Hari itu pada hujan yang melanda sangat deras, pagi jam pukul 07.20 aku harus berangkat ke sekolah untuk mengikuti dan menghadapi Ujian kelas 6 SD yang dimulai tes Ujiannya jam pukul 07.30
Waktu itu aku masih berumur 13 tahun.
Diriku yang telah keluar dari perumahan rumahku, aku perlu menyebrang jalan untuk menunggu salah satu angkota yang akan aku naiki, namun saat satu langkah kaki aku mau menyebrang, beruntunglah mobil angkota tersebut telah tiba dan berhenti menunggu aku menyebrang jalan yang lumayan ramai akan kendaraan berlalu lalang. Aku menyebrang dengan penuh hati-hati menengok kanan kiri sampai semua sepi. Aku ingin sekali duduk di depan namun sayangnya tempat persinggahan samping kursi kemudi supir, rupanya sudah di duduki oleh Kakak SMA sekiranya itu kelas 11. Yaaa mau bagaimana lagi, aku harus duduk di belakang yang agak di penuhi banyak penumpang, sebelum itu aku menekan tombol pada payung warna hijau army milikku dan berikutnya melipatnya sementara karena kalau tidak aku lipat, jelas itu menyempitkan ruangan tempat mobil angkot bagian belakang apalagi memasukinya.
Aku duduk di tepat belakang pak supir, aku duduk diam dengan mendekap tubuhku sendiri karena selain hujan deras yang mengguyur ternyata disertai juga angin sepoi-sepoi yang meniup hijab putihku. Pandanganku seketika mengarah dan terpaku menatap Kakak lelaki SMA itu dari spion kaca mobil angkota. Wajah dari kakak SMA tersebut memang ia berwajah tampan serta memiliki hidung yang mancung, tapi kulit wajahnya dan sekujur tubuhnya begitu putih pucat ditambah pandangan matanya kosong seperti sedang ngelamun, jangankan wajahnya yang pucat bahkan tak ada sama sekali gerakan tubuh yang ternampak dari kakak SMA yang aku lihat itu, ia duduk tegak sementara ia lengkap dengan atribut sekolahnya mulai dari seragam putih SMA-nya, dasi yang rapi, dan segalanya yang sangat terlihat rapi tetapi kakak SMA pemuda itu tidak memakai tas sekolahnya, apakah mungkin ia sengaja tak membawa tas sekolahnya? Aku sungguh tidak mengerti.
Aku hanya diam saja tanpa ada niatan untuk bertanya ada apa dengannya. Wajahnya sangatlah pucat seperti mayat namun dalam pikiranku kakak lelaki SMA itu sedang sakit, aku tidak mau bernegatif thinking terhadap kakak SMA yang duduk seperti patung itu di samping kursi kemudi.
Tak terasa angkota berhenti di jalan lingkaran lampu lalu lintas, sebagian penumpang turun dari angkota dan membayar ongkos angkot. Aku memperhatikan beberapa penumpang tersebut berjalan menuju satu tujuan yang sama. Setelah itu aku kemudian melihat kakak lelaki SMA yang kiranya anak kelas 11.
DEG!
Kakak lelaki SMA itu telah tidak ada, aku mencoba menengok luar angkota siapa tahu ia juga telah keluar dari angkota tanpa lupa membayar ongkos. Tetapi anehnya tak ada, punggungnya juga tak terlihat, wujudnya bayangannya juga tak terlihat sama sekali. Aku mengucek-kucek mataku beberapa kali memastikan itu adalah halusinasi ku saja, tetapi itu benar dan fakta! Dia telah tidak ada setelah angkota berhenti di jalan lingkaran lampu lalu lintas. Tidak mungkin ia menghilang sedetik saja. Lalu kemana kakak laki-laki SMA berwajah tampan pucat itu?!
Akhirnya mobil angkota kembali berjalan melaju hingga berhenti pada tujuanku yaitu tempat sekolah SD ku. Tak lupa aku membayar uang ongkos 2 ribu lalu setelah itu aku melenggang pergi meninggalkan pak supir dan mobil angkot. Aku melangkah menuju ke kelasku seraya membayangkan kejadian peristiwa yang membuat detak jantungku berdebar sangat cepat.
Tibanya aku di kelas, dan ternyata sialnya diriku sudah ada pak Arman guru wali kelasku yang tengah berdiri sembari membagikan kertas-kertas lembar jawaban dan soal tes Ujian pada kesemua muridnya. Aku masuk ke dalam kelas dan meminta maaf atas keterlambatan ku masuk sekolah kepada pak Arman.
"Mohon maafkan saya Pak karena saya terlambat."
"Tidak apa-apa, Nak. Kamu di antar ayah atau gimana?" tanya pak Arman sangat lembut dan ramah padaku.
"Saya naik angkot, Pak hehehe."
"Wah oke kalau begitu. Yaudah ayo duduk," suruh lembut pak Arman padaku untuk duduk di bangku milikku.
Aku dan pak Arman begitu sangat akrab, bahkan pak Arman sikapnya sungguh baik dan ramah sehingga aku sangat nyaman pada beliau apalagi aku sering privat yang di bimbing oleh beliau sendiri. Pak Arman lah yang mengajariku berbagai mata pelajaran terutamanya matematika hingga pada akhirnya di kemudian hari, alhamdulillah aku di nyatakan lulus.
Peristiwa itu tadi sebelum aku tiba di sekolah, tak akan bisa aku lupakan. Karena ini adalah masa waktu Ujian tes, aku mencoba menghilangkan peristiwa kejadian di luar nalar itu yang masih menempel di benak otakku untuk sementara ini saja.
Apakah itu sesosok arwah yang memperlihatkan wujudnya? Beruntung saja wajahnya tidak menyeramkan, ia seperti wujud manusia pada umumnya. Hingga pada esoknya hari aku menaiki angkota pada pagi hari menuju ke sekolah, aku tidak melihat sosok wujud kakak lelaki SMA tersebut. Hanya sekali saja aku melihatnya, hari-hari ke berikutnya sudah tidak ada lagi. Sampai sekarang pun aku masih mengingat bentuk postur tubuhnya dan wajah sempurnanya yang berkulit pucat layaknya mayat tersebut. Akankah aku bertemu sosok itu lagi? Aku juga tidak tahu.
TAMAT
_______
Berdasarkan cerita ini adalah bukan sebuah cerita karangan ku, tetapi ini adalah cerita nyata dariku. Cerita tersebut sesuai apa yang aku alami dan aku hadapi sewaktu aku masih masa SD dahulu.
Experience Story By : Ansyanovels