Dengan gembira kami berangkat menuju sebuah kota yang akan mengantarkan kami menuju sebuah desa di lereng gunung di Jawa Tengah, UKM kami akan mengadakan bakti sosial untuk warga di situ, maka jauh-jauh hari aku dan teman-temanku mengumpulkan dana untuk kegiatan tersebut.
Selain membagikan sembako, biji bunga matahari untuk di tanam, kami juga mengadakan kegiatan bersih-bersih di area lereng gunung tersebut. Sesuai rencana, di hari ke 3 kami yang berjumlah 15 orang itu mendaki gunung yang di puncaknya banyak terdapat pohon edelweis.
Pagi-pagi sekali kami sudah mulai berjalan dan singgah di tiap pos untuk beristirahat sejenak, perkiraan kakak tingkat yang sudah sering manjat, tengah malam kami sudah tiba di puncak, jadi kami bisa beristirahat sebelum menyaksikan sunrise, matahari terbit yang katanya sangat indah disaksikan di puncak tertinggi gunung itu.
"Hah, hah ..." aku mulai terengah-engah mengikuti langkah teman-temanku. Aku memang tidak biasa berolah raga, apalagi ini jalannya nanjak pula. Makin terik matahari, makin mudah aku merasa lelah walaupun jalanan yang kami lalui cukup teduh.
"Ayo dek, semaangat tinggal 1 tikungan lagi," kakak tingkatku memberi semangat. Seketika tenagaku kembali, saat mendengar tidak lama lagi akan sampai.
"Mana bang, katanya 1 tikungan lagi," protesku.
"Iya, satu tikungan lagi terus lurus sebelum ketemu tikungan lainnya," kelakar kakak tingkatku.
Uuh, aku jadi makin kesal di PHP-in begitu, sementara Kenan pacarku hanya tertawa-tawa saja.
"Kenan, aku mau istirahat dulu di situ," kataku sambil menunjuk tenoat yang lebih teduh.
"Ya udah ayo, gak apa-apa. Aku sudah hapal kok jalannya. Ketinggalan dikit masih kekejar, paling juga mereka bakal nungguin kita di pos ke 3," sahut pacarku.
Kami pun membiarkan ke 13 teman kami mendahului dan aku memilih berbaring saja.
Tidak lama datang seorang perempuan yang mungkin seusiaku menghampiri aku dan Kenan.
"Hai," sapanya.
"Eh, mbak. Mau ke puncak juga?" Balasku.
"He-eh, kenalin aku Ivory."
"Oh, aku Kezia dan ini pacarku, Kenan."
"Kalian ke puncak berduaan aja?" Tanya Ivory.
"Gak, kami ber-15 orang, teman kami duluan sebab Kezia kelelahan," jawab Kenan.
"Kalau mbak Ivory, sendirian atau sama teman, nih?" Tanyaku.
"Tadinya berempat, cuma sama sepertimu. Aku kelelahan dan ketinggalan, deh. Untung ketemu kalian."
Setelah beberapa saat beristirahat Kenan mengajak kami melanjutkan perjalanan dan Ivory kami ajak bergabung dengan kami juga.
"Kita harus sampai posko 3 sebelum hari gelap," kata Kenan saat melihat aku mulai malas-malasan berjalan.
Syukurnya kami bisa sampai pos ke 3 tepat sebelum gelap. Saat kami tiba, teman-temanku sudah mulai memasak air untuk menyeduh mie instan, makan malam kami.
Usai makan malam, kakak tingkat kembali mengajak kami melanjutkan perjalanan menuju pos terakhir yang jataknya hanya 2 km dengan puncak.
Kali ini aku memilih tidak mengeluh capek dan mengikuti saja langkah teman-temanku, malu juga sama Ivory yang sejak tadi terkesan irit bicara dan tidak tampak lelah. Aku jadi menarik kesimpulan, ternyata mengeluh bisa menguras energiku.
Wuuuusss, wuuuussss, wuuuusss. Terdengar suara angin cukup kencang.
"Kita berhenti di sini dulu," kata kakak tingkat. "Sepertinya akan ada badai angin," lanjutnya lagi. Kami pun menurut dan aku lagi-lagi memilih berbaring menatap bintang-bintang yang tampak sangat gemilang di langit gelap.
Syukurnya suara angin itu tidak terdengar lagi, tapi ada suara lain yang membuatku lebih heran.
"Ivory, kamu dengar tidak suara berisik seperti kerumunan orang?" Tanyaku.
Ivory mengangguk sambil tersenyum.
"Kita ke sana, yuk," ajakku.
"Jangan, nanti kita tersesat," saran Ivory
"Yaelah, suaranya kencang banget, paling juga didekat-dekat sini," sangkalku.
"Aish, kamu tidak pernah dengar, ya? Itu paling pasar gaib."
"Hah, pasar apa?" Aku minta penjelasan.
"Nanti saja, kalau sudah turun dari sini, pasti kamu ngerti, deh."
Situasi aman, suara angin kencang dan 'pasar' itu tidak lagi terdengar. Maka kakak tingkat mengajak kami melanjutkan perjalanan ke posko terakhir.
