Hari ini seluruh keluarga ku akan menghadiri acara kelulusan kakak sulung. Menjadi lulusan terbaik di salah satu sekolah swasta SMP Nusa Bangsa. Membuat keluarga kami sangat bahagia hingga tak terkira. Aku yang terbiasa berdiam diri dirumah pun, harus ikut menyaksikan acara kelulusan Ka Kia.
Tok!
Tok!
Tok!
"Via bangun nak! Cepat bersiap." Ibu berseru memamggilku.
Aku enggan membuka mata, tapi aku tidak ingin wajah murung Ka Kia hadir di hari istimewanya. Dengan malas ku turunkan kedua kaki ku. Bersiap untuk mengikuti rencana keluarga ku hari ini.
Tiga puluh menit berlalu, aku keluar dari kamarku dengan pakaian sederhana tanpa riasan apapun. Semua menatapku dengan senyuman dan penuh kasih sayang. "Pagi ayah, ibu dan ka Kia. Selamat ya ka."
"Terimakasih adikku sayang. Mau kakak rias?" tawar Ka Kia dengan tulus.
Aku menggelengkan kepala. Riasan diwajah tidak ku butuhkan. Ibu menyajikan makanan kesukaan ka Kia yaitu ikan bakar dengan sambal barbeque. Semua sarapan dengan hikmat, dan kami bersiap untuk keluar rumah. Ayah menghampiri ku dan mengusap kepalaku. "Jangan jauh-jauh dari ayah ya. Via paham."
"Paham yah." jawabku dengan senyuman manis.
Dengan mobil minibus warna hitam, Ayah dan ibu duduk di depan. Aku dan Ka Kia duduk dikursi belakang. Perjalanan selama satu jam, kami gunakan untuk berceloteh panjang kali lebar. Hingga tak terasa mobil memasuki halaman parkir SMP Nusa Bangsa. Kami keluar dari mobil secara bersama-sama.
"Ayah, Kia bawa Via ya?" pinta Kia dengan mata memelas.
Wajah ayah mendadak cemas, tapi sentuhan tangan ibu membuat ayah mengangguk pasrah. "Jaga adikmu."
"Ingat nasehat ayah. Ibu dan ayah ke aula duluan. Via jangan jauh-jauh dari ka Kia ya." Ibu mengingatkan kedua putrinya.
"Baik bu." ucap kedua dua gadis itu serempak.
Dengan semangat Kia menggandeng tangan Via masuk kedalam gedung sekolahnya. Menunjukkan banyak hal pada saudarinya yang harus sekolah di rumah, beberapa anak yang tengah mengobrol bersama melihat kedatangan Kia dan menghampiri gadis yang menjadi bahan perbincangan seluruh sekolah. "Selamat ya Putri Sekolah. Btw ini siapa?"
"Thanks Ton. Kenalin, Via adikku beda dua tahun." ucap Kia dengan semangat.
Satu persatu mencoba berjabat tangan, tapi Via memilih bersembunyi di balik tubuh kakaknya. Merasakan cengkraman sang adik semakin kuat, Kia mengusap lengan Via. "Relax de. Semua baik kok, ini teman kakak semua. Jadi jangan takut ya."
Perlahan Via mulai mengendorkan cengkraman tangannya, meskipun masih menunduk. Tatapan para teman-teman, membuat Kia bingung. Pasti semua tidak akan menyangka jika seorang gadis poluler di sekolah memiliki adik yang penakut karena memiliki fobia sosial.
"De, sini deh. Duduk dulu ya." pinta Kia dan membantu Via duduk di bangku depan kelasnya.
Setelah memastikan adiknya duduk manis, Kia mengajak semua temannya untuk berbicara hal penting. Di tengah Kia menjelaskan situasi sang adik, Via mulai merasa dinding-dinding menyempit, banyak mata yang menatapnya. Semakin lama, perasaannya tak tenang, sekelebat bayangan berdiri di sudut lorong ujung kelas. Wanita bergaun merah dengan sebilah pisau ditangannya. Wanita itu semakin lama, semakin mendekat kearahnya.
Ingin berteriak, lidah kelu. Keringat dingin mulai muncul, menjadi butiran air sebesar biji jagung. Dengan tubuh yang gemetar, Via turun dari kursi dan meringkuk. Jeritan dengan suara gesekan besi semakin terdengar jelas.
Toni yang melirik kearah Via, mendadak pucat. "Kia, adikmu!"
"Via!" Kia berlari mendekati sang adik yang sudah meringkuk di lantai dengan wajah disembunyikan.
Teman-teman Kia segera mencari bantuan, kondisi Via yang mendadak tak baik. Sungguh membuat hati Kia bersalah. Sudah tahu adiknya memiliki fobia sosial, tapi masih sempat nya meninggalkan adiknya dari pengawasan. "Maafin kakak ya."