Aku menatap Ibu yang tengah tersenyum bahagia menatap diriku dalam balutan gaun pengantin. Senyum sumringah dan rona wajah yang penuh sukacita membuatnya terlihat begitu cantik. Aku memandang diriku di cermin dan menyadari bahwa hal yang bertolak belakang tercermin di wajahku. Aku tidak bahagia.
Lelaki yang akan Ku nikahi hari ini adalah orang yang sangat Aku benci, lelaki dingin yang selalu menghina wajah cacatku selama bertahun-tahun.
Aku tidak mengerti, mengapa Ia mau menyetujui perjodohan konyol yang dilakukan ibuku dan ayahnya. Melihat wajahnya hanya akan membawa kenangan buruk bagiku, dan kini Aku harus melakukan itu setiap hari.
Dengan Ibu yang menggandeng tanganku, Aku berjalan menuju tempat akad pernikahan. Di ujung sana seorang lelaki dengan tatapan dingin menatapku dari atas hingga ke bawah, seolah meremehkan.
*
Setelah ijab kabul selesai, Aku menyalaminya sebagai bentuk hormatku kepada lelaki yang akan menjadi imamku ke depannya. Lelaki yang akan membimbingku untuk menjadi seorang wanita seutuhnya. Namun, kurasa tidak begitu adanya.
Sejak kata 'Sah' memenuhi seisi ruangan itu, Aku tau bahwa hari-hari buruklah yang akan menantiku.
" Evan, Aku tidak tau harus bagaimana sekarang. Aku telah resmi menjadi istrimu, namun Kau tau Aku sama sekali tidak siap untuk hari ini. " ujarku pada Evan di malam pertama Kami.
" Tenanglah, Aku tidak akan menyentuhmu. Baik malam ini maupun ataupun selanjutnya. Kita mungkin suami istri, namun Kau pasti tau itu tidak ada beda halnya dengan perjanjian di atas kertas saja. " balasnya dingin.
Aku tidak tau harus berterima-kasih atau kesal dengan ucapannya. Namun, Aku rasa itu adalah yang terbaik untuk Kami berdua.
*
Evan POV
Aku menatap Ivona yang tengah tertidur di sampingku. Aku tau, Ia sengaja tidak menghapus riasan wajahnya. Ia tidak ingin menunjukkan wajah yang selalu menjadi bahan hinaanku. Aku tau Ia benar-benar membenciku, namun ini satu-satunya cara untuk bertanggung-jawab atas apa yang selama ini telah kulakukan. Lagipula Aku memang tidak tertarik untuk menikah dengan siapapun, jadi menikah dengan Ivona juga bukan suatu hal yang buruk. Ya, meskipun Aku belum mencintainya.
Sebenarnya, tepat sehari sebelum Ayah menjodohkanku dengan gadis ini. Aku datang ke reuni sekolahku dan Ivona. Aku tau bahwa Ivona tidak akan datang ke acara itu, karena Ia terlalu benci melihatku dan orang-orang yang menghinanya di masa lalu. Namun, Aku bersyukur Ia tidak datang hari itu.
" Apa kalian ingat Ivona? " Alex, salah satu temanku menyinggung nama yang sudah lama tidak Aku dengar.
" Tentu saja, gadis dengan wajah seperti monster itu kan? " ujar Lia, Kekasih Alex.
" Aku bertanya-tanya lelaki mana yang akan menikahi gadis itu, membayangkan wajahnya saja sudah membuatku jijik. Bagaimana jika harus melihat wajahnya setiap hari. " Ujarnya penuh dengan sarkasme.
" Aku rasa dia tidak seburuk itu. " ujarku, meskipun ada sedikit bekas luka di wajahnya, namun menurutku Ivona sama sekali tidak bisa disamakan dengan monster.
" Sepertinya tidak begitu, Evan. Bukankah Kau yang dulu dengan begitu kejam menghina wajahnya? Mengapa sekarang tiba-tiba membelanya. " ujar Lia.
" Apakah Aku dulu begitu? Tidak, hanya saja Aku merasa di usia Kita, Apa masih pantas membicarakan fisik orang lain seperti ini? " Ujarku kembali.
" Sepertinya Kau banyak berubah semejak kembali dari Amerika, Kau sungguh sudah berbeda dengan Evan yang Kami kenal, bukan begitu teman-teman?" Seisi ruangan tampak menyetujui ucapan Alex.
" Namun, jika itu perubahan yang baik. Bukankah Aku beruntung? "
" Terserah, hanya saja tidak begitu menyenangkan bergaul denganmu sekarang."
