Di suatu terminal bus, turun seorang gadis cantik bernama Anya Paramitha. Gadis berusia 20 tahun itu saat ini memberanikan diri datang dari kampung ke gemerlapnya ibukota. Dia bertekad akan merubah nasibnya yang bisa dikatakan kurang mampu.
Sebelum datang ke ibukota, dia tinggal di sebuah panti asuhan yang berada di sebuah kampung yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Melihat ibu panti yang semakin tua dan pengeluaran panti yang semakin banyak membuatnya membulatkan tekad pergi ke ibukota merubah nasib sambil membantu ibu panti.
Dengan modal uang yang ia bawa sebesar dua juta rupiah, ia memberanikan diri pergi mengadu nasib.
Saat ini Anya sedang mencari rumah kontrakan untuk dia tinggal dan setelah itu mencari pekerjaan. Namun, di perjalanan dia melihat seorang pria yang sedang duduk di trotoar. Bajunya tampak compang-camping, rambutnya panjang dan tidak terawat membuat Anya iba. Anya pun membuka tasnya mengambil dua buah roti dan air mineral lalu diberikannya kepada pria itu.
"Ini tuan, saya punya sedikit makanan. Semoga tuan tidak kelaparan." Ucap Anya lalu menyerahkan roti dan minuman kepada pria tersebut.
Mulanya pria tersebut enggan mengambil makan yang diberikan Anya. Namun, tak lama dia mengambilnya juga.
"Terimakasih." Ucapnya singkat.
Anya berlalu pergi, melanjutkan perjalanannya mencari rumah kontrakan.
Pria itu menatap Anya yang semakin menjauh dari pandangannya. "Menarik" gumamnya. Pria itu pun memencet benda yang berada di telinganya. "Salah satu dari kalian awasi gadis yang tadi aku temui! Jangan sampai dia terkena masalah!" Titahnya kepada seseorang.
Pria itu tersenyum. "Setelah masalah ini selesai aku akan mencarimu. Tunggu aku." Ucapnya.
*
*
Anya saat ini sudah berada di depan kontrakan yang ia sewa. Ia pun masuk kedalam melihat-lihat rumah yang akan dihuni kedepannya. Kontrakan kecil yang hanya berisi dapur kecil dekat dengan tempat tidur dan satu kamar mandi di dalam sudah cukup bagus bagi Anya.
Lalu ia pun berbenah membereskan kamar yang akan ditempati. Karena dari kecil sudah tinggal di panti asuhan membuatnya jadi mandiri. Ia sudah terbiasa melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain.
Dengan telaten Anya membersihkan debu, menyapu lantai, lalu mengepel lantai. Saat dirasa sudah bersih Anya pun merapikan pakaiannya lalu memasukkannya ke dalam lemari. Setelah itu, Anya meletakkan bahan makanan yang sudah dibeli di supermarket sebelumnya ke dalam kulkas mini yang ada di sana. Tak lupa ia juga membersihkan kamar mandi yang akan digunakan.
Setelah dirasa selesai berbenah, Anya pun membersihkan dirinya. Tak berapa lama dia keluar dari kamar mandi. "Ah segarnya!" Ucapnya sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
Setelah itu Anya merebahkan badannya di ranjang yang hanya muat satu orang. Mengambil ponselnya mencari lowongan pekerjaan yang sesuai dengannya yang hanya lulusan SMA.
Tak lama pucuk dicinta ulam pun tiba. Sebuah lowongan pekerjaan dengan gaji yang lumayan di dapatkan. Dia pun segera mengirim CV dan beberapa berkas pendukung, walau dia mendapat pekerjaan sebagai OG tetap dia ambil dengan semangat.
Setidaknya saat ini Anya mendapatkan sebuah pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama di kota dan memberikan sedikitnya kepada ibu panti di kampung. Tanpa ada gengsi dan tanpa mengeluh tetap dia lakukan pekerjaan dengan senang hati.
