Terinspirasi World Brain Tumor Day, yang dirayakan tiap tanggal 8 Juni, tahun 2022 bertema 'Together We are Stronger'
---
Aku memandang lekat wanita yang kunikahi
6 tahun yang lalu, jujur saja ... pertama aku tertarik padanya karena kecantikannya, dan walaupun hampir 1 dasawarsa kami saling mengenal, dia tetap saja cantik di mataku. Senyumnya manis, dulu rambut bergelombang, kulit bersih, dengan badan yang cukup berisi menjadi poin pelengkap keindahannya sebagai seorang wanita yang kupilih jadi pendampingku, Ruby.
"Sayang, sudah kubilang berhenti melihat album foto itu," tegurku saat melihat Ruby, menyapu air matanya.
"Aku hanya ingin membuktikan kalau kamu sering membohongimu, pa."
"Hah, bohong gimana?" Tanyaku heran.
"Lihat baik-baik perempuan ini, dan bandingkan dengan aku yang sekarang, jauh sekali ... tapi kamu selalu bilang aku cantik," kata Ruby sambil memperlihatkan beberapa fotonya dulu, sebelum sakit.
"Lho, kenyatannya kamu memang cantik, kok. Mau gemuk atau kurus, berapa kilo pun berat badanmu, kamu tetap cantik di mataku."
"Tapi ... aku sekarang jelek banget, pa. Rambut gelombangku sudah tidak ada, badanku kurus dan gak kencang lagi, bagaimana bisa papa bilang cantik? Sementara aku gak merasa begitu."
"Ah kamu emang gitu, dari dulu sukanya gak pede. Kita mandi dulu ya, ma ... mumpung Kenan masih tidur," kataku sambil menggendongnya ke kamar mandi. Aktivitas rutinku setiap pagi setelah membersihkan rumah, memandikan Ruby lalu kami sarapan bersama lanjut mengurus Kenan, setelah itu baru aku mulai masuk ke ruang kerjaku hingga tengah hari.
Mungkin ada yang berpikir aku melakukan ini karena aku pria yang romantis, sebenarnya tidak juga. Aku melakukan itu karena istriku tidak kuat berjalan sendiri meski cuma selangkah.
Ruby didiagnosis kanker otak 2 tahun lalu. Saat itu Kenan anak pertama kami baru berusia 4 bulan Ruby mengeluh sering pusing dan mual-mual. Awalnya aku berfikir positif saja, karena gejalanya persis seperti hamil Kenan dulu, jadi kupikir kali ini tanda-tanda Kenan mau punya adik.
"Aaa, kasihan Kenan, Pa. Masih kecil masa punya adik, sih?"
"Gak apa-apa, kan biar kita sekalian ngurusnya, sayang. Toh anak-anak gak selamanya kecil. Ingat, kita dulu nunggu 3 tahun lho baru kamu hamil, kalau yang ini jadi, syukuri dong. Jangan khawatir aku ini lelaki terbaik untukmu yang rela begadang demi bikin anak sampai jadi terus bantu ngurusin juga."
Ruby hanya tersenyum masam mendengar perkataanku, bisa kumengerti sebagai ibu, dia tentu akan sangat repot mengurus 2 bayi nantinya ditambah aku sebagai bayi senior-nya, hihi.
"Negatif, pa." Ruby memberikan alat tes kehamilannya padaku setelah kupaksa ia memeriksa air seninya.
"Yah, nanti sore kita ke obgyn ya, ma."
"Buat apa sih? Aku yakin gak hamil lagi, telat mens juga gak."
"Ya, buat memastikan aja. Kali aja memang sudah ada calon adeknya Kenan," harapku
***
Pulang kerja, aku membawa Ruby ke dokter kandungan untuk memastikan dugaanku.
Hasil USG tidak menunjukkan ada janin di situ. Kulihat Ruby sedikit lega, namun kemudian ia menyampaikan keluhan sakit kepala parah di sisi kiri selama kurang lebih satu bulan, disertai mual, muntah, dan kadang pandangannya buram pada dokter Obgyn.
