Di setiap pertengahan malam aku selalu terjaga dari tidurku, selalu terbayang-bayang hal yang sama setiap kali aku memikirkannya. Ada sesosok perempuan cantik yang selalu menangis merintih kesakitan di telingaku.
Entah apa yang sebenarnya terjadi padaku, aku hanya bisa tertidur nyenyak jika fajar telah datang. Karang suara tangisan bayi yang memekakkan telinga dan menggangguku.
Terkadang jika malam Jum'at datang, dari luar jendela. Ditimbunnya pepohonan. Aku selalu nampak sosok laki-laki berdiri tegak dibawah pohon besar dan terdengar suara musik gamelan, membuat aku penasaran. Saat aku membuka sedikit lebar gorden jendelaku.
"Aaaaaaa..........!!!!!!!!" teriakku sekencang-kencangnya.
Ada sosok perempuan cantik dari luar jendela menatapku sendu, seperti tengah menangis dengan wajah pucatnya. Saat aku mencoba mendatanginya, sosok itu masih berada diluar jendela kamarku.
Dia berjalan pergi, namun seolah menuntunku untuk mengikutinya. Aku pun dengan rasa penasaran yang amat sangat besar mengikuti langkahnya dengan pelan dari belakang. Saat aku sampai dibawah pohon besar yang dia tunjukan tadi, tiba-tiba ada yang menepuk pundak ku. Sontak aku menoleh ke belakang....
"Aaaaaaa.........!!!" Akupun pingsan melihatnya.
Esok hari pun tiba menunjukkan pukul 9, aku kaget kenapa aku bisa ada dikamar. Bukankah semalam aku berjalan keluar dan pingsan di halaman belakang rumah yang lumayan jauh dari rumahku. Aku masih bertanya-tanya, apa ini hanya mimpiku atau ilusi semu. Tapi rasanya seperti nyata. Saat aku melihat pakaianku, aku melihat sedikit noda lumpur diujung bajuku.
"Sayang, kamu udah bangun. Ayok sarapan dulu, kamu harus minum obat dari dokter ya supaya kamu cepat sembuh."
Aku hanya diam menatap kedua orang tuaku, seolah tidak terjadi apa-apa padaku. Seolah-olah mereka tidak tau apa yang aku alami semalam, sikap mereka seperti biasanya. Dan aku hanya tersenyum tipis.
"Papa ada pekerjaan hari ini, mungkin akan pulang larut malam."
"Mama juga harus pergi, ada acara. Kamu dirumah sendirian gak apa-apa kan sayang."
"iya mah, pa." ucapku tersenyum.
"kamu jangan keluar rumah sembarangan ya, diluar itu berbahaya."
"he'em." agukku
Kondisi badanku memang kurang stabil dan kadang-kadang lemas seluruh ototnya.
Saat kedua orang tuaku pergi, aku langsung bergegas menuju pintu untuk memastikan mereka benar-benar sudah pergi. Karena rasa penasaranku tadi malam masih terlintas jelas dibenakku.
Kuberanikan diri untuk mendatangi bawah pohon besar yang ada dibelakang pekarangan rumahku, saat aku tiba disana. Terlihat jelas batu nisa bertuliskan nama Mawar merah, sedangkan namaku Mawar suci.
Kenapa bisa begini, sebenarnya makam siapa ini. Saat kutelusuri dedaunan. Aku menemukan jejak sepatuku tadi malam, tapi bukan hanya itu. Ada dua pasang jejak kaki yang berbeda, dan ukurnya seperti ukuran kedua orang tuaku.
Aku melotot tajam kesepenjuru arah dan berlari sekencang-kencangnya, tapi tetap saja rasanya aku malah semakin menjauh dari rumahku. aku terbawa masuk dalam hutan yang ditumbuhi pepohonan besar yang membuatku tersesat.
Aku melihat pondok kecil yang sangat usang dan mencoba masuk kesana. Banyak perabotan-perabotan usang yang sudah jarang digunakan berdebu dan banyak sarana laba-laba. Bahkan ada peralatan aneh seperti persembahan atau alat-alat bedah kuno, boneka-boneka yang sudah tak terwujud.
