Entah sejak kapan rasa ini mulai tumbuh di dalam hati, yang jelas mulai sejak itu aku merasa dialah yang ku cari selama ini. Pertemuan pertama yang sangat jauh dari kata romantis membuat jalinan cerita yang terlukis seolah memberikan makna yang sangat dramatis. Aku tidak menyangka kalau pertemuan itu mampu membekas dan selalu memberikan refleksi wajahnya di fikiranku. Aku jatuh cinta sejak pandangan pertama pada seorang lelaki yang malam itu aku tabrak bahunya sampai-sampai air didalam gelas yang ku pegang tumpah ke bajunya yang berwarna putih. Setengah mati aku meminta maaf pada nya atas keteledoranku dan menawarkan untuk membersihkan bajunya yang kotor sebagai wujud permintaan maaf tapi dia malah membentakku dan mengataiku cewek yang gak becus alih-alih marah aku malah terpaku pada wajahnya yang manis dengan lensa matanya yang berwarna hitam legam, aku kagum, sepersekian detik aku terpaku menatapnya sampai ia mengibaskan telapak tangannya yang besar didepan wajahku baru aku bisa tersadar.
" Heh lo kesambet ya ? " ucapnya saat mengibaskan tangannya didepan wajahku. Aku lalu tersadar dan mengerjapkan kedua mata
Setelah tersadar aku ingat apa yang sedang terjadi sekarang dan kembali kedunia nyata lagi " terus gue harus gimana ? " Tanyaku bingung pasalnya dia juga tidak mengatakan apa yang harus aku lakukan sebagai tanggung jawabnya
Dia menghela nafas kasar " yaudah lupain aja, lain kali hati-hati kalo jalan " aku lalu terdiam sembari menatap kepergiannya dan bodohnya aku malah menginginkan untuk bertemunya lagi nanti
Paginya aku kembali ke rutinitas seperti biasa yaitu sekolah yah aku masih SMA kelas 11 aku bukan orang yang tenar disekolah yang memiliki geng-geng cewek hits, aku cuma siswi biasa yang mengandalkan sedikit kecerdasan ku untuk bertahan hidup disekolah elit ini tapi tunggu walaupun aku bukan termasuk cewek hits disekolah aku termasuk salah satu kebanggaan guru-guru dan aku juga punya jabatan ketua kelas di kelasku. Baiklah lupakan itu kita kembali ke cerita utama
Seperti biasa aku selalu datang kesekolah lebih awal bahkan disaat siswa-siswi lain belum berdatangan aku sudah stand by didalam kelas dan pagi itu adalah pagi yang menurutku paling indah dari pagi-pagi sebelumnya, ada seseorang yang duduk di kursi yang tepat berada didepanku aku tidak kenal, sepertinya dia murid baru, sebagai ketua kelas yang baik aku pun berinisiatif untuk bertanya
" Maaf lo murid baru ya ? " Tanyaku dan dia menoleh, saat dia menoleh aku terkejut dan inilah yang membuat pagiku hari ini terasa indah " loh lo kan cowok yang tadi malem ? " iya dia cowok yang terlibat insiden penabrakan bahu tadi malem denganku sekaligus yang aku bilang bahwa aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Tidak berbeda dariku yang sangat terkejut dia juga sama terkejutnya saat melihatku
" Lo si cewek yang numpahin sirup kebaju gue kan. Lo sekolah disini juga ? " tukasnya
" Iya gue sekolah disini dan gue juga ketua kelas dikelas ini "
Cowok itu menatapku sinis seperti meremehkan " gak salah lo jadi ketua kelas, bawa gelas aja gak becus gimana mau jadi ketua kelas " jujur sebagai cewek aku merasa harga diriku sudah di injak-injak walaupun cuma karena hal sepele tapi yang anehnya aku tidak bisa marah sedikitpun
" Terserah lo mau bilang apa tapi yang jelas gue bukan seperti apa yang lo bilang ... Kenalin nama gue Adistya " aku pun mengulurkan tanganku padanya anggap saja ini sebagai sambutan pertama
" Gue Aksara panggil aja Aksa " walaupun nada suaranya terdengar dingin dan mengintimidasi tapi setidaknya dia mau menjabat tanganku
" Selamat datang ya kalo butuh bantuan bilang aja sama gue " Aksa cuma menanggapinya dengan anggukan, lagi-lagi aku cuma bisa menatap kepergiaannya dalam diam.
