Demi menyelamatkan keluarga yang bangkrut, kamu di paksa menikahi seorang pria kejam oleh orang tua mu, semua orang menanti untuk mentertawakan mu, tapi tidak ada yang tahu jika kamu sebenarnya tak hanya punya harta melimpah, tapi juga pandai bela diri, menghadapi pria kejam yang berjalan mendekati, kamu akan......
Aku akan apa? Akan diam saja, membiarkan pria kejam itu menyiksa ku sampai mati? Atau aku akan membela diri dan balik membuatnya mati di tangan ku?
Harus rela mengalah demi keluarga untuk menyelamatkan keluarga yang bangkrut, tapi orang hanya tahu pria yang akan aku nikahi adalah pria kejam, biar saja lah asal ia tidak kejam pada ku, bagaimana mau kejam, akunya malah yang terkesan galak hahaha, antisipasi jangan sampai aku luluh padanya.
Bodonya aku saat mandi tidak membawa baju ganti, yang ada hanya 1 handuk itu pun aku gunakan untuk melilit tubuh ku yang mulus sayangnya lagi rambut ku yang basah harus tergerai dan airnya membuat lantai basah.
Buuugh
Aku memejamkan mata saat aku rasa aku terjatuh karena terpeleset, tapi aku salah, "Kenapa rasanya tidak sakit? Aku kan terjatuh!" seru ku dengan mata terpejam.
"Bodoh, mana ada sakit... kau menindih tangan ku... cepat buka mata mu!" bentak Pram yang kini menjadi suami kejam ku.
Batin Pram, "Aroma tubuhnya membuat ku gila, dengan mata lentiknya, hidung mancungnya, bibirnya yang ranum, ingin aku telan."
Pram bangkit dari posisinya membantu ku untuk berdiri, "Makasih, awas jangan ngintip... aku mau ganti baju." ketus ku.
"Dasar kau, sudah di bantu bukannya terima kasih, siapa juga yang mau ngintip, yang ada pada diri mu itu milik ku!" tekannya dengan ke luar dari kamar dengan membanting pintu.
"Pria aneh." sungut ku.
.
.
.
"Eh ada Nona Nai, datang sendirian aja nih? Gimana di rumah suami, enak gak? Setiap hari Pram main tangan gak?" oceh wanita dengan lipstik menornya.
"Aiiih, sayang sekali menikah dengan pria tampan dan kaya tapi tidak di cinta, buktinya Nai datang ke acara keluarga sendiri saja, tanpa Pram yang menemani." tambah wanita dengan sanggul besar mengalahkan talenan bulet.
"Ya ampun, paling kalung berlian yang di pakai Nai hanya berlian KW." nyinyir wanita dengan tongkat tangannya.
Batin Nai, "Sabar Nai, jangan terpancing emosi, sabar... lawan mereka semua dengan kata kata pedas mu."
Dengan tenangnya Nai berkata, "Aku ini sehat, gak perlu lah mas Pram menghadiri acara seperti ini, toh rapat dengan relasinya jauh lebih menguntungkan perusahaan tidak hanya perusahaan yang di untungkan, tapi aku juga kecipratan, jangankan berlian, mobil, pesawat pun pasti akan di belikan mas Pram hanya untuk ku." ujar Nai sambil berlalu mengambil minum.
Pram melihat dari depan pintu, "Tidak di sangka, ku pikir dia akan menjatuhkan ku, ternyata boleh juga." Pram melangkah maju mendekat ke arah Nai.
"Maaf sayang, aku terlambat... tidak seharusnya aku membiarkan mu menghadiri acara ini, ayo ikut aku, akan ku ajak dirimu memilih mobil atau berlian yang kau mau." ujar Pram dengan merengguh pinggang Nai dengan tangan kanannya dan mendaratkan kecupan di kening.
Nai terkesima tanpa bisa berkata, "Gila, minum obat apa ini mas Pram, bisa tahu apa yang gua omongin tadi." gumam Nai.