Diatas meja ada sebuah buku dan Album foto keluarga, aku semakin penasaran untuk membukanya.
saat aku membuka buku itu, aku melihat begitu banyak tulisan dan gambar-gambar mantra kuno aneh dan ada nama Mawar merah darah murni.
Fikiranku enah kemana, tangan mulai gemetaran, aku membaca buku itu sampai halaman belakang dan menemukan namaku juga tertulis dibuku itu "Mawar suci darah suci"
Sebenarnya apa maksud semua ini!!! Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Saat aku melihat-lihat album foto lama ini, aku menemukan beberapa foto yang sangat membuatku tercengang bukan kepalang. Ada foto keluarga didalamnya ada fotoku dan foto perempuan cantik yang selintas mirip denganku, seperti sodara kembar. Dan ada dua orang dewasa disebelah kamu tersenyum bahagia, tapi itu bukan mama dan papa.
Siapa mereka, siapa aku. Tiba-tiba banyak suara bisikan yang saling bersahutan seperti membaca mantra ditelingaku. Terlintas berbagai ingatan masa lalu dan ternyata mama dan papa bukanlah kedua orang tuaku. Lalu siapa mereka??
Terdengar suara langkah kaki dari luar, dan bukan hanya satu orang tapi dua orang. Segeralah aku bersembunyi disudut ruangan dibawah tangga yang sempit dengan kututupi badanku menggunakan gorden jendela. Aku dengar suara yang tidak asing, suara mama dan papa. Bukan, mereka bukan orang tuaku. aku menutup mulutku dengan sekuat tenaga untuk menghindari ketakutanku.
"kemana anak itu pergi." teriaknya kesal sosok laki-laki yang selama ini dianggapnya papa itu.
"tenang aja mas, anak itu tidak akan pernah bisa pergi jauh-jauh. Dengan kondisinya yang seperti sekarang, apa lagi dia sudah meminum obat-obatan yang kita kasih selama ini. Itu akan mempengaruhi pergerakannya, sebentar lagi kita juga akan menemukannya." ucap istrinya
"sialan gadis kecil itu, sebentar lagi akan bulan purnama. Kita sudah menunggu 15 tahun untuk hari ini." tegasnya
"Tenang mas, dia pasti masih disekitar sini." senyuman sinis terlihat dikedua raut muka pasangan suami-istri itu membuat Mawar suci semakin gelisah tak menentu.
Kedua pasangan itu pun beristirahat sejenak duduk didalam gubuk Reyot itu, Mawar melihat bayangan saudara kembar memanggilnya keluar dan menunjukkan lokasi tempat minyak tanah dan beberapa peralatan korek api yang mereka gunakan untuk pemujaan. Saudaraku menunjuk minyak tanah dan membuat petuntuk melingkar, menyuruh Mawar menyiramkan minyak itu perlahan mengelilingi rumah itu. Setelah itu dia menunjuk korek api dan memerintahkan Mawar untuk menyalakannya.
Saat Mawar menyalakan api dan membakar pondok itu, kedua orang tuanya yang ada di dalam berteriak histeris dan berlari keluar.
Dengan api yang masih berkobar dibadan mereka, mereka mencari arah dimana orang yang berani membakar gubuk reyot mereka. Saat melihat Mawar mereka pun berteriak...
"Dasar anak kurang ajar....."
"Berhenti kau anak sialan.."
Mawarpun berlari menjauh dari mereka hingga menuju jalan raya, dia masih berlalu tanpa tau arah mana yang harus dia tuju. sedangkan sepasang suami istri itu terbakar mati didalam hutan. Api pun merembet kemana-mana, hingga membakar setengah hutan akibat dedaunan yang kering dan mudah terbakar.
Terimakasih sudah mampir membaca karya tulis saya 🙏🏻🤗😊😚
jangan lupa untuk tinggalkan komentar jejak anda.
Like, coment, share ya🤗🤗🤗
thanks you 😇😇😚😚