Namaku Alea, aku baru berumur empat belas tahun dan duduk dibangku SMP. Malam ini malam Minggu, seperti biasa aku dan juga my bestie nongkrong di depan rumahku.
My bestie, Retno sedang curhat tentang Agus pacar barunya. Dia bercerita panjang lebar dan aku sebagai tempat sampah eh maksudku sebagai pendengar setianya. Maklum saja sampai detik ini aku belum pernah sekalipun berpacaran.
Bukannya nggak laku atau nggak cantik, hanya saja aku takut. Takut kalau lepas kontrol layaknya ABG lain. Belum lagi papaku yang super mengerikan setiap ada cowok datang ke rumah. Hiiii … membayangkannya saja aku merinding.
Aku dan Retno duduk santai di teras rumah ditemani cemilan dan minuman cola favorit kami berdua. Suasana memang agak dingin dan lembab karena baru turun hujan sore tadi.
Lampu teras hanya diterangi bohlam 5 Watt agak temaram tapi cukuplah buat menerangi kami malam ini. Sedang asyiknya mengobrol tetangga kami menyapa. Dia adalah pemuda tertampan tingkat RT. Kami mesam mesem tersipu disapanya.
Retno langsung mengambil langkah didepanku mendekati pemuda yang bernama Rahman. Tipe cewek agresif. Sementara aku hanya tersenyum saat Rahman dengan sengaja menggodaku dengan tatapannya. Aku tahu dia suka aku sejak dulu cuma … aku takut, takut nggak bisa menahan diri jika berdekatan dengannya.
Tak lama Rahman pun pergi meninggalkan kami berdua setelah sebelumnya dia meminta nomor telepon Retno dan tentu saja kembali menggodaku dengan kerlingan matanya.
Andai dirumah papaku nggak galaknya setengah mati mungkin sudah aku sosor itu cowok ganteng.
Retno kembali duduk dan kami kembali bercerita, mengobrol panjang lebar tentang Rahman. Terkadang kami tertawa cekikikan saking serunya cerita.
Ditengah asyiknya mengobrol tiba-tiba saja buku kudukku berdiri. Aku terkesiap dan memutar pandangan ke sekeliling, begitu sunyi dan gelap di beberapa sudut halaman.
Retno masih asyik bercerita ketika aku mulai merasa gelisah tak jelas. Yah, aku memang terlahir sensitif terhadap sesuatu yang berbau gaib, mistis, dan sejenisnya.
Aku bisa merasakan aura lain yang menyapaku nakal, hawa aneh yang aku benci karena membuat tubuhku sakit. Dan benar saja tak lama setelah aku merasakan itu pohon sirsak yang ada di depan kami bergoyang seperti ada yang sedang menaikinya.
Retno belum menyadari hal itu, tapi mata tak biasa ku menangkap sesuatu sedang bergelayut di atas pohon. Bayangan hitam dengan matanya yang merah nyalang, sedang menatap kami berdua.
Aku pura - pura tidak melihatnya, dan mendengarkan cerita Retno dengan resah.
Duuuh ni anak kapan selesainya sih cerita!
Aku menggerutu karena rasa sakit di tubuhku semakin menjadi. Retno berhenti bercerita ketika terdengar suara seperti pasir yang dilempar dari atas pohon. Suara itu disertai gemerisik kasar batu kerikil yang jatuh.
Retno menatapku minta penjelasan, aku hanya mengedikkan bahu. Ia mengajakku melihat siapa yang usil mengganggu acara curhatan kami. Dengan santainya menarikku hingga tepat berada di bawah pohon sirsak.
Hawa aneh aku rasakan semakin kuat rasanya seperti tolakan dua kutub magnet yang berbeda jika didekatkan. Aku melirik ke atas pohon sirsak, makhluk itu menyeringai padaku dengan air liur yang hampir saja menetes ke arah wajahku.
"Bunyi apaan tadi?" tanya Retno bingung.
"Entah, orang iseng kali mau ngerjain kita." jawab asal.
Aku kembali melirik ke atas, makhluk itu masih bercokol disana.
"Mungkin, yuk kita duduk lagi!" ajak Retno.
Tepat saat kami berbalik, suara lemparan pasir dan kerikil kecil kembali terdengar tepat di belakang kami. Langkah kami terhenti dan kemudian saling berpandangan.
"Ehm, si Mas Rahman kali iseng ngerjain kita!" kataku pada Retno berusaha menenangkan dirinya.
Aku tahu itu ulah si setan sawer! Tapi aku tidak ingin Retno takut. Dia berinisiatif kembali mendekati pohon sirsak, aku mencegahnya tapi dia nekat.
Retno celingukan mencari orang, tapi memang disana tidak ada siapapun selain si setan sawer itu. Retno membalik badannya dan saat itulah si setan sawer kembali beraksi.
Melempar Retno dengan sejumput pasir dan kerikil. Retno otomatis menjerit dan berlari sekencang-kencangnya meninggalkan aku sendirian di depan pohon sirsak.
Aku bingung, antara takut dan kesal karena ulah si setan sawer. Akhirnya kuputuskan untuk duduk sambil menghadap ke pohon sirsak. Aku menunggu si setan turun dari pohon.
Yaaah, aku memang menantangnya! Aku kesal karena dia sudah membuat acara seru dengan my bestie berantakan.
Setan itu sekali lagi beraksi dan melemparkan pasir membuat suara berisik yang menggelikan telingaku. Aku masih menunggunya untuk turun dan datang padaku. Rasanya sudah gatal tanganku ingin menghajar setan kurang ajar itu.
Tapi satu jam telah berlalu, tidak ada lagi suara lemparan pasir dan kerikil. Setan itu kabur dengan sendirinya setelah lantunan ayat suci aku bacakan perlahan dan jelas sesuai ajaran guruku.
Yaah, sejatinya setan itu tingkatannya ada dibawah manusia. Jadi untuk apa kita takut pada mereka, justru mereka yang seharusnya takut pada manusia.