Aku Misaka Akami, seorang siswi SMA Sakura. Aku selalu bersikap dingin di depan teman teman sekolah ku, kadang juga tak mempedulikan situasi sekitar karena memang aku tak peduli.
Walau terus mengabaikannya, bukan berarti aku tak mengetahui nya. Aku benci suasana yang terlalu ramai dan berisik. Itu juga alasan nya aku selalu mencari tempat yang tenang.
Di samping itu, sebenarnya juga ada alasan lain.
Aku yang selalu dianggap biasa saja oleh teman teman sekolah ku, sebenarnya ku lakukan untuk menyembunyikan identitas dan apa yang ku lakukan selama ini.
Di saat sang luna berkuasa di tengah gelapnya angkasa, suhu udara pun kian turun karena sang pemberi kehangatan telah turun dari singgasana nya. Malam yang gelap selalu menjadi momen yang pas untuk para kriminal menjalankan aksi nya. Dan saat itulah aku menunjukkan sikap asli ku.
Tapi bukan sebagai penjahat, melainkan, seorang agen rahasia yang bertugas di balik bayangan.
"Akami di sana!" Seorang gadis ber rambut pendek berseru padaku dari sebuah gang sempit. Dengan cepat aku berlari menuju tempat yang gadis itu tunjukkan.
Kokoro Mirai adalah salah satu rekan satu tim ku yang membantu ku menangkap para kriminal itu setiap malam.
Aku mengejar seorang pria berpakaian ala preman yang terus mencoba untuk melarikan diri. Ia merobohkan beberapa tong sampah mencoba menghalangi ku untuk menangkap nya. Namun, sayangnya itu tak berhasil.
BRAK!
"Akh!"
Dari balik sebuah rumah warga, seorang pemuda muncul dan langsung meluncurkan tendangan yang tepat mengenai pria itu, membuatnya terjatuh.
"Mau lari kemana kau hah?" Tanya pemuda itu dengan nada dingin.
"Kerja bagus Hiiro!" Ujar ku di susul anggukan Mirai yang ada di sebelah ku.
Pemuda itu adalah Matsuko Hiiro, rekan sekaligus senior di agensi.
Namun semuanya belum berakhir. Pria itu bangkit dan langsung berlari sambil menodongkan pisau ke arah kami. Dengan cepat aku langsung menarik tangan nya, menendang kaki nya membuat pria itu terjatuh dan di saat yang sama mengambil pisau yang ditodongkan pria itu.
"Tadi itu hampir saja." Ucap Mirai sambil menarik nafas lega.
"sudahlah, kita bawa saja langsung ke kantor polisi. " Usul Hiiro.
Kami mengangguk setuju. Namun, secara tiba tiba pria itu mengeluarkan sebuah pistol dari saku jaket nya yang langsung di arahkan pada kami.
"Menyingkir atau ku tembak kalian semu-"
Tak!
Namun, belum selesai pria itu mengucapkan kalimatnya, seorang pemuda sudah lebih dulu memberikan pukulan pada leher pria itu, membuat sang pria tak sadarkan diri.
"Yo! Maaf aku terlambat." Ujar Aizawa Naru, pemuda yang baru saja datang.
Aku sedikit menggeleng. "Gak masalah. kau justru datang telat waktu. "
"Jurus totok mu memang selalu bisa di andalkan." Puji Mira.
Naru hanya tertawa garing sambil menggaruk belakang kepala nya yang tak gatal. "Terimakasih. Sekarang bawa orang ini ke kantor polisi yuk. Jangan sampai ada orang yang melihatnya."
Kami pun mengangguk setuju dan membawa preman itu ke kantor polisi.
Ya, itulah yang ku lakukan setiap malam nya. Menerima misi dan tugas dari agensi rahasia kepolisian dan harus menyembunyikan identitas dan sikap asli ku dari orang luar.
Tapi setidaknya masih ada tim ku, orang yang selalu bisa menjadi tempat ku mengumbar canda dan tawa
TAMAT