Di suatu hari ketika sedang merasakan indahnya pagi, aku merasa ada yang janggal dengan hari ini. Kenapa suasana di rumah yang biasanya ramai, tiba-tiba jadi hening dan sepi.
"Kok tumben?" gumamku.
Aku coba keluar kamar dan menuruni tangga. Ku lihat ruang tv dan dapur. Semuanya sepi, seperti tidak ada kehidupan.
"Aku benar-benar ada di dunia kan? Aku masih hidup kan? Ini bukan di dunia lain seperti di film-film atau dimensi lain?" lanjutku mengoceh sendiri.
Ku berlari memeriksa tiap ruangan, tidak ada orang. Ku cek kulkas, penuh. Di kamar mandi juga tidak ada siapa-siapa. Sebenarnya kemana perginya orang rumah?
"Jam segini ayah pasti sudah pergi ke kantor, ibu ke pasar, adek? Ya masa iya dia bisa pergi jalan sendiri. Dia aja baru bisa jalan beberapa hari ini. Kakak? Bentar, ada yang tidak beres nih" ucap ku sambil berpikir.
Aku mengingat kalau kakak ku yang satu ini suka iseng dan sering kali menjahiliku. Aku coba cek ke kamarnya lagi yang berada di sebelah kamarku secara diam-diam, dan...
"Dor! Hayo, mau coba ngejailin... Lagi ya..." suaraku perlahan mengecil karena benar-benar tidak ada kakak ku di kamarnya.
"Oh iya, pasti di halaman belakang rumah. Biasanya dia suka ngagetin aku di sana" ucapku sambil bergegas ke halaman belakang rumah. Ketika sampai, hasilnya pun nihil.
Kemana semua orang? Aku mulai panik. Karena baru kali ini aku merasakan sendirian seperti ini. Tiba-tiba terdengar suara pintu depan terbuka. Aku segera bergegas menghampiri pintu. Ku lihat ibuku dengan adikku di gendongannya. Sepertinya beliau habis pulang dari pasar.
"Bu! Aku lapar!" panggil ku. Ibuku tidak menyahuti ku.
Aku coba mengikuti ibuku yang mendudukkan adikku di kursi bayi. Ku panggil lagi sambil menarik-narik baju ibuku.
Terlihat ibuku menghiraukan ku. Aku benar-benar tidak tahan dengan sikap ibuku ini. Ku coba bujuk adekku untuk bermain. Dan benar saja yang dikatakan ibuku.
"Adek maen sama siapa sih? Girang banget. Padahal nggak ada siapa-siapa di situ kan, dek."
Terkejut bukan main ketika ibuku mengatakan itu. Ku coba mencubit pipi, dan lenganku. Semuanya sakit. Ku coba menjambak rambutku, sakit juga. Ini bukan mimpi. Ini nyata. Aku hidup. Kenapa ibu menghiraukan ku?
Air mata ku mulai turun. Aku berlari ke kamar. Ku tutup pintu kamarku dengan keras. Benar-benar tidak ada respon dari ibuku. Biasanya ibuku akan memarahi ku ketika aku menutup pintu dengan cara seperti itu.
Aku menangis, tapi aku juga lapar. Aku mau makan. Ku ingat ada cemilan yang ku simpan untuk ku sendiri. Ku ambil dan ku makan cemilan itu sambil menangis. Setelah habis aku hanya bisa menatap langit di luar kamar hingga tertidur.
Aku kembali terbangun dengan posisi sebelumnya ketika aku tertidur. Aku segera menutup jendela kamar karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
"Selama itu kah aku tertidur?" ucapku sambil mengelus perut karena lapar. Rupanya cemilan ku tadi tidak mempan di perutku.
Aku segera ke luar kamar karena benar-benar tidak tahan dengan rasa lapar yang menyerangku. Tidak peduli mau aku dimarahi karena ibu saja menghiraukan ku, apa lagi yang lain.
Ketika membuka pintu kamar dengan segenap rasa kesal bercampur lemas di tanganku, tiba-tiba mati lampu. Dan tidak lama kemudian terlihat setitik cahaya merah api datang menghampiriku.
"Happy birthday to you... Happy birthday to you..." terdengar suara kakak ku dalam kegelapan yang remang-remang. Tiba-tiba lampu kembali menyala, dan...
"Selamat ulang tahun, Dyah!"
Sontak aku kaget karena semua keluarga ku berkumpul. Kulihat mereka mengenakan baju kaos yang seragam. Tidak disangka kejutan itu membuat air mataku bebas keluar tanpa komando dariku. Aku yang baru tersadar langsung kembali ke kamar mengecek kalender. Hari ini aku berulang tahun.
"Kalian kenapa jahat banget sih? Tapi aku senang, terimakasih ayah, ibu, dan lu kak!" ucapku sambil menangis dan memukul-mukuli kakak ku.
Hari ini benar-benar hari yang tidak akan pernah ku lupakan seumur hidupku. Dalam hati terus menerus kupanjatkan rasa syukur karena memiliki keluarga seperti keluargaku saat ini.
**********
"Dah kak matiin lilinnya. Yuk turun, kita makan sama-sama kuenya" Ucap ibu kepada sang kakak, Bintang.
"Iya bu. Tapi apa boleh kita tiap tahun melakukan ini? Aku merasa bersalah karena membuat Dyah kecewa sampe di akhir hayatnya, dia belum pernah merasakan surprise ulang tahun kayak gini" Tanya Bintang, kakak laki-laki Dyah sambil meniup lilin di depan pintu kamar sang adik yang meninggal bulan kemarin karena kecelakaan.
"Iya, boleh" Jawab ibu tiga anak sambil menyeka air matanya dan memeluk anak ketiga nya di gendongan.
Keluarga itu pun kemudian menuju ruang tengah untuk memakan kue ulang tahun Dyah. Sambil makan, beberapa dari mereka menitikkan air mata membayangkan bagaimana ekspresi Dyah jika tau kalau keluarga mengabulkan permohonannya, yaitu di beri kejutan ulang tahun yang diimpikan oleh Dyah semasa hidupnya.