INT. KAMAR RASYDAN, SORE HARI
CASH : KHALIF
Khalif menghela nafas melihat foto-foto Rasydan di masa kecilnya. Pasalnya nampak sekali kedekatannya dengan Sang Bunda yang kini sudah almarhumah. Bundanya meninggal saat Rasydan berusia 10 tahun karena kecelakaan lalu lintas. Kini teman baiknya itu hanya berdua bersama Sang Ayah yang saat ini sedang bertugas di luar kota selama seminggu.
INT. KAMAR RASYDAN, SORE HARI
CASH : KHALIF, RASYDAN
Rasydan masuk kamar sambil membawa nampan berisi secangkir kopi dan sepiring ubi rebus.
Rasydan : “Ada apa, brur? Kok kelihatannya lu galau begitu?” ( Meletakkan bawaannya
di meja samping tempat tidur)
Khalif : “Gini, brur. Tadi pagi gue berantem sama ummi. Pasalnya beliau itu kayak
nganggep gue seperti anak balita.” (Mencomot sepotong ubi rebus)
Rasydan : (Ikut mencomot sepotong ubi rebus lalu antusias mendengarkan curhatan
Khalif)
FLASH BACK :
Ummi mengomel karena Khalif tidak mau memakai baju yang sudah dibelikannya kemarin dengan alasan terlalu alim bajunya.
Khalif : “Ummi kalau mau beliin aku baju tuh mestinya tanya dulu dong! Ini aku
kalau pakai baju begini terlalu alim tampangnya!” (Menjerengkan baju)
Ummi : “Daripada baju yang sedang kamu pakai, kayak anak punk! Jelek!”
(Berkacak pinggang)
Khalif : “Ini trend, Mi! Ah, Ummi mah nggak gaul!” (Membuang baju dari ummi ke
atas kasurnya dengan kasar)
CUT TO :
INT. KAMAR RASYDAN, SORE HARI
CASH : KHALIF, RASYDAN
Rasydan : (Tersenyum, mengambil album foto dari tangan Khalif dan membukanya
perlahan)
Khalif : (Menghela nafas panjang)
Rasydan : “Bunda, adalah malaikat pelindung gue. Tanpanya gue nggak akan terlahir
ke dunia, meski cerewet, ia tak pernah memukul. Selalu inginkan yang
terbaik . Gue pikir semua ibu di dunia juga begitu, ya meski sering menurut
kita tidak tepat sikon. Tentu ada alasan mengapa seorang ibu jadi perfect
begitu terhadap anaknya. Sayang, Cinta, dan rasa ingin selalu menjaga
amanah dari Allah.” (Tersenyum ke arah Khalif dan menutup album fotonya)
Khalif : (Bengong sejenak) Tumben, brur. Kali ini elu super bijak banget.” (Meraih
kunci motor dan tas sekolahnya, lalu berdiri dan berjalan cepat menuju pintu
kamar)
Rasydan : “Eh, lu mau kemana?!” (Berdiri dan mengikuti langkah Khalif)
Khalif : “Pulang. Mau minta maaf sama ummi. Tadi pagi memang sudah keterlaluan,
gue. Thanks ya brur, pencerahannya! Besok gue promosiin di kelas bahwa
elu adalah konselor permasalahan ABG!”
Rasydan : (Menggaruk kepala yang tidak gatal)
CUT TO :
EXT. JALAN RAYA, SORE MENJELANG SENJA
CASH : KHALIF
Khalif melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin cepat sampai ke rumahnya dan meminta maaf pada ummi. Jalanan tampak lancar dan diiringi rintik gerimis.
EXT. BERANDA RUMAH
CASH : UMMI
Ummi duduk dengan gelisah. Segelas teh hangat yang sudah satu jam lalu kini telah dingin. Berkali-kali ia menghela nafas.
Ummi : “Apa aku ini tidak mengerti anakku sendiri, ya? Tapi aku begini adalah untuk
yang terbaik. Duh... ke mana saja dia, sampai jam segini mau Maghrib belum
juga pulang.”
EXT. BERANDA RUMAH
CASH : KHALIF, UMMI
Terdengar suara motor memasuki beranda. Khalif pulang. Ummi tampak sumringah dengan kedatangan putra tunggalnya itu.
Ummi : (Berdiri menyambut kedatangan Khalif, namun ia urungkan)
Khalif : (Heran) Kenapa, Mi?”
Ummi : Nggak jadi. Nanti kamu bilang nggak mau diperlakukan seperti balita.”
Khalif : (Tersenyum, menghampiri ummi) “Iya, nggak usah. Biar Khalif saja.” (Menghambur memeluk ummi erat)
Ummi : (Diam) “Kamu kenapa, Nak?”
Khalif : “Khalif minta maaf atas segala kesalahan selama ini terlebih tadi pagi yang
sungguh sangat keterlaluan kasar.”
Ummi : (Melepaskan pelukan, memegang ke dua bahu Khalif dan menatap ke dua
mata anaknya itu) “Ummi juga minta maaf, ya.... Ummi janji nggak akan
begitu lagi.”
Khalif : (Kembali memeluk ummi)
-Selesai-