*
Ivona POV
Ini adalah bulan kedua pernikahan Kami, Aku memutuskan untuk mengunjungi Ibu hari ini. Awalnya Aku tidak ingin mengajak Evan, namun Ia menanyakan jadwalku hari ini dan memutuskan untuk ikut denganku.
Aku masuk ke mobil sambil membawa beberapa tas berisi makanan dan perlengkapan di jalan, perjalanan dari tempatku ke kota tempat Ibu tinggal memang lumayan jauh.
Sepanjang perjalanan, Evan hanya fokus menyetir tanpa berbicara sepatah kata pun padaku. Aku memilih untuk menyetel drama korea favoritku di ipad milikku. Setidaknya, Aku tidak akan mati kutu karena situasi hening seperti ini.
Sesekali Aku tertawa karena adegan lucu di drama yang Aku tonton, Aku dapat melihat Evan sesekali melihatku dengan ujung matanya. Apakah Aku begitu norak? hingga Ia melihatku seperti itu.
Aku memutuskan untuk tidak memikirkannya dan melanjutkan menonton salah satu drama favoritku itu. Bagiku, tidak masalah jika Kita terlalu ekspresif terhadap apa yang Kita nonton. Itu menunjukkan bahwa Kita manusia yang penuh dengan intuisi dan perasaan, tidak norak sama sekali.
Kami sampai di Rest Area dan Aku menghentikan kegiatan menontonku karena Evan menyuruhku untuk turun.
" Apa Kau lapar? Kau ingin makan apa? " tanyanya, sambil menatap sekeliling rest area yang penuh dengan gerai makanan.
" Aku tidak lapar, bolehkah Aku ke toilet sebentar? Jika Kau ingin makan silahkan saja, nanti Aku akan menelponmu untuk menanyakan keberadaanmu. " ujarku.
" Baiklah, silahkan. " balasnya singkat.
Aku menuju toilet terdekat dan berniat mengganti pembalutku. Jika Ibu tau Aku masih datang bulan, Ia pasti kecewa.
Setelah sampai di toilet, Aku menyadari bahwa Aku tidak membawa pembalut di sling bag ku. Aku meletakkan di tas lain di mobil. Aku terdiam sejenak, bingung bagaimana akan keluar dari sini. Haruskah Aku berteriak pada seseorang di luar toilet untuk memberiku pembalut. Ah, Aku benar-benar bodoh.
Aku memutuskan untuk menghubungi Evan meskipun harus menggadaikan sedikit rasa maluku.
" Evan..."
" Iya, kenapa? Kau dimana? Mengapa lama sekali? " tanyanya.
" Err, Aku masih di toilet. " ujarku.
" Apa yang Kau lakukan menghubungiku ketika masih di toilet, tidakkah Kau tau Aku sedang makan? " dumelnya.
" Itu..itu Aku mau minta tolong. "
" Apa? Cepat, jangan berlama-lama di toilet. Aku malas menunggumu. "
Mengapa dia tiba-tiba begitu bawel sekarang, mengapa Aku yang menstruasi namun Dia yang seperti orang PMS.
" Bisakah Kau membawakanku Pembalut? " Aku memejamkan mataku saking malunya, terlebih ketika Evan tidak menjawab dalam beberapa detik.
" Baiklah, tunggu disana. " ujarnya.
Apa? Dia mau membantuku? Serius?
*
Evan POV
Aku mengetuk pintu toilet tempat dimana Ivona berada. Aku memberikan kresek berisi pembalut dengan berbagai macam merek melalui celah pintu toilet kepadanya.
Sebenarnya Aku sedikit risih dengan pandangan orang-orang di sekitarku. Namun, Aku mencoba menyikapinya dengan acuh tak acuh.
" Terima Kasih " Ivona keluar dari toilet setelah beberapa saat. Aku segera menggandeng tangannya dan mengajaknya pergi dari sana.
" Mengapa Kau merepotkan sekali? haruskah Aku bertanggung-jawab atas periode bulananmu itu, harusnya Kau tidak datang bulan saja. " dumelku malu dengan situasi tadi.
" Jika begitu mengapa Kau tidak membuatku tidak harus datang bulan saja. " gumamnya pelan, namun tetap terdengar olehku.
*
Ivona POV
Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan setelah insiden memalukan di rest Area tadi. Aku sangat berharap bahwa Evan tidak mendengar kalimat yang Aku gumamkan secara spontan tadi. Tapi, melihat reaksinya sepertinya Dia memang tidak mendengarnya.