Beberapa minggu berlalu sejak saat pertama Aksa bersekolah disekolahku, dia masih saja bersikap dingin walaupun aku berusaha memberikan sikap yang berlawanan. Namun entah kenapa sikapnya yang dingin itu semakin membuatku jatuh cinta dan membuatku semakin penasaran. Dengan postur tubuhnya yang tegap itu selalu berhasil membuat siapa pun pasti terpesona apalagi saat dia bermain basket dengan keringatnya yang bercucuran, banyak siswi-siswi lain yang berteriak histeris setiap kali Aksa berhasil memasukkan bola basket kedalam ring, jujur aku juga merasakan pesona itu bahkan sejak pertama bertemu
" Adistya " lamunanku tersentak saat suara pak Dimas guru olahragaku menggema di seluruh lapangan yang berteriak memanggil namaku
Aku lalu menghampiri beliau yang tengah berdiri dilapangan basket " iya pak " jawabku setelah menghadap pada pak Dimas
" Tolong absen kan teman-temanmu ya bapak ada keperluan sebentar dengan kepala sekolah "
Aku mengangguk dan segera melaksanakan perintah pak Dimas, sembari berlari kearah ruang kepala sekolah pak Dimas berteriak menyuruh teman-temanku untuk berkumpul ditengah lapangan. Tidak hanya sekali aku disuruh pak Dimas untuk menggantikannya mengabsen, ini sudah kali keberapanya aku juga lupa
" Arman Prasetya " ucapku menyebutkan nama temanku yang ada diurutan pertama dan yang selanjutnya ada namaku sendiri diurutan kedua. Saat berada di urutan kesepuluh tiba-tiba aku merasa dunia berputar kepala ku pusing sekali rasanya seperti ingin meledak aku juga tidak bisa lagi melihat tulisan yang ada dibuku absen dan setelahnya aku merasa tubuhku mulai limbung, aku mendengar suara teman-temanku yang memanggil-manggil namaku tapi aku sudah tidak berdaya lagi hanya sekedar untuk membuka mata
Malamnya saat terbangun hal pertama yang menyeruak di indera penciuman dan pendengaran ku adalah aroma obat-obatan dan bunyi mesin pendeteksi jantung. Tubuhku sangat lemah dan terasa dingin pernafasanku juga terasa sangat sesak
" Lo udah sadar ? "
Suara itu sepertinya aku kenal " Aksa kok lo ada disini ? " setelah kejadian tadi siang, aku hanya mengingat saat teman-temanku semua berteriak memanggil-manggil namaku dan selebihnya hanya dunia gelap yang aku lihat
" Gue yang anter lo kesini " jawab Aksa
Aku pun tersenyum " Thanks ya udah bantu gue "
" Gak masalah " jawab Aksa lagi " yaudah kalo gitu gue balik dulu "
" Tunggu bentar " gue menahan tangan Aksa supaya dia tidak jadi pergi. Aksa hanya menatap tangannya yang ku genggam " ada yang mau gue omongin sama lo "
Aksa masih terdiam tapi dia tetap menuruti keinginan ku
Setelah Aksa duduk dikursi di samping brankarku, aku mulai berbicara " gue bingung harus memulai dari mana " aku terkekeh sendiri padahal yang ingin berbicara adalah aku tapi malah aku juga yang bingung memulainya. Aksa tersenyum dan ini adalah kali pertamanya aku melihat Aksa tersenyum " Aksa " panggilku " gue tau gue pasti lancangan ngomong ini sama lo tapi jujur dari awal gue ngeliat lo gue langsung jatuh cinta sama lo " aku melihat jelas raut keterkejutan di wajah Aksa " lo pasti kaget kan gue tau kok. Gue cuma mau lo jadi pacar gue " raut keterkejutan diwajah Aksa semakin jelas
" Maksud lo, lo nembak gue gitu ? "
Gue pun mengangguk dengan yakinnya dan tidak ada sedikitpun rasa ragu dan takut dalam diriku untuk mengatakan itu pada Aksa. Memang benar tidak ada sejarahnya cewek yang nembak cowok duluan tapi apa salah kalau aku mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya " gue tau kalau lo gak suka sama gue dan bahkan gak ada rasa cinta buat gue sedikit pun " aku terdiam sejenak untuk memikirkan rangkaian kata apa lagi yang akan ku ucapkan pada Aksa " gue bakal ngasih lo waktu 60 hari buat belajar mencintai gue " aku yakin waktu 60 hari itu cukup untuk membuat Aksa membalas perasaanku
