Aku… Siswa biasa yang bersekolah di SMA favorite. Entah apa yang aku harapkan saat itu. Kenapa aku bisa masuk ke SMA yang notabennya adalah siswa-siswa famous dan berprestasi.
SMA Nusa Bangsa. Adalah SMA yang paling banyak meraih kemenangan dan kejuaraan. Baik dalam bidang pelajaran, olahraga, seni dan bidang umum lainnya. Aku termasuk siswa di bidang Pelajaran. Khususnya matematika dan fisika. Aku sering menjuarai kejuaraan. Sebenarnya, aku nggak tertarik sedikit pun dengan perlombaan. Awalnya… aku cuma keseringan membaca dan mengerjakan soal-soal saja, dan aku juga sering memberikan pertanyaan dan juga jawaban yang dianggap bagus disetiap diskusi kelompok. Sehingga aku disorot oleh para guru dan diikutkan dalam lomba tingkat sekolah hingga tak disangka, karena kerja kerasku aku bisa juara satu Indonesia dengan memimpin kelompokku memasuki kejuaraan dibilang sains.
SMA Nusa Bangsa bukan sekolah pilihanku. Aku masuk ke sana gara-gara papa pingin banget aku sekolah di sana. Ya… mau nggak mau aku harus nurut. Namaku Raisa Larasati. Biasa dipanggil Risa.
Kelas 11 IPA 2. Di SMA ini ada satu cowok yang bikin aku heran dan juga penasaran.
Nanya adalah Arjun. Arjuna Alexander. Anak kelas 11 IPS 1. Dia adalah kapten basket dan juga atlit renang orangnya itu keren dan famous banget. Hampir semua cewek-cewek di sekolahku ngefans sama dia. Bahkan sampai rebutan, siapa duluan yang bisa mendapatkannya dan jadi pacarnya.
Aku nggak mau ikutan acara kayak begituan. Ngerebutin cowok yang nggak jelas. Arjun emang ganteng, pinter, jago basket, jago renang bahkan menyelam, ramah, pokoknya multi talent. Tapi kalau mandang cowok dari kelebihannya aja, itu sih bukan tulus ya namanya.
Hari ini pertandingan basket rutin SMA Nusa Bangsa dengan SMA Pancasila. Semua siswa, apalagi yang cewek-cewek berteriak memanggil nama Arjun sampai suara mereka habis itu sudah menjadi hal biasa. Jadi nggak heran lagi kalau itu terjadi setiap kali Arjun tanding.
Aku biasanya sama sekali nggak berminat untuk nonton. Tapi kali ini aku nggak bisa menghindar. Secara aku adalah anggota PMI tahun ini. Jadi terpaksa, aku harus nonton sampai selesai. Kalau aku nggak nonton, nanti ada yang cidera… trus akunya nggak ada, bisa abis dimarahi aku.
Pertandingan sudah setengah jalan. SMA Nusa Bangsa tetap memimpin. Sorak-sorak penonton terdengar semakin keras. Dan itu yang membuat aku semakin bosan untuk nonton.
Saat Arjun ingin melakukan slum dunk, tiba-tiba ia didorong lawan sampek kakinya terkilir. Ia terlihat kesakitan, tapi dia tetap tegar dan bertahan. Aku yang melihat merasa kagum.
“Risa, itu ada yang cedera. Cepetan kesana dan bantuin!” ucap Siska, salah satu anggota PMR.
“Risa, apa yang kamu lakukan?” kata Sherli, sahabatku sekaligus yang juga anggota PMI sepertiku.
Aku malah bengong melihat kegigihan dari Arjun yang ingin memimpin timnya sampai selesai.
“Raisa!” teriak Sherli sambil menepuk bahuku.
"Ah, iya." aku tersadar dan langsung lari menghampiri orang yang cidera dan ternyata itu adalah Arjun.
“Biarkan aja dia yang nolongin. Mungkin saja dengan nolongin kapten basket, dia bisa suka basket, karena dia kan nggak suka sama basket” ucap Sherli.
“Suka basket, atau suka yang main basket?” canda Siska, dan mereka berdua saling tatap dengan senyum-senyum.
“Ka… kamu nggak… papa kan? Kamu bisa tahan kan?” tanyaku sedikit terbata dan gugup.
“Aku bisa tahan kok” jawabnya singkat.
Tanpa basa-basi aku langsung meraih tangannya dan menaruhnya di pundak ku. Lalu membawanya ke UKS. Entah aku sadar atau tidak telah melakukan hal itu. Tapi jujur aku benar-benar tidak sadar. Hal pertama yang aku lakukan adalah melepas sepatunya untuk melihat kakinya yang terkilir.
“Eh… tunggu-tunggu, biar aku sendiri aja yang ngelepasin sepatuku.” Arjun meraih tali sepatunya
“Gak apa biar aku saja” jawabku
“Udah biar aku sendiri” pintanya.
“Aku aja” kesalku
“Udahlah aku aja” dia lagi-lagi menolak.
Tanpa panjang lebar aku membentaknya.
“Kamu itu gimana sih, udah bagus aku bantuin, malah masih keras kepala begini. Mendingan tadi nggak usah aku tolongin. Toh kamu bisa sendiri” ku luapkan rasa kesal ku secara langsung.
