Indah namun tak bisa kuraih, begitulah aku menggambarkan hidup ini. Lika liku kehidupan telah kulalui. Tapi tak kunjung kutemui bahagia yang menghampiri. Aku memiliki segala hal yang tak dimiliki orang lain tapi hanya satu yang tak pernah aku miliki, yaitu sebuah hati.
Orang-orang selalu menyebutku tak berhati. Tapi mereka tidak tau akan apa yang dilalui hidup ini karna tak berhati.
Aku tidak memahami kenapa semua orang bisa beranggapan seperti itu. Kulalui hidupku dengan sepenuh hati walau tak kutemui seseorang yang bisa menemani.
Aku memandangi langit berharap hujan akan turun. Tapi sungguh sayang hari ini begitu sangat cerah.
Setiap kali aku menginginkan sesuatu, takdir tak berpihak padaku.
Aku kesepian, aku bosan selalu sendiri dan menyendiri. Tuhan tak pernah mendengarkan doa-doaku. Aku punya segalanya tetapi kenapa aku dibiarkan seorang diri. Kenapa aku tidak bisa merasakan bahagia seperti yang lain. Tuhan tidak adil padaku.
"Tuhan, kenapa aku kau biarkan menjalankan hidup ini seorang diri. Aku punya segalanya. Tapi kenapa.... kenapa tidak ada yang menemaniku. Kenapa kau begitu tidak adil. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya kebersamaan, ingin merasakan yang namanya kebahagian."
Aku pernah percaya dengan hati. Tapi hati juga yang tiba-tiba datang menyakiti. Aku pernah merasakan bahagia yang amat sangat membahagiakan. Tapi sekali lagi hati menghancurkan segalanya. Aku begitu percaya tapi ditinggalkan. Aku berikan segalanya agar hati ini tetap bisa mempercayai. Namun semua menjadi pilu, semua menjadi luka karna sosok yang menyakiti hati.
Aku terus bermimpi hati ini bisa kembali kesosoknya lagi. Namun semuanya sirna ketika mencobanya lagi. Dimanakah aku harus mencari sosok penyejuk hati? dimanakah aku harus mencari sang pengobat hati ?
dimanakah ? katakan padaku ?
Aku sudah lelah hidup seperti ini. Tuhan berikan aku keadilan untuk hidupku ini. Setidaknya kau berikan aku obat untuk hati ini, setelah itu aku tak inginkan yang lainnya.
Aku hanya ingin bertemu sosok hati yang bisa menemani diri ini. Tapi kumohon tolong sembukan luka hati ini.
Tuhan walaupun bukan hari ini, esok, lusa dan seterusnya aku akan menanti. Menanti tentang kebenaran hati ini.