" Gu- gue gak yakin bisa tapi gue bakal coba " aku tidak menyangka kalau Aksa akan menerima perasaanku walau hanya masih dalam status percobaan tapi aku yakin dalam 60 hari Aksa pasti bisa mencintaiku
30 hari berlalu aku dan Aksa menjalani hubungan sebagaimana mestinya orang berpacaran walau jarang ada skinship seperti berpegangan tangan atau duduk berdua ditaman sembari bersenda gurau malah aku merasa Aksa semakin menjauh dariku, tapi aku tidak akan menyerah hanya karena hal tersebut
Aku menghampiri Aksa yang tengah duduk di balkon depan kelasku, aku menyapanya tapi dia tidak membalas sapaanku, aku pun bertanya lagi apakah dia sudah makan atau belum namun Aksa hanya membalasnya dengan gelengan karena ia masih fokus dengan bukunya. Beberapa detik kita berdua hanya diam saja sampai aku bertanya tentang kejelasan perasaannya terhadapku
" Gimana lo udah mulai bisa cinta sama gue gak ? " tanyaku. Aksa pun menutup bukunya dan duduk menghadapku
" Kita pacaran bukan atas dasar cinta sama cinta, gue udah coba buat belajar cinta sama lo tapi gue gak bisa "
Aku pun tersenyum pahit mendengar ucapan Aksa, aku tau di sini posisinya hanya aku yang mencintai Aksa tapi Aksa tidak " masih ada waktu 30 hari lagi kok gue yakin dalam waktu 30 hari lo bisa cinta sama gue "
30 hari yang tersisa pun telah tiba
(Author POV)
Pagi itu Aksa datang kesekolah dengan tergesa-gesa entah apa yang terjadi sampai-sampai bunyi gebrakan pintu mengagetkan teman-temannya
" Kenapa bro ? " tanya Aldo
" Lo tau kabar Adis gak ? " ujar Aksa
" Adis ? emang lo gak tau kabar terbaru tentang Adis ? " pertanyaan Aldo sontak membuat Aksa semakin bertanya-tanya tentang cewek itu. Waktu itu sekolahnya diliburkan selama seminggu, dua hari pertama Aksa dan Adis masih berkomunikasi lancar dan pada hari 3 sampai hari ini Aksa dan Adis tidak berkomunikasi sama sekali dia penasaran tidak biasanya Adis menghilang seperti ini dan itu juga yang membuatnya datang kesekolah dengan tergesa-gesa
Aksa menggelengkan kepalanya tanda ia tidak tau sama sekali soal Adis
" Gue kira lo tau kabar Adis sekarang " ujar Aldo lagi
" Yaudah kasih tau gue sekarang "
" Udah 4 hari ini Adis koma dirumah sakit " terang Aldo
" Apa " jelas saja penuturan Aldo membuat Aksa sangat terkejut karena sebelumnya Adis tidak mengatakan padanya bahwa dia sedang sakit
" Lo dateng aja kerumah sakit tempat Adis dirawat "
Tanpa membuang waktu lagi Aksa pun beranjak meninggalkan kelasnya untuk menyusul Adis dirumah sakit
Singkat cerita Aksa pun sampai dirumah sakit dan langsung bertanya pada resepsionis dimana kamar rawat Adis. Setelah tau diamana kamar Adis di rawat Aksa pun langsung menuju kesana, saat sampai disana ada sepasang suami istri yang bisa Aksa tebak adalah kedua orang tua Adis
" Permisi om tante apa benar ini kamar rawatnya Adis ? " tanya Aksa sopan
Kedua orang paruh baya itu saling menatap satu sama lain " kamu yang namanya Aksa kan ? "
Aksa pun lekas mengangguk " iya tante aku Aksa "
" Syukurlah kamu kesini nak, Adis ingin bertemu sama kamu " ujar ibu Adis
" Adis udah sadar tante ? "
" Iya Adis udah sadar kamu temui dia ya "
" Iya tante, aku permisi masuk om tante "
" Silahkan " balas ayah Adis
Adis menolehkan kepalanya saat merasa ada seseorang yang memasuki kamar rawatnya " Aksa " ucap Adis lemah
" Hai Dis, lo baik-baik aja kan ? " tanya Aksa sembari menggenggam tangan Adis " Dis gue mau bilang sesuatu sama lo "
Namun sebelum Aksa melanjutkan ucapannya Adis sudah lebih dulu berbicara " Sa gue mau ketaman lo bisa antar gue ke sana gak ? gue bosen ada disini mulu "
" Tapi kan lo masih lemah Dis " balas Aksa
" Sekali ini aja Sa "