Ketika suasana hening, tiba-tiba perutku berbunyi. Aku tersadar bahwa Aku belum makan apapun, sedangkan jam makan siang sudah berlalu.
Aku mengambil tas di jok belakang, dan mengambil beberapa snack yang berada disana.
" Apa kenyang, hanya makan itu? " tanya Evan tiba-tiba.
" Kenyang, kok. " balasku singkat.
" Tadi diajak makan gamau, sekarang malah makan snack doang. " ujarnya lagi.
" Ya gimana lagi, tadi Aku kan ga laper. "
" Terus sekarang laper jugakan? Ini Aku tadi beliin Rice box. Ambil aja tuh di jok belakang. " Memang benar bahwa disana ada ricebox, namun Aku memilih untuk tidak mengambilnya.
" Kenapa? Gamau? " tanyanya lagi.
" Engga ah, makan ini aja. " balasku.
Evan menghentikan mobilnya sejenak di pinggir jalan, lalu mengambil Rice box yang tadi Ia bicarakan.
" Udah ini, jangan banyak engganya. Makan aja. " Ia memberikan Rice bowl itu dan kembali menyetir.
*
Kami sampai di rumah ibuku keesokkan harinya. Ada sebuah mobil yang terparkir di depan rumah itu. Aku bertanya-tanya siapa yang menggunjungi Ibu sepagi ini, anehnya Evan justru menatap mobil itu dengan pandangan yang tak bisa diartikan.
Aku membawa beberapa oleh-oleh yang ingin kuberikan pada Ibu, dengan semangat Aku akan masuk ke rumah namun tiba-tiba Evan menahanku.
" Jangan masuk. " ujarnya dingin.
" Kenapa? Ibu, Ivona dateng...bu. " Aku menyingkirkan tangannya dan masuk ke rumah.
Disana Ibu bersama errr Ayah Evan tengah bermesraan membuat Aku tak mampu berkata-kata saking terkejutnya.
" I...Ibu.." seruku dengan suara bergetar.
" Ivona, kenapa tiba-tiba datang? Kamu ga bareng...."
" Aku disini. " Evan tiba-tiba muncul di belakangku. Membuat Ayahnya terkejut.
" Evan, mengapa tiba-tiba kesini? " tanya Ibuku pelan. Sedangkan Aku, masih tidak percaya dengan apa yang Aku lihat.
" Heem, hanya ingin memperlihatkan pada Ivona apa yang sebenarnya kalian rencanakan selama ini. " balasnya dingin.
" Jaga omonganmu, Evan. " Ayah Evan tampak murka dengan perkataan putranya.
Aku tau bahwa Evan sama sekali tidak berniat seperti itu, melihat Ia yang melarangku untuk masuk membuktikan bahwa Ia juga tidak menduga kejadian hari ini.
" Ivona, Ayo Kita pulang. " Evan menarik tanganku.
Aku hanya mengikutinya begitu saja.
" Ivona, dengarin dulu penjelasan Ibu.." Ibuku bangkit dan akan mengejarku. Namun, Ayah Evan menahan tangannya.
" Sudahlah, Ratna. Kita jujur saja pada mereka. " Aku menatap Ayah Evan tidak percaya, apakah Ia bangga menempatkan Aku, Evan, dan ibuku dalam keadaan rumit seperti ini.
" Baik, jujurlah. Apa yang sebenarnya kalian lakukan? " seruku penuh dengan emosi.
" Aku dan Ibumu sudah menjalin hubungan ini sejak lama, dan Kami berharap dengan menjodohkan kalian. Hubungan Kami tidak akan terungkap. "
" Mengapa anda mudah sekali mengatakannya? Apakah anda tidak berpikir perasaan Kami yang mendengarnya? Istri anda bahkan belum satu tahun meninggal dunia, apakah Anda bahkan menyelingkuhinya di saat-saat terakhirnya? " Aku menyadari bahwa Ibu Evan meninggal tahun lalu, apakah Ibuku sudah menjalani hubungan terlarang itu sejak Ibu Evan masih hidup?
" Ivona, itu tidak yang seperti Kamu pikirkan. " bela Ibuku.
" Aku tau, bahwa ada yang aneh ketika Aku tiba-tiba dijodohkan dengan Evan. Ibu bahkan tau Aku membenci Evan, tapi bersikukuh untuk menjodohkan Kami. Ternyata ini alasannya, sudahlah Evan Ayo kita pulang saja. " Aku menarik tangan Evan meninggalkan ruangan itu dengan rasa benci yang tak berujung.
***