Sebuah komitmen, dimana dua pasang mengikrarkan janji untuk selalu mendampingi. Ada pula yang takut dengan kata komitmen, dimana hati harus lebih siap untuk disakiti. Seperti Alin, ia memutuskan berkomitmen namun ia pula sudah mantap jika hatinya akan disakiti kembali. Adam orang yang bisa membuat Alin percaya kembali akan cinta, orang yang menawarkan diri untuk membantu Alin dalam melupakan cintanya yang lalu, dan ia pula yang akan menyakiti Alin di persimpangan hubungannya ia merasa jenuh. Ia merasa lelah, tak banyak yang ia harapkan dari Alin, ia juga merasa bahwa dirinya hanya sebagai pelampiasan semata. Namun bukan sepenuhnya Alin yang menjadikannya pelampiasan, tapi ia sendiri yang menawarkan bantuan.
"kita udah lama kayak gini, dan kamu masih ada rasa sama mantan kamu. Kamu seperti enggak ngehargai aku disini. benar Alin?." Tanya Adam, saat ini mereka berada di taman, tempat mereka pertama kali bertemu, tempat yang penuh akan kenangan, yang mungkin akan selesai.
"bukan maksut aku begitu. Kamu beda dengan dia. Tempat kamu di hati aku juga berbeda." jawab Alin sambil menundukkan kepalanya.
"Berapa kali aku harus bilang?. Untuk kamu mengingat dia?. Lupain, dia ngerti keadaan kamu aja enggak. Buat apa kamu berharap lagi? hah buat apa?." Emosi Adam begitu memuncak saat mendengar jawaban Alin yang menurutnya begitu hebat. Wajar jika ia lelah, ia juga memiliki perasaan. Dua tahun lamanya, ia bergelung dengan emosi, membuat orang melupakan orang lain itu tidak mudah apalagi orang tersebut sangat disayangi. Sungguh miris nasib Adam saat ini.
"A-a-aku min-min ta maaf. nggak-nggak bermaksud gitu. Dia udah terganti sama kamu, tolong. Aku sayang kamu." Ucap Alin sambil menitikkan air matanya.
"Belum sepenuhnya kan?." Tanya Adam dengan Wajah datarnya. Oh tolong ia sudah lelah dengan semuanya.
Namun dengan jujurnya Alin menganggukkan kepalanya, ia tak ingin membohongi perasaannya. Bahkan hal tersebut mampu menyakiti perasaan Adam kesekian kalinya.
"Pikirin lagi, temui aku pas dia sepenuhnya udah terganti sama aku. Bukan maksut aku maksa kamu buat sayang sama aku, tapi semuanya bikin capek Alin. Aku capek kamu belom pernah membalas semua perasaanku. Apa kamu ragu?. Apa kamu nggak percaya?. Iya Alin?." Jelas dan Tanya Adam, ia sudah jengah dan berniat meninggalkan tempat tersebut.
Adam pun memutuskan untuk pergi dari taman tersebut dan meninggalkan Alin seorang diri, biarkan Alin menyadari semuanya. Mungkin semuanya akan membaik. Atau malah berakhir dengan tragis?.
"Adam, maaf dua tahun lamanya kamu hanya menempati setengah dari hatiku. Bukan karena aku tidak menyayangimu, sungguh aku sangat menyayangimu, tapi aku gamau bohongi perasaanku Adam. Aku harap kamu nggak kayak dia." Guman Alin masih dengan wajah sembanya lalu pergi meninggalkan taman tersebut untuk pulang kerumah.
Disisi lain, Sebuah Cafe, ya Adam memutuskan untuk ke Cafe bertemu seseorang yang sudah membuat janji dengannya.
"Hai sayang." Sapa orang tersebut.
"Hai Bella, Akhirnya kamu balik juga." Sapa balik Adam sambil memeluk Bella.
Bella, sosok yang sudah menemaninya sejak kelas 11 SMA lebih tepatnya Bella adalah kekasihnya. Ya empat tahun sudah Bella memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Jerman. Mereka masih berkomunikasi, mengenai Adam dan Alin, ya Adam akui ia telah membohongi Alin begitu lamanya, entah Adam yang begitu pintar menyembunyikan atau Alin yang begitu bodoh yang mempercayai kata kata Adam begitu saja. Ah, soal perasaannya dengan Alin, ia akui ia juga sedikit memiliki rasa dengan Alin katakan itu adalah sebuah ketertarikan. Dimana kita sedang dalam mode LDR dengan pasangan kita, lalu kita bertemu sosok baru dengan image lebih menggoda daripada kekasih kita. sosok mana yang akan menolak?. Hanya sosok dengan tingkat kesetiaan yang begitu tinggi saja yang akan menolak. Berbeda dengan Adam, ia akan menceritakan semuanya kepada Bella tanpa ada yang ditutupi, sedangkan dengan Alin ia akan menjadi seorang yang hangat namun banyak kemisteriusan.
"Langsung aja ke Apartemen gimana?." Tanya Adam sambil mengelus puncak kepala Bella
"Yaudah deh, yuk." Ajak Bella sambil menggandeng tangan Adam untuk keluar Cafe.
cup.
Bibir keduanya bertemu, Adam lah yang memulai. Ia melihat siluet Alin melewati cafe tersebut. Namun Dewi Fortuna tidak bersahabat dengan Adam, dan naasnya Alin masih menyaksikan kegiatan tersebut. Ia hanya membiarkan kekasihnya mencium wanita lain. Akhirnya ia tahu, keputusan apa yang akan ia perbuat akan komitmennya.
"Aku akan memutuskan untuk sendiri kembali. Kembali menutup hati seperti sebelumnya. Ia yang aku percaya nyatanya berkhianat denganku. Aku memaafkanmu Adam, tapi aku kecewa denganmu. Semoga kamu berbahagia dengannya. Kisahku kembali berujung tragis, dulu ia meninggalkan ku secara sepihak dan sekarang ia mencari orang lain untuk mendapatkan alasan agar dapat meninggalkan ku. Let's do start, Princess." Ujar Alin sambil menguatkan dirinya lalu pergi meninggalkan area tersebut dengan sesak dihatinya. Ia ingin menangis, akan tetapi ia sudah capek.
Adam pun menyadari jika Alin sudah meninggalkan area tersebut.
"Dendamku akan terbayar sebentar lagi melaluimu, Alin. Maafkan aku." gumamnya sambil mengeluarkan smirknya. Lalu mengandeng Bella menuju mobil untuk ke Apartemen mereka berdua.