Suamiku baru saja meninggal sebulan yang lalu, tanah kuburannya pun masih basah. Tapi mertuaku sudah ribut mempermasalahkan soal uang yang kuperoleh dari perusahaan tempat suamiku bekerja.
"Aku dengar, banyak yang kamu dapat dari kantor anakku ya? Berapa ratus juta?"
Aku hanya tertunduk dan diam. Untuk memandang wajah mertuaku pun aku tak berani.
Suamiku memang sudah lama bekerja diperusahaan yang cukup bonafid bahkan jabatannya sudah lumayan.
Sehingga uang tali asih dan dana pensiun yang kuperoleh lumayan besar. Tapi ada anak-anak yang harus aku biayai hidupnya. Tidak hanya sekedar makan tapi juga pendidikannya.
Aku ingin anak-anakku bisa sekolah setinggi-tingginya. Apalah aku yang hanya seorang ibu rumah tangga, selama ini cuma mengandalkan gaji suami. Saat suamiku tiada hanya uang pensiun saja yang bisa kugunakan untuk menghidupi dan menyekolahkan anak-anak.
Kini mertuaku meminta uang itu dengan alasan itu hasil kerja anaknya.
Memberikan uang itu pada mertuaku seperti menggarami laut, karena mertuaku lumayan berharta.
"Tapi bu, uang ini akan saya pakai untuk sekolah anak-anak"
"Serahkan semua uangnya pada kami, nanti kami yang akan memberi setiap bulan ke kamu"
Aku tidak mau setiap bulan harus meminta pada mertuaku, lagipula ini hakku dan anak-anak.
"Saya ingin anak-anak bisa sekolah yang tinggi bu, saya ingin mereka jadi sarjana" ku tahan air mataku. Aku tidak ingin menangis.
"Biar anak-anak aku yang urus, kalau perlu anak-anakmu dibagi saja ke keluarga yang lain. Aku tidak yakin kamu bisa mengurus dan menyekolahkan cucu-cucuku!"
"Tidak bu, saya tidak mau dipisahkan dari anak-anak. Dengan kekuatan saya, akan saya urus anak-anak saya. Tuhan pasti akan memberikan rejeki bagaimanapun caranya".
Aku tetap teguh pada pendirianku. Aku yakin aku bisa melalui semua ini bersama anak-anak.
Mertuaku tidak terima dengan perlawananku, karena selama jadi menantunya dicaci dan dihina seperti apapun aku diam. Termasuk suamiku.
Seingatku tak pernah sekalipun aku dibela oleh suamiku, dia sangat takut pada orang tuanya. Takut dianggap anak durhaka. Biasanya aku akan menangis dan suamiku akan mengelus punggungku.
Kali ini aku akan bertahan, biarlah aku dikatakan menantu durhaka karena tidak mau menuruti kemauan mertuaku.
Aku yakin suatu saat nanti mereka akan melihat hasil perjuanganku.
Mertuaku mulai marah dan mencaci makiku.
Dan akupun pergi meninggalkan rumah mertuaku, dengan tangis.
Tamat.