Terkadang Tuhan menakdirkan seseorang hadir hanya untuk sekedar dicintai tapi tidak untuk dimiliki.
Yah ... aku membagikan kisahku ini hanya untuk, melerai sedikit penat di benakku saja, bukan untuk dikasihani apalagi diejek.
8 tahun lalu, aku terpaksa merelakan hubunganku dengan Lembayung Senja, adik tingkatku. Kandasnya hubungan kami justru karena aku yang serius ingin segera menikahi Lembayung, namun orang tua Lembayung tidak setuju. Semula alasan penolakan dari keluarga Lembayung adalah karena kami berbeda iman, lalu kemudian kuketahui orang tua kekasihku itu tidak sreg karena aku berasal dari keluarga sederhana dan pekerjaanku yang 'hanyalah' seorang guru honorer.
Kecewa, tentu saja. Makanya aku putuskan pergi ke pulau lain, meninggalkan keluarga juga pekerjaanku, lalu aku memilih masuk ke sekolah Theologia dan tinggal asrama untuk mengobati luka hatiku.
Seiring berjalannya waktu dan melewati proses serta penempaan yang keras akhirnya motivasiku dimurnikan, sehingga kemudian aku ditahbiskan menjadi pendeta dan dikenal sebagai 'Pastor Sagara'.
***
Baru saja aku selesai doa pagi, kamarku di ketuk oleh Satpam pastori.
"Selamat pagi, pastor."
"Pagi, ada apa pak?"
"Pastor Sagara diminta bersiap menggantikan pelayanan Pastor Willy yang akan melaksanakan ibadah pemberkatan nikah jam 9 nanti, pak," kata pak Satpam.
"Aduh ... mendadak sekali, memangnya Pastor Willy kemana, pak?" Tanyaku.
"Asma-nya kumat dan saat ini masih di IGD."
"Ya Tuhan, semoga beliau baik-baik saja."
"Maaf saya harus kembali ke pos," pamit pak Satpam. "Baik, pak. Terima kasih infonya. Selamat bekerja, Tuhan memberkati."
Tidak lama pihak Sekretariat menghampiriku, mengulang informasi yang sama dari pak Satpam sekaligus memberikan Liturgi atau tata ibadah pemberkatan nikah.
Sekilas aku membaca nama calon mempelainya, yang pria : Benjamin Sanjaya dan yang wanita bernama : Lembayung Senja.
Dheg! Aku terkejut saat membaca nama mempelai wanita yang sama persis dengan kekasihku dulu. Eh, tapi kan ... di dunia ini yang namanya Lembayung Senja, pastinya gak cuma yang satu itu, dong.
Sayangnya aku tidak bisa memastikan karena di liturgi itu tidak dicantumkan tanggal lahir ataupun nama orang tua mempelai.
"Maaf pak, boleh saya minta berkas calon mempelai?" Pintaku pada pekerja Sekretariat.
"Oh ini, ada saya bawa, Pastor. Sekalian saya juga mau minta tanda tangan pastor Sagara di buku nikah mereka nanti."
"Baik, pak."
Aku terdiam saat memperhatikan data calon mempelai wanita yang akan kuberkati nikahnya hari ini. Nama : Lembayung Senja. TTL : Banjar Masin, 10 Oktober 1992. Nama Ayah : Bayu Aji. Nama Ibu : Nur Amalia. Astaga ... aku benar-benar terkejut melihat info yang kudapatkan, ini benar-benar 'Lembayung'ku dulu, apalagi saat kulihat pas photonya, tidak salah lagi. Lalu aku lihat info lainnya ... Tanggal Baptis : 11 Oktober 2016, berarti dia mengikrarkan dirinya menjadi seorang Kristen sudah sejak 6 tahun lalu. Astaga ... kenapa info sangat penting mengenai gadis yang pernah dan masih kucintai bisa terlewatkan bahkan tidak terdeteksi olehku?
Ini salah yang gak ngasih info apa yang gak nyari info, sih?
Hm ... Tuhan tahu betapa aku masih menyimpan perasaan yang dalam untuk Lembayung, meski sejak putus kami tidak pernah sekalipun berkomunikasi tapi aku senantiasa 'memeluknya' dengan doa dan harapanku. Tapi kenapa Tuhan kemudian mengizinkan Lembayung beralih kepercayaan, membuat aku dan Lembayung satu iman tapi beda pelaminan?
Hah ... waktu yang seharusnya kugunakan untuk mempersiapkan khotbah untuk pernikahan Benjamin dan Lembayung, malah kujadikan ajang curhat pada yang Kuasa. Ya, langkah pertama adalah aku harus membereskan masalah hatiku dulu.
Bagaimanapun, aku dan Lembayung sempat menjalin kasih selama 2 tahun kemudian putus dan terpisah selama 8 tahun dengan catatan aku masih sangat cinta padanya, itu bukanlah hal yang mudah untuk begitu saja melewatkannya apalagi menghapus nama dan kenangan bersamanya dari relung hatiku yang senantiasa merindunya. Sungguh aku ingin menyerah saja, ah ... andai 'menculik' mempelai wanita tidak dosa dan tidak termasuk tindakan kriminal, pasti sudah kulakukan.
Ini sulitnya kebangetan, gaes. Aku dituntut 'profesional' dengan tugas yang diembankan padaku di hari yang istimewa dan tak terlupakan ini. Tak terlupakan? Iya, semula ... hari ini istimewa karena aku berulang tahun yang ke 32 lalu menjadi tak terlupakan karena di tanggal yang sama aku harus merelakan kekasihku, ah ... tepatnya mantan kekasihku, pergi dari hatiku bersama pria yang kuharap sungguh-sungguh mengasihi Lembayung Senja-ku.