Aku mau kita bercerai, Kesya!” tuturnya dengan lirih. Aku mencoba untuk tenang. Ini pertama kalinya dari beberapa bulan yang lalu aku tidak pernah bertemu dengannya dan ia meminta berpisah.
“Baiklah. Aku terima keinginanmu.” Jawabku.
“Baik, mulai sekarang aku talak kamu, Kesya Ananda!” katanya dengan penekanan.
Entah apa yang sedang merasuki dirinya. Aku hanya diam menanggapi kalimat yang terakhir dia ucapkan. Setelah lancar membacakan talak, pria yang sekarang telah menjadi mantan suamiku itu langsung masuk ke dalam kamar dan memberesi pakaiannya. Ku lirik jagoan kecilku yang sedang terlelap di sofa sebelahku. Ia sama sekali tak terusik dengan perbincangan kedua orang tua nya. Aku tersenyum kemudian mengelus pipinya yang bulat.
“Yang kuat ya, Nak.” Kataku dalam hati.
Ah, tidak. Aku bukan mencoba menguatkan jagoan kecilku. Namun, aku sedang mencoba menguatkan diriku sendiri. 5 tahun pernikahan kami harus kandas dan aku tidak tahu apa penyebabnya. Yang aku tahu, Mas Surya, suamiku itu sudah tidak lagi berniat membina rumah tangga denganku.
Sebelumnya memang kami sempat bertengkar hanya karena masalah kecil. Dia memerintahku seperti sedang memerintah seorang pembantu. Aku hanya sedikit keberatan dengan nada bicaranya tapi, ia malah membuat permasalahan itu semakin membesar. Aku sudah mencoba meminta maaf padanya dan tanggapan yang ia berikan adalah pisah ranjang. Ya, sebelum Mas Surya memutuskan untuk pergi dari rumah, ia benar-benar tidak mau lagi tidur seranjang denganku.
Kami juga tidak lagi saling berkomunikasi secara langsung mulai saat itu. Hanya melalui pesan online, itu saja perbincangan kami selalu berakhir dengan perdebatan. Ku lihat Mas Surya keluar dari kamar dengan menarik sebuah koper besar. Mungkin semua pakaiannya akan dibawanya pergi.
“Aku akan mengurus semuanya dan kamu hanya perlu menandatangani beberapa surat,” ucapnya.
Sekali lagi aku hanya diam. Aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan. Sebenarnya ingin sekali aku kembali menanyakan tentang alasan mengapa dia meninggalkanku. Namun, bibirku terkatup dan tak mau berbicara.
“Aku pergi,” pamitnya.
Pria itu bergegas pergi dari rumah ini. Sepertinya dia sedang terburu-buru. Biarlah, aku tidak punya alasan untuk menahannya tetap tinggal. Sepeninggalannya, aku tidak bisa lagi menahan sesuatu di hatiku.
“Hiks ... Hiks ....” Aku mulai terisak. Menangisi nasibku yang harus mengalami kandasnya berumah tangga.
Siapa yang mau menjalani hidup seperti ini? Jagoanku baru berumur 14 bulan. Tak sanggup rasanya bila harus melihatnya tumbuh tanpa seorang ayah.
Bulan berlalu, aku sudah resmi bercerai dengan Mas Surya. Tak ada yang tahu apa alasannya. Tuntutan yang dibacakan oleh pengadilan pun bukan alasan logis menurutku. Banyak orang menyangka aku lah penyebab kepergian Mas Surya. Tidak mau mengurus suami dengan benar hingga berselingkuh. Hah, pergi dari rumah tanpa ijin suami pun aku tak pernah. Apalagi sampai melakukan hal itu, sepertinya aku tidak sempat memikirkannya.
Aku tinggal di rumah pemberian orang tua ku. Aku dan Mas Surya menempati rumah ini selama hampir 4 tahun. Sebenarnya kedua orang tua ku sudah meminta untuk kami kembali tinggal bersama mereka. Mungkin bapak dan ibu merasa kasihan padaku yang harus mengasuh anak sendirian. Namun, sekali lagi, inilah jalan yang ku pilih. Aku sudah banyak menyusahkan mereka dan tidak mungkin aku menambah beban mereka karena harus mengurusku dan Gibran.
“Unda!” (Bunda!) teriak Gibran.
Bocah itu berlari menghampiriku dengan langkah kecilnya membelah rerumputan di halaman depan. Aku langsung menerima sebuah pelukan darinya setelah ia sampai tepat di hadapanku.
“Sudah capek, ya?” tanyaku sembari mengelap keringat di wajah Gibran dengan jemariku.
