dokter itu juga sudah selesai menyuntik, kan? Huh, aman.
Tapi, aku merasakan sentuhan di lengan atasku tiba-tiba. Apakah...
"Aaaaggghhhhhh!!!!".
Aku berteriak dengan keras. Pasalnya, jarum suntik itu malah menembus dikulitku hingga aku terkejut dan langsung bangun terduduk sambil berteriak.
Semua orang menatapku, aku jadi salah tingkah. Namun, seketika aku sadar, dihadapan ku adalah... Yang mulia Raja Xaviera! Kaisar kerajaan di negri Wireless ini.
Aku terlelanjat kaget. Dan seketika langsung membungkukkan badan memberi hormat pada yang mulia. Aduh.. semoga yang mulia tidak memisahkan kepala dari badanku!! Aku takut sekali!!.
"Puftt.. hahahaha... Putriku!! Kenapa kau seperti ini pada ayahandamu sendiri? Kau tak perlu sesopan ini!"
Hah? Aku tidak salah dengar, kan? Raja memanggilku.. putriku? Ini pasti bercanda, kan?
Aku langsung mendongak melihat tangan raja yang terbuka seolah menyuruhku memeluknya. Aku tak mampu mendekat, takut dipenggal!! Lalu, raja malah mendekati diriku dan memelukku erat hingga aku sulit bernapas.
"Ra--raja, se--sak!"
"Oh.. maafkan ayah, putriku!"
Lagi-lagi kata-kata ini membuatku kaget.
"Maaf sebelumnya, Raja. Saya bukan putri anda! Saya adalah putri yang diasuh keluarga Ziberty!" Ucapku sopan.
"Iya, mereka menculikmu! Mereka memanfaatkan pesta perayaan musim gugur 17 tahun lalu untuk menculikmu! Namun Louise, dia adalah jendral kekaisaran yang aku perintahkan untuk membawamu kembali setelah melepaskanmu dari keluarga Ziberty sepenuhnya!"
Ucapan raja membuatku tertegun. Nampak sorot mata milik raja yang mengisyaratkan kemarahan yang amat besar. Sangat mengerikan!!
"Apa! Bagaimana bisa seperti ini? Aku—"
Ucapan ku terhenti saat kak Louise memotongnya.
"Bisa, ini semua adalah kenyataan! Aku memang anak keluarga Ziberty. Namun, aku juga adalah jendral besar kekaisaran Wireless. Dan mereka yang sudah membunuh kakek, Router Ziberty. Sang jendral besar dulu sebelum diriku. Mereka meracuni kakek yang telah mengasuh ayah, Zoel Alexius. Keluarga Alexius yang merupakan sahabat kakek hingga kematian kakek merubah segalanya!"
Ucapan kak Louise semakin membuat diriku tercengang. Bagaimana mungkin ada kebetulan hingga sebegini? Hah.. ini semua memang masuk akal! Berarti aku putri Sierra Wireless, kan? Wahhh aku seorang putri!!
"Kak, tapi mereka dari dulu hingga sekarang selalu membandingkan diriku dengan Lisa, itu karena apa?"
"Lisa dulu terbunuh saat dia mengikuti ayahnya pergi ke kota karena adanya perang secara mendadak yang kebetulan terjadi di wilayah itu! Maka dari itu, mereka membunuh kakek karena menganggap penyebab kematian Lisa berhubungan dengan kakek Router!"
Aku hanya meng-ohkan saja. Kenyataannya ternyata serumit ini. Untung aku belum bunuh diri, kalau tidak hilang sudah kesempatan untuk menjadi putri. Ah... Hayalan dulu kini nyata!!!! Senang sekali hati ini!!!.
******
Hari ini, aku akan dinobatkan sebagai Putri mahkota yang akan mewarisi tahta kekaisaran Wireless. Dan hari ini juga, seluruh kekaisaran akan mengetahui kebenaran tentang keluarga Alexius, yaitu keluarga kelas atas yang elit juga merupakan keluarga Duke Northampton Alexius, ayah dari mantan ayah angkatku Zoel Alexius dan mertua dari mantan ibu tiri ku Sovie Vamilio. Mereka akan dikenai hukuman penjara seumur hidup dan kak Louise akan dijadikan jendral besar sebagai penerus dari kakek Router Ziberty.
*****
Dua tahun sudah berlalu. Kenangan buruk dalam benakku juga sudah hilang. Kini, aku akan menikahi seorang pangeran mahkota dari kekaisaran Selelius, yaitu pangeran Nevythory Selelius. Pangeran tampan yang baik dan dermawan serta jenius. Hari ini juga pertunangan kak Louise dengan seorang putri Duke kekaisaran, yaitu Vitalis Holmes. Wanita berparas cantik dengan mata hijau yang terang dan baik.
Kami semua merasakan kehidupan yang bahagia. Hingga kami terpisahkan maut saat umur senja kami.
TAMAT__
Note:
Jangan pernah bandingkan anak-anak dengan yang lain karena dapat menumbuhkan jiwa psikis yang kurang normal dan memicu terjadinya perubahan sikap hingga kepribadian.
Jadilah pemaaf dengan memaafkan orang yang telah melukaimu. Dan jadilah sabar dengan tidak membalas hinaan dengan cacian tetapi dengan senyuman.
YUK GUYS MAMPIR KE KARYA AUTHOR DAN RAMEIN YA...
BUKAN GADIS BISU YANG LUGU!
🤗🤗BABAY...