Aksa pun tidak bisa lagi menolak keinginan Adis " tapi gue minta izin dulu sama orang tua lo ya " setelah mendapat anggukan dari Adis Aksa pun keluar untuk meminta izin pada orang tua Adis. Beberapa menit kemudian Aksa kembali lagi sembari membawa kursi roda untuk Adis dan syukur saja orang tua Adis mengizinkan Adis untuk ketaman
" Ayo " ujar Aksa
Mereka pun sekarang sudah ada ditaman dengan Adis yang berbaring dipaha Aksa, Aksa yang menyuruhnya karena dia tau pasti tubuh Adis masih terasa lemah untuk digunakan duduk
" Makasih ya Sa udah mau nganter gue ke sini " wajah pucat Adis tersenyum, bahkan tanpa riasan pun Adis tetap terlihat cantik " tadi lo mau ngomong apa ? "
" Eum gue- gue mau bilang—" Adis masih menunggu kelanjutan ucapan Aksa " gue mau bilang kalo gue udah bisa cinta sama lo "
Adis pun tersenyum, ia lega sekarang karena tepat di hari ke-60 Aksa mengatakan kalau dia sudah bisa mencintai dirinya " sekali lagi makasih ya Sa sekarang gue bisa pergi dengan tenang "
Pergi dengan tenang ? apa maksud ucapan Adis apa dia mau pindah sekolah " maksud lo ? " tanya Aksa kemudian
" Maaf selama ini gue gak pernah bilang sama lo kalau gue sedang sakit keras dan dokter memvonis hidup gue tinggal 60 hari "
" Gue gak ngerti sama omongan lo "
" Lo gak perlu ngerti kok Sa yang jelas sekarang di hari terakhir gue hidup gue bisa denger lo bilang cinta sama gue "
" . . . dan gue mau denger sekali lagi lo bilang cinta sama gue "
Airmata Aksa sudah tidak bisa dibendung lagi, kenapa disaat dia mulai bisa mencintai Adis disaat itu juga dia bakal pergi, ternyata inilah maksud dibalik waktu 60 hari yang diberikan oleh Adis untuknya, dia ingin di 60 hari sisa umurnya Adis bisa merasakan cinta dari Aksa namun bukan cinta yang diberikan Aksa melainkan luka karena baru di hari ke-60 Aksa bisa mencintai Adis. Aksa merasa tidak sanggup mengucapkan itu tapi Adis terus meyakinkannya
" Untuk yang terakhir kali Sa " ucap Adis meyakinkan sembari tersenyum
" Gu- gue cinta sama lo Dis "
Adis pun tersenyum sembari mengusap airmata Aksa " gue juga cinta sama lo Sa dan makasih buat 60 hari yang sangat berarti ini " dan setelah itu mata Adis mulai tertutup bersamaan dengan helaan nafas panjangnya
" Dis jangan tutup mata lo—Adis gue bilang jangan tutup mata lo " namun Adis tak kujung membuka matanya lagi " ADIS JANGAN TINGGALIN GUE " Aksa pun berteriak kencang sembari memeluk tubuh ringkih Adis yang sudah tidak bernyawa lagi.
Bertepatan setelah itu datanglah orang tua Adis sembari memberikan secarik kertas pada Aksa " nak Aksa bacalah surat ini " ujar ibu Adis
Aksa pun membuka surat itu dan mulai membacanya
Hai Sa saat lo baca surat ini mungkin gue udah gak ada
Gue cuma mau bilang kalau gue cinta sama lo
Terimakasih karena lo udah mau nyoba buat cinta sama gue juga
Dan akhirnya lo berhasil, gue bangga sama lo
Nanti setelah gue udah ketemu sama Tuhan
Gue mau bilang tolong terus jagain Aksa di dunia
Tolong jagain cowok yang sangat gue cinta
Eh jangan nangis ah cengeng banget jadi cowok
Saat membaca bait tersebut Aksa langsung menghapus airmatanya
Haha udah dulu ya, gue mau istirahat dulu
Dadah Aksa gue bakal selalu ngawasin lo dari langit
" Selama ini Adis mengidap kanker darah stadium akhir dan dia tidak mau mengatakan itu sama nak Aksa. Adis itu anak yang kuat bahkan disaat penyakit nya kambuh pun Adis tidak pernah mengeluh sampai dimana Adis bilang kalau dia nemuin cinta pertamanya yaitu kamu nak Aksa " jelas ibu Adis
Tatapan Aksa pun teralih pada gadis yang sekarang telah menutup rapat kedua matanya " thanks ya Dis lo udah ngasih pelajaran berharga buat gue, dari lo gue belajar betapa berharganya waktu kebersamaan "
Bahkan saat jasadnya tak lagi bernyawa Adis masih bisa menampilkan senyuman termanis nya dan dengan itu ia bisa mengatakan pada Tuhan kalau kepergiannya sama sekali tidak sia-sia
Selamat jalan Adistya