Bocah itu langsung mengangguk dan kembali memelukku. “Kalau begitu kita masuk, ya! Sudah sore dan Gibran harus bersih-bersih badan.”
“Bau acem,” kataku lagi dengan menutup hidung. Aku hanya berpura-pura untuk menggodanya. Dan berhasil, bocah itu merasa badannya bau keringat dan minta untuk segera mandi.
Malam tiba, waktunya untuk membawa jagoanku untuk berlayar mengarungi indahnya alam mimpi. Ku peluk tubuh mungil itu di atas tempat tidur. Ia pun segera terlelap sembari menikmati elusan lembut tanganku di punggungnya.
“Selamat tidur, Sayang. Mimpi yang indah,” ucapku sembari mengecup keningnya.
Kemudian aku pun bangkit dan keluar kamar menuju kamar sebelah. Tempat di mana aku harus mencari peruntungan. Sudah ada beberapa helai kain yang memanggilku untuk disentuh. Seakan meminta untuk segera di jahit menjadi sebuah pakaian yang apik. Ya, beginilah aku sekarang. Semenjak Mas Surya tidak lagi tinggal di rumah ini, aku mencoba untuk mengasah kembali keahlian ku dalam menjahit.
Hanya itu yang bisa ku lakukan. Menerima permak pakaian yang bisa ku kerjakan di rumah sembari menjaga Gibran. Selain menjahit, aku tidak punya ketrampilan apapun dan aku juga tidak bisa meninggalkan Gibran untuk bekerja di luaran sana. Ia sudah tidak mendapat kasih sayang dari ayahnya, tidak mungkin juga aku ikut mengabaikannya dengan bekerja di tempat lain.
Ku renggangkan kedua tanganku untuk melemaskan otot-otot di tubuhku sebelum memulai pekerjaanku. Setelah itu barulah aku menyelesaikan pesanan dari orang-orang yang membutuhkan jasa permakku.
Beberapa jam berlalu, tubuhku sudah merasakan linu di bagian pinggang dan sepertinya aku harus beristirahat. Aku membereskan pekerjaanku kemudian kembali ke kamar yang Gibran tempati. Ku baringkan tubuhku di sampingnya dan memeluknya. Gibran adalah alasan untuk tetap kuat menjalani hari-hari ku. Dia lah tiang kokoh penyangga hidupku agar tidak mudah roboh. Tanpa dia mungkin aku sudah hancur.
“Hiks ... Hiks ....” Aku kembali menangis.
Ternyata sesakit ini. Harus menjalani hidup yang sudah ku pilih sendiri. Hidup dalam kesendirian dan harus berjuang membesarkan seorang anak sendirian. Mencoba tegar dan terlihat bahagia di depan banyak orang sangat melelahkan. Tanpa terasa aku terlelap dalam tangisan. Terbuai kesakitan hingga tak sadar mata sudah terpejam.
Pagi harinya aku terbangun. Aku mengerjapkan mata untuk mengembalikan nyawa setelah mengembara di alam bawah sadar. Aku menoleh ke samping, jagoanku masih tertidur. Ku cium pipinya dan segera bangun untuk membersihkan rumah, menyiapkan sarapan untuk Gibran dan juga diriku sendiri.
Setelah selesai, aku juga segera membersihkan diri. Begitulah kegiatanku sehari-hari. Hanya ada kami berdua, aku dan Gibran. Aku selalu mengisi penuh kepalaku dengan memikirkan Gibran seorang. Berusaha agar dia juga bisa mendapatkan kasih seorang ayah dariku.
Aku tersenyum kala melihat jagoanku belum bangun juga. Biasanya dia sudah berlarian saat aku sedang memasak. Mungkin kelelahan kemarin dia asyik bermain di halaman depan rumah. Ku biarkan dia tetap tidur. Kesempatan untuk kembali mengerjakan jahitan yang belum selesai semalam. Ku pijak kembali pedal mesin jahit agar roda imbang dapat berputar. Lembar demi lembar kain mulai tersambung. Beberapa pakaian yang lepas jahitan pun sudah ku tutup kembali. Ku lirik jam dinding di sebelah kananku. Sudah pukul 09.00 WIB. Tumben belum terdengar suara tangisan dari jagoanku. Aku beranjak dari kursi dan berjalan menuju kamar sebelah. Gibran masih tertidur dengan posisi yang sama. Memiringkan tubuh nya membelakangi pintu. Aku mendekat dan mencoba membangunkannya.
“Sayang, bangun yuk! Sudah mau siang loh,” kataku sembari menepuk pelan lengannya.
