"An an an an Ani ko kotoba wai iranai."
"Demo nande darou, oo."
"Zen zen zen zen zenboku nomono ni shitai. I wanna wanna touch your body." senandung gadis pendek dengan rambut sebahu.
"Body, body, body body body, body, body, body body body, body!" sahut orang-orang yang gadis itu lewati ikut bernyanyi bersama.
"3, 2, 1 let's sessions," ucap salah seorang gadis berpakaian seragam sama seperti gadis berambut pendek.
"Check, check, check tasting you," gadis berambut sebahu itu mulai bernyanyi.
"No no no no ooo"
"Hyappatsu hyakchuu hole in one."
"Whoa oh oh yeah yeah"
"Shaburitai shaburenai tee yacchattee Yo hasso alright!" lanjut gadis berkepang satu.
"Furemitai!" sahut semua yang ikut jalan berbarengan sembari bernyanyi.
"Dakiatai hadoka doushi de chotto shitai irechatte mo ii kana? (huwa huwa) ah asu wa dou naru rinkan wa iya da...."
"An an an an Ani kimochi janaida yaritai koto bakari so so so sou soujite ukeirete mo ii mou nandette ii rise nante bara-bara ni nacchae Yo!"
"Body, body, body body body. Body, body, body. Body, body, body, body."
"No no no no doutei desu (no no no no oh) zettai meichuu zenritsusen (wow Wowo yeah yeah) datte ima sugu."
"Yaritai, yaritai, yaritai, ooh, asedakude... sawarasena Kimi wa shoujo na no Boku wa yarichin bicchi no osu da yo (osu da yo) aah, setsumareitaina Kimi no nenmakuni!..." mereka semua bernyanyi bersama.
"Fallen... huwa huwa, huwa huwa, huwa huwa."
"Body, body body body. Body, body body body...."
acara bernyanyi bersama dengan orang tidak dikenal yang sesama fujoshi pun berakhir didepan gerbang sekolah. Dua orang gadis berambut kepang satu dan rambut sebahu pun masuk kedalam Sekolah SMA yang sudah penuh oleh para murid yang hilir mudik.
setelah masuk mereka berdua langsung menuju kelas dalam perjalanan menuju kelas gadis berambut hitam dan cebol itu tanpa sengaja menabrak seorang murid laki-laki.
Bruk!
"Aws, maaf, Aku gak sengaja," ringis gadis berambut sebahu itu. Lelaki itu hanya mengangguk dan pergi begitu saja.
"Eh, y/n lu gak pa-pa?" tanya gadis berkepang satu meneliti dari atas sampai bawah tubuh gadis cebol ini.
"I-iya, gue gak pa-pa, gak usah lebay, deh," ucap Y/n menepis tangan Yuki.
"Lu, mah, kebiasaan, dah. Yang nabrak itu bukan elu tapi, tuh, cowok napa elu yang minta maaf," ucap Yuki bertolak pinggang.
"Udah, lah. Emangnya kenapa, sih masalah minta maaf aja pake diributin segala. Udah, jangan ngomel masih pagi," ucap Y/n memasuki kelas.
"Eh, ngomong-ngomong cowok tadi kagak bisa ngomong apa? padahal lu udah minta maaf tapi, tuh orang cuman ngangguk."
"Tau. mungkin lagi males ngomong aja kali."
"Kayanya bukan deh, kayanya, tuh orang gak mau ngomong karena merasakan aura fujo lu terlalu besar jadi dia gak mau deket-deket."
"Ha? tau dari mana, lu?"
"Ya tau lah, heh! tadi aja lu ngajak semua orang buat ikut nyanyi lagu YBC. Onyon!" Yuki menoyor kepala Y/n.
"Kayanya, iya, deh. Perawakan nya kaya uke, kaya ya dia takut gue buntutin, deh."
"Mulai! heh, Cebol, denger, yah. gak semua cowok didunia ini kaum pelangi. Lu juga kapan mau berhenti jadi stalker? ngintilin orang sok jadi temen padahal nyari momen emas, mencari kesempatan dalam kesempitan."
"Sampe gue dapet, uke."
"Sadar, woi. Elu cewek gak akan pernah bisa dapet uke!"
"Yah, berarti gue gak akan berhenti jadi stalker," ucap Y/mengangkat kedua bahunya acuh.
Pak!
"Sadar! akhir jaman udah Deket!" Yuki menjitak kening Y/n.
Pelajaran dimulai sekolah mulai sepi karena seluruh murid sudah masuk kekelas masing-masing dan memulai pelajaran.
Satu jam telah berlalu Yuki dan Y/n sedang beristirahat ditaman sekolah ditemani dengan Snack dan minuman yang sempat mereka pesan.