*
*
Keesokannya Anya sudah mulai bekerja karena dia sudah diterima beberapa jam setelah mengajukan lamaran kerja. Dia pun datang di sebuah gedung pencakar langit di kota. Lalu mulai bekerja dengan senang hati.
Sore hari pun tiba, Anya saat ini sudah berada di luar perusahaan tempat dia bekerja. Dia menatap lembayung senja. Lalu berjalan melewati sebuah taman. Di Taman Anya dihadang oleh dua orang preman.
"Hai nona cantik, bisa serahkan ponsel dan uang anda?" Tany preman itu dengan senyum seringai.
"Saya tidak punya uang!" Ucap Anya hendak pergi namun dihadang lagi.
Tak lama datang seorang pria yang datang membantu Anya.
Bugh!
Bugh!
"Jika kalian mengganggu pengunjung lagi, akan ku laporkan kalian ke pihak berwajib!" Ujar pria misterius yang menolong Anya.
Preman tersebut seketika kabur terbirit-birit karena takut dilaporkan ke polisi.
Anya pun mendekati pria itu. "Terimakasih tuan, sudah membantu saya." Ucap Anya membungkukkan tubuhnya sedikit.
Pria itu tersenyum. "Tidak masalah, sudah menjadi kewajibanku membantu sesama." Ucapnya.
"Nona bisa kita berkenalan? Namaku Bart Damian kamu bisa memanggilku Bart." Lanjutnya lagi sembari mengulurkan tangannya.
Dengan cepat Anya menjabat tangan Bart. "Nama saya Anya Paramitha tuan." Jawab Anya.
"Hei jangan panggil aku 'Tuan' aku bukan majikanmu. Panggil aku Bart saja." Tegur Bart agar Anya memanggil namanya.
Mereka pun berbincang singkat. Bart menawarkan dirinya mengantar Anya menuju rumahnya. Anya tidak enak menolaknya dengan terpaksa mengiyakan ajakan Bart.
Di Sepanjang perjalanan mereka berbincang santai. Bart merasa nyaman ketika berbicara dengan Anya walaupun pembinaan mereka sedari tadi hanya apa yang mereka lihat atau pikirkan.
"Anu, kamu bekerja dimana Bart?" Tanya Anya.
Seketika Bart menoleh, dengan tersenyum kikuk. "Aku bekerja di sebuah perusahaan, sebagai pegawai biasa." Jawab Bart dengan ragu-ragu.
"Oh… begitu." Ucap Anya singkat.
Tak terasa saat ini Anya sudah sampai di depan kontrakannya. "Terimakasih sudah mengantarkan ku sampai rumah." Ucap Anya kepada Bart.
Bart tersenyum. "Tidak masalah." Ucapnya. Tangannya terangkat membenarkan surai kehitaman Anya yang tersapu oleh angin. Pipi Anya pun merona dibuatnya. Dengan cepat Anya masuk ke dalam rumahnya.
Di dalam rumah Anya masih berada di depan pintu sambil memegang letak jantungnya yang berdetak kencang. Di luar Bart masih memandangi pintu rumah Anya.
Tak lama Bart pergi dari sana. Dua pengawal yang senantiasa ada disampingnya pun muncul. "Tuan sudah malam saatnya anda pulang." Ucap salah satu pengawalnya.
Bart menolehnya sekilas. "Sudah kubilang jangan sampai biarkan dia terluka. Apakah kalian tidak mendengar perintahku huh?!" Ketus Bart.
"Maaf tuan, ini salah kami." Ucap salah satu pengawal lagi.
Bart menghela nafasnya. "Sudahlah, lain kali aku tidak ingin melihat kejadian seperti ini lagi!" Ucapnya.
*
*
Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu. Sudah tiga Minggu Anya bersama dengan Bart, walau hanya sekedar berbincang, jalan-jalan dan makan bersama. Itu membuat hubungan mereka menjadi semakin dekat.