Dokter itu mencerna apa yang disampaikan Ruby, "Semoga dugaan saya salah, tapi sebaiknya bapak membawa ibu periksa secara intensif."
"Maksudnya istri saya kenapa, Dok?" Tanyaku penasaran.
"Em ... periksa saja dulu, pak," dokter obgyn itu mengulangi sarannya.
Keesokan hari aku membawa tim kecilku ke rumah sakit. Setelah menjalani rangkain tes yang cukup merepotkan, kami diharuskan kembali 1 mingu lagi untuk mengambil hasilnya.
Selama menunggu 1 minggu itu, sering kudapati Ruby bengong atau menangis pelan entah karena apa.
"Kenapa sayang, apa aku telah menyakitimu, kamu tidak bahagia hidup bersamaku, hm?"
"Bukan, pa ... kepalaku, sakit banget," keluh Ruby. Aku pun memberinya obat sakit kepala dan menyurihnya beristirahat, jadi aku mengambil alih Kenan dari gendongannya, tapi obat itu rupanya tidak berefek.
Hasil MRI menunjukkan Ruby memiliki meningioma di sisi kiri kepala, tepatnya di belakang telinga. Ya Tuhan ... .
Setelah mendapat hasil test itu, tindakan pertamaku adalah mengundurkan diri pekerjaanku dan bekerja secara freelance dari rumah, agar senantiasa bisa menjaga Ruby dan anak kami Kenan. Entah berapa lama Ruby mampu bertahan, aku selalu bersyukur dan terus menyemangatinya.
Ruby tidak boleh lelah, makanya aku berusaha tidak membebaninya. Aku yang semula tidak bisa memasak, kini terampil meracik makanan sehat untuk kami bertiga. Aku yang dulunya tidak bisa mengurus rumah kini sudah terlatih menjaga kebersihan dan kenyamanan tempat tinggal kami. Aku bahkan tidak peduli dikatain 'suami takut istri' karena memang kenyataannya aku takut istriku meninggalkanku. Aku akan melakukan apa saja, demi mengusahakan kesembuhannya agar Ruby bisa tinggal lebih lama denganku dan Kenan.
"Dokter hanya bisa memprediksi, tapi tetap Tuhan yang berkuasa menentukan semuanya, sayang," ujarku memotivasi Ruby sekaligus diriku sendiri juga.
"Pa, aku sekarang bukan lagi istri yang sempurna."
"Kata siapa? Tidak ada yang boleh mengataimu seperti itu."
Ruby tersenyum getir, "Cinta kita, pernikahan kita benar-benar sedang diuji lewat sakitku."
"Cukup jalani dan syukuri. Coba fikir, jika kamu tidak sakit kapan aku merasa kamu butuhkan dan kapan kamu yakin kalau aku sungguh-sungguh mencintaimu, sayang."
"Iya juga, dan kapan lagi aku bisa menahanmu tidak bekerja agar selalu ada untukku dan Kenan."
"Ah, betul juga."
Kini kanker otak yang dialami Ruby mulai menyerang sistem pusat pengendali tubuh, sehingga Ruby sedikit mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas fisik. kemo dan radioterapi, setiap dua minggu sekali aku menemaninya ke rumah sakit datang untuk konsultasi dan memeriksa kondisi perkembangan serta efektivitas terapi yang Ruby jalani. Rutinitas itu terus kami jalani sampai selesai 40 kali radioterapi tanpa absen atau terlambat sekali pun.
Setelah selesai 40 kali sesi radioterapi dan kemoterapi, kondisi Ruby dinilai bagus. Memang ada beberapa efek samping dari kemoterapi dan radioterapi yang Ruby rasakan, rambutnya rontok dan kemampuan memori berkurang. Namun aku bersyukur, sejauh ini Ruby masih bertahan dan aku masih memilikinya, masih bisa melihat senyumnya dan yang paling membuatku terharu adalah, dengan keterbatasannya dia selalu berusaha memperhatikan kebutuhanku dan melayaniku dengan sangat baik. Terima kasih Ruby, bersama kita kuat.