Tiga bulan berlalu, Risa belum juga menemukan siapa dalang dibalik kematian sahabatnya tercintanya yaitu Laskar. Kemarin dia sempat putus asa dan menyerah memantapkan hati bahwa kejadian kematian Laskar tidak ada hubungannya dengan siapapun. Sedikit petunjuk pun belum bisa ditemukannya. Tapi dalam benaknya terselip sedikit keraguan. Karena kematian Laskar yang mengejutkan dan sedikit aneh. Bagaimana tidak, awalnya pertemuan antara Laskar dan Risa selepas pulang sekolah waktu itu. Dia masih dalam keadaan baik-baik saja. Dokter forensik mengidentifikasi bahwa ini hanyalah kecelakaan biasa dan mengaitkannya dengan penyakit yang dideritanya. Tapi hati Risa tak rela mendengar pernyataan itu dan berniat menyelidikinya perlahan. Saat di titik keputusasaannya memuncak dan berniat mengikhlaskan apa yang terjadi. Kejadian aneh muncul. Tanpa diduga, dia menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh belakangan ini yang terjadi kepada kekasihnya, Ren. Ibu dari kekasihnya bercerita kepada Risa bahwa Ren sering bermimpi buruk dan berteriak mengenai penyesalan tentang apa yang telah dia perbuat. Kemudian Risa curiga namun juga mengkhawatirkan kondisi Ren. Risa bertanya kepadanya dengan penuh kehati-hatian.
"Ren, apa yang terjadi padamu?" Tanya Risa saat makan siang bersama di kantin sekolah.
"Maksudmu?" Jawab Ren merasa aneh.
"Ibumu bilang.. kamu sering mimpi buruk ya akhir-akhir ini?" Tanya Risa dengan gugup.
"Enggak!! Aku gak mimpi buruk. Kamu tau darimana?? Jangan asal ngomong deh " sanggah Ren dengan ketus.
"Ren, kan aku cuma nanya kok begitu banget sih jawabnya" Risa kesal.
"Maaf Ris.. aku gak bermaksud" bujuk Ren.
"Udahlah, malas aku denganmu. Aku ke kelas duluan" Risa pergi meninggalkan makanannya yang belum habis.
"Yah, si Risa pake ngambek segala lagi" keluh Ren.
Pulang sekolah tiba, Ren menunggu Risa seperti biasa di depan kelas.
"Ris, ayo bareng!" Ajak Ren mengulurkan tangan.
"Kali ini aku mau pulang sendiri aja" tolak Risa.
"Hufft.. masih marah lagi dia" pasrah Ren.
"Risa tunggu dulu, aku bisa jelasin kok" berteriak mengejar Risa.
Langkah Risa terhentikan oleh Ren yang menghadang tepat di depannya.
"Apaan sih? Udah, aku paham kok. Kamu gak jujur ke aku ada masalah. Berarti kamu nganggap aku apa di hidup kamu?? Aku udah gak penting lagi kan sekarang?" Tanya Risa dengan wajah cemberut.
"Bukan begitu.. masalahnya ini lebih berat dari yang kamu bayangin" Ren menunduk gelisah.
"Berat gimana?" Tanya Risa lagi.
"Oke aku bakal cerita, kita ke taman dekat sekolah aja sekarang biar lebih nyaman jelasinnya" ajak Ren.
"Iya oke" jawab Risa.
Di taman dekat sekolah Risa menunggu jawaban penjelasan Ren. Sementara Ren duduk termenung dan menatap kosong arah jalan raya di depan taman itu berada.
"Hufft.. gini Risa. Kamu tau Laskar kan, anak pindahan baru itu?" Sedikit gugup menjelaskan.
"Laskar?? Jelas aku tau, dia sahabatku Ren" jelas Risa.
"Sahabat?? Kok aku gak pernah tau ya?" Ren bingung.
"Ya, karena aku belum pernah ceritain dia ke kamu" jelas Risa.
"Kamu tau kan dia udah meninggal sekarang" tambah Risa.
"Iya aku tau, dan sebenarnya.. mimpiku ada hubungannya dengan Laskar" Ren mengaku.
"Kamu.. apa kamu ada hubungannya dengan kematian Laskar?" Risa terbelalak seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"Iya" jujur Ren.
"Kamu yang membunuh dia?" Tanya Risa.
"Yah bukanlah. Kamu kira aku psikopat?" Bantah Ren.
"Huh, syukurlah.. Lalu apa hubungannya denganmu?" Risa penasaran.
"Begini, aku adalah saksi saat pembunuhan Laskar terjadi" jujur Ren.
"Kamu serius?? Jadi.. jadi sahabatku beneran mati karena dibunuh? Bukan karena kecelakaan biasa?" Tanya Risa penasaran.
"Iya" jawab Ren, pikirannya masih terbayang kejadian tragis yang dilihatnya saat itu.
"Hiks.. hiks.." Tanpa sadar Risa mengeluarkan air mata karena tak tega mengetahui bahwa sahabat baiknya mati dibunuh oleh seseorang.
"Kenapa kamu baru cerita?" Lanjut Risa.
"Aku gak tau harus percayain ini ke siapa. Karena aku juga takut dengan cerita akan ada sesuatu yang buruk terjadi" jawab Ren.
"Tapi dengan kamu diam aja kayak gini, pihak korban yaitu sahabat aku. Jadi gak merasa adil di alam sana. Karena pelakunya belum mendapat ganjaran" kesal Risa.
"Oke, ayo kita ke kantor polisi. Aku akan memberikan semua informasi selengkap-lengkapnya buat menghukum pelakunya" ajak Ren.
Mereka berdua segera ke kantor polisi. Kemudian polisi menindaklanjuti laporan yang diberikan Ren dan akan memproses penyelidikan lebih lanjut mengenai kematian Laskar.
Di depan kantor polisi, Ren merasa perasaannya sudah jauh lebih baik dan tenang.
"Ren.. makasih ya, kamu udah bantu aku tangkap siapa pelakunya. Laskar pasti tenang disana, karena kebenarannya sudah terungkap" ucap Risa dengan lega.
"Ya, aku pun merasa sudah tidak ada beban lagi dalam hatiku Ris. Aku juga berterima kasih karena kamu selalu berada di sampingku dalam keadaan apapun" jawab Ren.
"Sudah seharusnya begitu Ren. Karena kita saling mencintai" senyum lembut merekah di wajah Risa.
"Iya" balas Ren tersenyum.