Sejenak aku terdiam, dan Arjun masih memandangiku. Anehnya dia sedikit tersenyum.
Aku tersadar.
“Ma… maaf! Aku kebablasan! Habis kamu keras kepala banget!” ucapku
“Nggak papa! Nggak ada masalah kok.” jawabnya, lagi-lagi dengan tersenyum.
“Kamu kok malah senyum-senyum sih, gak marah? Uda ku bentak-bentak” tanyaku dan melepas sepatunya.
“Buat apa marah, kalau orang di depan aku ini nggak ngebuat aku marah” jawabnya yang lagi-lagi dengan tersenyum menatapku.
“Tapi aku kan udah bentak-bentak kamu tadi” ucapku.
“Itu bukan bentak namanya, tapi sedang berjuang untuk membantu. Jadi aku berpikir kalau kamu berjuang untuk bantuin aku” Jawabnya.
“Nggak juga!” ketus ku
“Itu kan pendapat aku” jawabnya
Aku mulai mengobatinya.
“Aduh, sakit tau!” helanya.
“Maaf!” ku tatap dia yang sedang menahan sakit.
Lalu ia senyam-senyum lagi melihatku.
Aku pun memalingkan wajahku.
“Kamu, kenapa senyam-senyum gitu. Nakutin banget!” ucapku
“Kamu… cantik!” ucapnya.
“Heleh, aku nggak akan termakan sama terbujuk rayuan kamu. Meskipun semua temen bahkan semua cewek di sekolah ini suka dan ngefans banget sama kamu, aku nggak bakal kayak mereka. Ingat itu!” ucapku sambil menggerakkan jari telunjukku.
“Aku nggak ngeharusin kamu suka sama aku. Tapi… ” kalimatnya terpotong.
“Apa, tapi apa?” tanyaku penasaran
“Kayaknya aku yang suk…”
Tiba-tiba…
Semua cewek-cewek yang tadi nonton pertandingan masuk dan ngerubungi Arjun. Saking banyaknya aku sampek terdorong ke belakang.
“Risa, kamu nggak papa kan?” tanya Sherli.
“Nggak papa kok. Tenang aja, Sher sudah kebal kok” jawabku dengan senyuman.
“Iya, percaya. Eh… gimana Arjun?” tanya Sherli.
“Udah aku obatin. Oh yaa, tadi Arjun tuh senyum-senyum sama aku. Aku jadi ngeri liatnya” adu ku pada sahabatku itu.
“Apa, senyum-senyum? Itu tandanya… Arjun, suka sama kamu” jawab Sherli sembarangan.
“Ya nggak mungkin lah. Kamu tuh ada-ada aja” jawab ku jadi merasa geli.
Hari ini bete banget rasanya. Sherli gak masuk sekolah, padahal dia yang nemenin aku setiap saat. Pelajaran semuanya jamkos, karena hari ini ada event pertandingan gitu di sekolah. Jadi aku stay… di taman sekolah.
“Kalo kebanyakan ngelamun, nanti bisa kesambet lo” Arjun.
“Siapa juga yang ngelamun” Risa
“Ih.. ih.. ih… udah ketauan tapi nggak mau ngaku” Arjun.
“Kamu kenapa sih gangguin aku?” Risa.
“Emang nggak boleh, aku kan juga butuh temen” Arjun.
“Temen kamu kan banyak, nggak aku aja. Lagi pula aku bukan temen kamu, kenal aja enggak.” Risa.
“Kalo aku maunya kamu yang jadi temen aku, gimana? Meski kamu belum kenal aku, aku kan bisa kenal kamu.” Arjun.
"Idih ke PD an." Risa.
"Gak apa yang penting aku suka." Arjun.
“Terserah deh mau kamu!” Risa.
Hening di antara kami.
“Oh ya, gimana kaki kamu?” Risa
“Udah mendingan kok. Kan yang ngobatin, ngobatinnya pake… cinta” Arjun
“Kamu apaan sih? Nggak jelas banget” Risa
“Boleh ngomong sesuatu nggak?” Arjun.
Aku mengangguk.
“Aku sebenernya, udah tau kamu sejak kelas 10. Saat itu kamu lagi sendirian, sambil baca buku di taman. Padahal semua cewek bahkan semua murid lagi nonton pertandingan basket ku. Sejak itu aku penasaran sama kamu. Kamu tuh terlihat beda sama cewek-cewek yang lain. Tapi aku nggak berani deketin kamu, aku kira kamu nggak bakal suka sama aku. Oh ya, soal kemarin aku sengaja ngebuat diri aku cedera. Aku dapat informasi kalo yang jadi PMI-nya itu kamu. Aku minta bantuan ama kapten basket Pancasila untuk sengaja dorong aku saat aku slam dunk. Agar aku bisa ketemu, dan bisa bicara sama kamu. Jadi aku minta maaf, udah ngerepotin kamu. Dan thanks juga!” Arjun
Aku hanya terdiam tak percaya. Bukan masalah Arjun udah kenal aku, tapi kemarin Arjun udah sengaja nyelakain dirinya sendiri dan bohong, cuma buat bisa ngomong sama aku.
Bersambung