Murid laki-laki yang berpapasan dengan Y/n lewat didepan mereka membuat Y/n mengalihkan perhatian pada murid laki-laki itu, badannya kurus dan seperti nya lemah, entah kenapa Y/n tertarik pada murid laki-laki itu.
Y/n pamit ingin ke Toilet pada Yuki yang sebenarnya ingin mengikuti murid laki-laki itu,Y/n terus mengikuti kemana murid laki-laki itu pergi. Dari mulai kantin hingga kebelakang sekolah.
Murid laki-laki itu membawa begitu banyak makanan yang Y/n kira itu untuk ia makan tapi perkiraan Y/n salah, ternyata anak murid laki-laki itu menjadi babu anak kelas dua.
"Aih, gue kira seumur ternyata beda satu tahun, ehe, adik kelas gua ternyata."
Y/n membelalakkan matanya kala melihat adik kelas dipukul karena salah membeli roti yang anak kelas dua itu inginkan.
"Woi!" teriak Y/n nyaring.
"Hah? Chibi? mau ngapain udah Sono mending lu pergi, mau jadi pahlawan kesiangan Lo–" belum selesai bicara anak kelas dua itu ditendang perutnya oleh Y/n.
"Akh! ohok! ohok! ohok!" Anak kelas dua itu memegangi perutnya yang sakit akibat tendangan Y/n.
Y/n menarik tangan adik kelas nya itu untuk pergi ketempat lain.
"Maaf, kamu mau bawa aku kemana?" tanya murid laki-laki itu.
"Ketaman sekolah."
"Pelan-pelan jalannya," ucap Murid laki-laki itu karena jalannya terseok-seok.
"Ouh, maaf." Y/n pun memperlambat langkahnya.
"Makasih, udah mau nolongin aku."
"Kamu, kok, enggak ngelawan Meraka, sih?"
"HM? aku gak bisa."
"Kenapa gak bisa, kamu, kan cowok harusnya bisa dong."
"Aku udah pernah coba lawan, tapi akhirnya aku yang babak belur."
Y/n menghentikan langkahnya, "Padahal kamu cowok." Y/n berbalik menghadap Murid laki-laki itu.
"Kan, gak semua cowok bisa gelut."
"Yah... emang gak semua bisa tapi, kan bisa, lah sedikit-sedikit, mah."
"Aku bukan, termasuk cowok kaya gitu."
"Iya, deh, iya. Oiya dari tadi kamu mukanya ditutup mulu pake tudung buka, dong." murid cowok itu memalingkan wajahnya.
"Maaf, gak bisa," tolak Murid laki-laki itu mentah-mentah.
"Kenapa?"
"Gak ada alasannya, pokoknya gak bisa!"
"Ish!"
Y/n dan Murid laki-laki itu sudah sampai di Taman tapi tidak menemukan Yuki sama sekali. "Are? Yuki kemana, yah?" Y/n celingak-celinguk mencari keberadaan Yuki, murid laki-laki itu pun juga ikut melihat ke sekeliling mencari keberadaan Yuki.
Y/n memperhatikan murid cowok itu yang sedang fokus mencari Yuki, karena gatal dan penasaran dengan wajah Murid cowok itu tangan Y/n secara tidak sadar melepas tudung Hoodie cowok tinggi yang ada didepannya.
"Astaga! Astaghfirullah! gue gak lagi mimpi, 'kan!" teriak Y/n histeris setelah melihat wajah cowok didepannya.
"Anjir! Da-da-da-da-da-daisuke kambe! gile, Lo. Elu Daisuke kambe?! kyaaaaa! Husbu gue nyata!" teriak Y/n yang membuat mereka jadi pusat perhatian.
"Sshh, sshh. Aku bukan Daisuke kambe, emang muka aku mirip sama dia." murid cowok itu panik karena gadis-gadis terus menatap dirinya.
"Kyaaaaa Husbu gue nyataaaaaa!!!" teriaknya lebih kencang.
"Makasih, Tuhan engkau telah menyatakan Hubsu saya."
"Eh, eh, Kan aku bilang Aku bukan Daisuke kambe!"
"Terserah, mau lu Kambe atau bukan, yang penting gue seneng banget. Mimpi apa gue semalaman!"
Yuki datang dengan bakpao isi ayam ditangannya, Yuki melihat Murid laki-laki itu lewat bahasa tubuhnya Yuki bertanya 'Nih, anak kenapa?' murid laki-laki itu hanya menatap Yuki, beberapa detik kemudian Yuki sadar kenapa Y/n seperti orang gila baru jadi.
"Mulai sekarang lu Crush gua, titik gak ada penolakan!"
"Apa? engg–"
"Gue bilang tadi apa? gak ada penolakan!" ucap Y/n mengancam Murid laki-laki itu dengan pisau.
"Dari mana, tuh pisau?" tanya Yuki dengan mulut penuh bakpao.
"Kepo."