Entah sudah berapa puluh SMS yang diterima Vini dalam seminggu ini. Rasanya sudah tidak terhitung jumlahnya.
SMS itu rutin dikirimkan oleh Rudy setiap hari. Isinya masih selalu sama. Tentang perasaan khusus Rudy kepada Vini.
Rudy sudah lama memendam rasa pada Vini. Tetapi Vini sepertinya masih merasa biasa saja.
Bagi Vini, Rudy hanyalah teman biasa. Bahkan Vini kini sudah mulai merasa tidak nyaman dengan SMS yang selalu dia terima itu. SMS yang tak terhitung jumlahnya itu seolah menjadi terror bagi Vini.
"Apaan sih ini anak!? Norak banget!" Sungut Vini.
Wajah Vini yang cantik terlihat kesal. Lagi-lagi dia membersihkan memory ponselnya dari semua SMS Rudy.
"Ada apa, Vin?" Clara, teman sebangku Vini bertanya.
"Ini nih... Rudy... SMS dia bener-bener ngerusak mood aku!" Ujar Vini kesal.
"Ohhhh... Dia masih juga ngirim seabreg SMS tiap hari?" Tanya Clara.
"Iya..." Jawab Vini.
"Ummmm... Kamu sih... Betewe, kamu udah bales SMS nya? Istilahnya ngasih pengertian gitu..." Kata Clara.
"Udah, Clara! Udah beribu kali loh ya!" Tukas Vini.
"Ummmm... Trus kenapa dia masih ngeyel juga?" Tanya Clara.
"Nah itu dia! Aku udah jelas nolak semua perasaan dia. Aku juga udah bolak-balik SMS. Huhhhh..." Sungut Vini kesal.
"Aku rasa... Sebaiknya kamu telpon dia deh. Kali aja otaknya ga nyampe kalau cuma baca SMS doang." Saran Clara.
Vini terlihat berfikir sejenak. Dia sepertinya sedang mempertimbangkan saran dari Clara.
"Kayaknya ga usah telpon. Tapi aku ngomong langsung aja deh! Bawel amat itu cowok!" Geram Vini.
"Yahhh... Mungkin begitu lebih baik." Clara manggut-manggut.
"Mau aku temenin?" Tanya Clara.
"Hemmm... Kayaknya ga, Clara. Lebih baik aku sendiri aja." Sahut Vini.
"OK..." Clara mengangguk dan tersenyum manis.
"Ya udah... Ayo kita ke canteen... Biar mood kamu bisa swing lagi..." Kelakar Clara.
"Hahaha... Kamu bisa aja! Emangnya aku remote AC, bisa swing mode." Ujar Vini.
"Ya gitu deh... Hehehe..." Clara terkekeh-kekeh melihat wajah Vini yang masih terlihat sebal.
***TAMAT***