Saat ini mereka sedang berada di taman tempat mereka pertama kali bertemu. Duduk di sebuah kursi kayu. "Anya ada yang mau aku sampaikan kepadamu." Ucap Bart memulai obrolan.
Anya menoleh ke arah Bart. "Ada apa?" Tanya Anya.
"Aku menyukaimu Anya, jadilah pacarku!" Ujar Bart. Seketika Anya membeku mendapatkan pernyataan cinta dari Bart.
"Bagaimana apa kau bersedia?" Bart bertanya lagi. Anya pun mengangguk tanda setuju. Bart pun memeluk erat Anya tangan kanannya sudah mengelus lembut rambutnya. Anya juga melingkarkan tangannya ke pinggang Bart.
Bart pun mengurai pelukannya. "Anya dengarkan aku, apapun yang terjadi kedepannya kau harus percaya padaku ya." Ucap Bart. Anya pun mengangguk.
*
Hari ini adalah hari Minggu, hari dimana Anya libur dari pekerjaannya. Saat ini Anya sedang menonton televisi sambil memakan keripik. Dia pun menonton berita tentang keturunan konglomerat generasi keempat.
'Berita hari ini, Bart Damian (30 tahun) seorang konglomerat generasi keempat dari keluarga Damian pendiri Damian ENT resmi mengakhiri pertunangan dengan putri dari Hars Corp yang sudah berlangsung dari saat mereka kecil. Sebagai kompensasi Presdir Bart memberikan sebuah anak perusahaan dari Damian ENT.'
Reporter: "Pak kenapa anda mengakhiri pertunangan anda yang sudah berlangsung sejak anda kecil?"
Bart: "Saya memiliki gadis yang saya cintai. Lagi pula pertunangan itu dilakukan oleh para tetua dan tanpa persetujuan dariku."
Setelah itu, Bart pergi meninggalkan kerumunan reporter. Lalu masuk kedalam mobilnya.
Anya yang menonton berita itu terkejut bukan main. Jadi selama ini pacarnya adalah seorang konglomerat yang memimpin sebuah perusahaan besar. Bagaimana bisa dia tidak mengetahuinya? Batinnya merutuki dirinya sendiri.
Tak lama datang beberapa mobil mewah, berhenti tepat di depan rumah Anya. Itu membuat para tetangga keluar untuk menyaksikannya. Mendengar keributan Anya pun segera keluar dari rumahnya.
Saat Anya sudah berada di luar rumah, dilihatnya Bart memegangi sebuah buket bunga besar, yang didalamnya ada kotak cincin yang indah. Bart pun mendekati Anya.
"Anya maafkan aku yang datang mendadak namun, aku sudah tidak dapat menahan diriku lagi." Bart berlutut. "Will you marry me Anya?" Tanya Bart
Anya terdiam cukup lama, Bart yang melihatnya bangkit lalu memeluk Anya.
"Kau sudah berbohong kepadaku. Kau tahu aku sangat benci orang yang berbohong." Ucap Anya terisak.
"Maafkan aku." Ucap Bart. Tak lama Bart meraih dagu Anya lalu mengecup sekilas bibir mungilnya. "Maukah kau menjadi istriku Anya?" Ucapnya setelah mengecup Anya.
Anya mengangguk lalu memeluk Bart. "Yes! Yes! Yes!" Ucap Anya.
Bart berbisik disaat Anya masih memeluknya. "Kamu tahu aku sudah jatuh cinta padamu saat kamu menawariku roti dijalan."
Apa? Jadi pria dijalan saat itu adalah Bart? pikirnya. "Terimakasih sudah mencintaiku." Ucap Anya.
Dan lagi mengeratkan pelukannya mengabaikan orang-orang yang sedang menonton merek berdua.
Tamat
Happy Reading 💞💞💞