Jika kalian berharap bisa berduaan dg artis idola menjadi moment yg romantis maka hal itu tidak berlaku buatku. Aku justru terdampar dipulau kecil bersama artis cantik bernama Ralin saat kecelakaan pesawat. Ralin memang cantik. Tapi dia begitu merepotkanku.
Masih teringat difikiranku begitu dahsatnya guncangan dipesawat kala itu. Pesawat kami jatuh di atas laut. Dan ombak telah membawa kami ke sebuah pulau kecil. Aku terbangun saat sinar matahari menerangi wajahku. Kurasakan sakit disemua bagian tubuhku. Samar-samar ku dengar rintihan seorang wanita. Kucari kesana kemari. Dan aku melihat tubuh yg terbaring lemah di pasir. Aku mencoba mendekat, dan terlihatlah pemilik suara itu. "Bukankah itu Ralin? Artis cantik yg tadi satu pesawat dgku?" Gumamku. "Apa kau baik-baik saja?" Tanyaku pada Ralin "Apa kamu tidak bisa lihat kakiku terluka?" Jawab Ralin dg nada kesal "tolong.. tolong.. siapapun yg ada disini. Tolong selamatkan aku." Teriak Ralin dg suara yg masih terlihat lemah. Akupun pergi meninggalkannya "Hai.. cowok aneh.. mau kemana kamu?" Tanyanya "Mau cari minum dan obat buat kakimu." Jawabku tanpa menoleh. "Hello.. kamu sadar gak sih kita dimana? Disini mana ada mall dan apotek. Dasar cowok aneh" Caci Ralin yg tak ku hiraukan sedikitpun.
Setelah berjalan beberapa langkah aku melihat pohon kelapa. Aku berjalan mendekat dan kemudian memetiknya. Setelah mendapatkannya aku berjalan lagi untuk mecari tanaman obat dan segera kembali.
"Mana kakimu. Biar aku obati" pintaku pada Ralin. Ku teteskan getah pohon yodium pada lukanya. "Au sakit.. obat apa ini? Awas aja kalau tambah parah. Perawatan kulitku itu mahal. Kamu gak akan mampu membayarnya" aku tak menghiraukannya justru aku menempeli luka memarnya dg daun binahong. Kemudian aku membuka kelapa dan meminum airnya. "Hei.. kenapa kau tak mau berbagi kelapa itu. Dasar pelit" teriaknya. Aku kemudian menyodorkan kelapa yg sudah kupecah untuknya.
Hari sudah beranjak sore. Namun tak terlihat tanda-tanda kapal atau pesawat yg datang menolong kami. Perutku rasanya sangat lapar. Akupun pergi untuk mencari tanaman yg bisa dimakan. Kemudian aku menemukan talas. Aku mencabut pohonnya dari tanah. Dan ternyata umbinya sangat besar dan banyak. Ku kumpulkan ranting untuk membuat api agar bisa membakar umbi talas itu. Setelah terkumpul aku menata sedemikian rupa dan menyalakannya dg bantuan batu yg ku gesek-gesek kan.
Aku memakan umbi talas yg telah matang dg lahapnya. "Kamu mau gak?" Tawarku pada Ralin "Gak ah.. Makanan apa itu? Bisa-bisa ntar keracunan" jawabnya sinis. Aku terus memakan umbi talas bakar itu, tak lama terdengar bunyi kruuuk. Sepertinya itu suara perut Ralin "Hai.. aku minta sedikit makananmu dong?" Pintanya dg nada rengekan "Ini.. kupas sendiri" kataku sambil menyodorkan umbi talas bakar. "Umbi talas ini juga sumber karbohidrat. Bisa bantu kamu jalanin diet" tambahku.
Setelah perut kita terisi, kitapun berjalan untuk mencari tempat berteduh. Adalah sebuah goa yg kita jadikan tempat tinggal sementara. Pada awalnya Ralin keberatan jika ku ajak tinggal di goa itu. Dg alasan mau menunggu bantuan datang di tepi pantai. Namun karena hari semakin gelap dan hembusan angin semakin kuat, ia akhirnya menyusulku kedalam goa.
Hari demi hari kami lalui bersama. Bermodalkan dg kecintaanku pada alam ini, membuat kami sanggup bertahan. Pada awalnya Ralin selalu mengeluh. Hidup di pulau seperti ini memang berbanding terbalik dg gaya hidup keartisannya. Namun lama kelamaan dia terlihat menikmati hidup ini. Kami berbagi tugas dalam mencari bahan makanan. Aku mencari umbi-umbian, sayuran serta buah-buahan di hutan. Sedangkan Ralin mencari ikan di laut. Hingga pada suatu hari aku kembali dg beberapa luka ditubuhku karena cakaran hewan buas. "Apa yg terjadi dgmu? Kenapa tubuhmu penuh luka?" Tanyanya panik. Karena lukanya cukup parah akupun diam dan memejamkan mata untuk meredam rasa sakit. Rupanya sikapku itu membuatnya semakin panik "Hai.. Bangun.. Jangan mati.. Aku gak mau sendirian disini.. Aku takut.." hihihi terdengar tangisnya "Bangun.. Ayo bangun.. Kenapa kamu harus mati saat aku sudah mulai mencintaimu?" Imbuhnya dalam tangisan. Perkataan itu membuatku membuka mata. "Terima kasih Tuhan engkau telah menolongnya. Aku janji aku tak akan menyia-nyiakannya lagi. Aku akan terus mencintainya" Ucap Ralin dg tangan yg ditadahkan kelangit tanda ia berdoa. Akupun hanya bisa tersenyum mendengarnya. Ternyata musibah ini telah membawaku pada jodohku. Awalnya kita memang bukan siapa-siapa. Bahkan dihati kita tiada perasaan lebih. Namun karena selalu bersama dalam menjalani hidup ini, lama kelamaan rasa itu muncul dg sendirinya. Ibarat pepatah Jawa "Witeng tresno jalaran soko kulino"