"Nah, teman-teman walaupun agak terlambat dari perkiraan, syukur kita sudah sampai posko ke empat. Teman-teman silakan beristirahat dulu besok pagi jam 3 dini hari, kita mulai lanjut perjalanan ke puncak dan menyaksikan sunrise," kata kakak tingkatku.
Yeiii, tentu saja aku sangat gembira atas pengalamanku yang sebentar lagi akan menjadi sesuatu yang sangat kubanggakan : mendaki gunung. Wah, keren banget.
Tepat jam 3 Ivory membangunkan aku, ternyata teman-temanku yang lain sudah terlebih dahulu bersiap. Perjalanan menuju puncak sama sekali tidak membuatku lelah, mungkin karena sudah beristirahat beberapa jam, jadi energiku masih penuh belum lagi aku senang sekali menikmati udara pagi yang dingin dan segar seperti ini.
Hari masih gelap ketika kami tiba di puncak, aku memilih angle yang tepat untukku turut menyaksikan matahari terbit, ini pengalaman pertamaku ... duduk berdampingan dengan kekasih melihat mentari sedikit demi sedikit memperlihatkan cahayanya menerangi bumi. Indahnya kebangetan, deh.
Saat matahari sudah membuat tempat kami berpijak, Kenan menutup mataku dengan kedua tangannya dan membawaku ke suatu tempat.
"Taraaa!" Kata Kenan sambil menjauhkan tangannya dari mataku.
"Wow, i-ini ..."
"Iya, taman edelweis. Cantik, kan?" Sahut Kenan sumringah. Aku pun berlari menyongsong taman edelweis itu, sungguh ... jika saja ini bukan puncak gunung, aku yakin pasti ada tukang kebun yang mengurusnya. Aku tidak peduli dibilang norak, saat berlari dari pohon satu ke pohon yang lain seperti penari India, haha. Tarianku terhenti saat melihat sebuah tas ransel yang sepertinya aku kenal.
"Ken, ini bukannya tas Ivory?"
Kenan mengedikkan kedua bahunya, karena penasaran aku memutuskan untuk membuka tas itu. Benar, di dompetnya ada KTP atas nama 'Ivory Havika'.
"Eh, benar ini punya Ivory," gumamku seraya menutup kembali tas itu.
"Ivoryyy ... Ivoryyy," panggilku. Lalu aku mengatakan pada teman-temanku bahwa Ivory 'hilang' dan beberapa dari mereka berusaha mencari keberadaan Ivory, namun nihil. Kakak tingkatku memutuskan untuk kembali saja dan setuju tas Ivory aku bawa serta. Niatku tas itu akan aku kembalikan ke alamat rumah yang kotanya tidak jauh dengan tempat tinggalku.
Berbeda dengan perjalanan pergi yang sangat melelahkan, langkahku terasa ringan saat menuruni gunung, Kenan bahkan menawarkan punggungnya untuk menggendongku, alasannya biar aku gak keberatan karena aku membawa 2 ransel, milikku dan Ivory. Aku tambah gembira karena digendong pacarku, hehe.
***
Setelah kembalinke rumah, maka yang kulakukan setelah mandi dan makan adalah ... tidur seharian.
Keesokan harinya baru aku meminta Kenan dan beberapa temanku yang mendaki gunung kemarin itu berkunjung ke rumah Ivory, mengantarkan tasnya.
Raut wajah wanita setengah baya itu tampak heran saat mendengar tujuanku ke situ adalah untuk mengantarkan tas Ivory.
"Em, kalian bertemu di mana?" Tanya ibu itu setelah mempersilahkan kami masuk.
"Antara pos 2 dan pos 3, bu," jawabku.
"Apa dia mengenakan celana dan jaket serta topi warna hijau lumut?"
"Iya, bu. Pakai topi coklat juga," tambahku. "Ih iya, malam itu di pos 3 aku tidur berdekatan dengan Ivory, dia bercerita banyak tentang keluarganya, termasuk ibu. Dia bilang dia sangat mengasihi ibu."
Ibu Ivory tersenyum singkat sambil menghela nafas, lalu mengambil sebuah album foto. "Saat berangkat dia memang mengenakan pakaian iti. Ivory mendaki gunung itu bersama ketiga temannya, sayangnya ... 2 orang selamat dan 2 orang lagi tewas, akibat tergelincir saat hujan lebat."
Ibu itu lalu mengusap air matanya.
"Hm, tapi bu ... sampai kami memutuskan turun, kami tidak menemukan Ivory apalagi teman-temannya. Kami sudah menghubungi tim SAR.
Ibu itu menggeleng, "Harusnya tidak perlu. Tim SAR sudah menemukan mereka dan Ivory sudah di sini."
"Oh ... kok kami tidak tahu kalau dia pulang ya, bu. Maaf ... Ivory tidak pamit sama kami, bu."
"Iya, Ivory sudah pulang 2 tahun lalu," jawab ibu itu membuatku terbelalak. Kemudian ibunya Ivory mengajak kami ke teras samping rumahnya.
Aku lebih terbelalak lagi saat melihat, nama yang tertulis di situ 'Ivory Havika' dan tanggal meninggalnya persis dengan tanggal kami bertemu dengannya hari itu, hanya berbeda tahun saja.