Tidak ada pergerakan sama sekali. Pulas sekali tidurnya. Apa dia selelah itu sampai bangun siang? Ku coba lagi menggoyangkan tubuhnya sedikit lebih keras. Gibran tetap bergeming. Apa yang salah? Ku sentuh keningnya untuk mendeteksi suhu tubuhnya. Dingin, jagoan ku tidak demam. Namun, kenapa dia tak mau bangun? Ku coba membalikkan tubuhnya. Wajahnya pucat pasi dan sama sekali tak terganggu tidurnya.
“Sayang,”
Aku mulai panik. Tubuh kecilnya lemas dan pucat. Harus segera ku bawa ke dokter, aku takut terjadi sesuatu pada jagoanku. Ku raih gendongan di atas nakas dan ku angkat tubuh Gibran. Setelah membenahi gendongan Gibran, aku langsung bergegas pergi ke rumah sakit.
Rumah q terletak tepat di pinggir jalan raya. Jadi bisa dengan mudah aku menghentikan angkutan umum sebagai transportasi setiap hari. Di sepanjang jalan menuju rumah sakit, aku terus mencoba membangunkan jagoanku tersebut. Namun, ia tetap tak mau bergerak sama sekali.
“Maaf, bisa saya bicara sebentar?” tanya seorang dokter yang baru saja memeriksa Gibran.
“Iya, Dok. Bagaimana keadaan anak saya?” tanyaku balik.
Sang dokter tersebut menghela napas. Raut wajahnya tak bisa ku tebak. Apa yang terjadi dengan anakku? Apa jagoanku menderita penyakit serius hingga dokter pun tak kuasa memberitahu?
“Anda harus sabar, Bu. Ini sudah takdir.”
“Apa maksud dokter?” Aku mulai cemas.
“Anak anda sudah tak tertolong,” katanya dengan pelan. Aku tahu sekarang, raut wajah itu adalah raut wajah penyesalan.
Aku masih bingung dengan penjelasan sang dokter. Belum sempat aku bertanya lagi, salah satu perawat mendekat dan mencoba menutup seluruh tubuh Gibran dengan selimut.
“Tidak!” teriakku.
“Lancang kamu! Kenapa kamu menutup wajah anakku dengan selimut? Kalau dia tidak bisa bernapas bagaimana?” Ku marahi wanita muda yang bekerja sebagai seorang perawat tersebut.
“Tenang, Bu! Anda harus menerima kenyataan ini. Anak anda sudah meninggal.” Sang dokter mencoba menenangkan ku.
Bukan, ucapannya sama sekali tidak membuatku tenang. Aku semakin histeris dan menyangkal pernyataan dokter.
5 tahun berlalu. Sore ini sepertinya akan turun hujan. Namun, tidak mengurungkan niatku untuk mengunjungi makam jagoanku, penyemangatku hidupku. Aku sudah berada di area pemakaman umum dekat tempatku tinggal.
Kata dokter, Gibran meninggal karena mengalami SIDS (Sudden Infant Death Syndrom) atau kematian mendadak pada bayi. Gibran meninggal karena posisi tidur yang membuatnya tidak bisa bernapas.
Bapak dan ibu membawaku kembali pulang ke rumah mereka dan menjual rumah yang ku tempati. 4 tahun setelah Gibran tiada, aku berjuang melawan diriku sendiri. Berjuang melawan rasa bersalah karena kematian Gibran. Aku yang tidak becus merawatnya.
Mentalku tertekan. Baru saja menelan pil pahit karena rumah tangga yang hancur, aku masih harus tertusuk kenyataan bahwa jagoanku juga meninggalkanku. Selama 2 tahun pertama aku merasa bukanlah diriku sendiri. Apa yang kulakukan selalu berada di luar kesadaranku. Ibu bilang, aku sering menyendiri dan menangis histeris.
Apa lagi setelah Mas Surya datang dan menyalahkanku yang tidak bisa merawat Gibran dengan baik. Aku semakin terpuruk. Bahkan aku sempat ingin mengakhiri hidupku sendiri. Hingga bapak dan ibu memutuskan untuk membawaku ke psikiater untuk membantu memulihkan keadaanku.
Akhirnya aku berhasil menjadi diriku sendiri setelah 2 tahun pengobatanku. Aku juga sudah menikah kembali dan saat ini tengah mengandung adik Gibran. Aku berhasil membangun kembali tiang kehidupan yang sempat ambruk karena tiang utamanya sudah roboh. Aku berhasil menata puing-puing hidup yang sempat tercecer. Semua itu berkat orang-orang yang masih menyayangiku, selalu setia menyemangati dan menemaniku.