Sudah lama, aku pandangi dirimu yang selalu duduk menyendiri di bawah pohon beringin. Ingin rasanya aku menyapamu, mengucapkan sepatah dua kata, lalu mengajakmu berjalan bersama. Tapi, hati ini terlalu malu untuk mewujudkannya. Aku adalah pengecut yang cuma bisa memandangmu dari kejauhan.
Sore menjelang pulang sekolah, aku melihatmu untuk kesekian kalinya. Duduk di bawah pohon beringin sambil membaca buku novel favoritmu, Harry Potter. Gara gara dirimu pula, aku membaca buku itu walaupun aku tak tahu apa isinya.
Setengah menit berlalu, kau masih tetap fokus membaca. Sementara aku, juga fokus sepertimu. Tapi, fokusku tertuju kepada mata cokelatmu yang menawan.
" Heh, disini lo ternyata ! " Sebuah teriakan tiba tiba saja mengacaukan konsentrasiku. Aku mulai mencari cari sumber suara tersebut, tapi ternyata yang kulihat adalah dirimu yang sudah terjatuh di tanah. Di dekatmu, berdiri segerombolan siswi yang siap untuk menghabisimu dengan gigi tajam mereka.
" Dasar sialan ! " Ku lihat salah seorang siswi mulai menamparmu, yang kemudian merintih kesakitan. Aku terpaku di tempat, menggigil melihatmu seperti itu.
Lalu, segerombolan siswi itu menatap ke arahku. Tajam dan pastinya tampak tak bersahabat. Mereka kemudian mendekatiku, dan siswi yang menamparmu maju untuk bertanya kepadaku, " Ngapain lo disini ? Mau mati ? "
Aku menelan ludah. Mentalku runtuh, dan pikiranku cuma ingin lari dari sana. Namun tiba tiba dari arah depan, siswi itu menamparku dengan keras.
Plak !
" Bisa ngomong, nggak ? " Aku sempat terhuyung huyung, memegangi pipiku. Suara tawa gerombolan siswi itu terdengar jelas di telingaku yang panas mendengarnya. Seketika mentalku yang sempat jatuh, mendadak naik setelah mendengar segala caci maki ini. Tanganku pun terkepal, dan tanpa pikir panjang aku layangkan tinju itu ke wajah siswi tersebut.
Bruk !
Aku lihat tangan kananku penuh dengan darah, dan kemudian baru aku sadari bahwa aku telah memukul hidung sang pimpinan gerombolan. Siswi itu langsung pingsan, dan gerombolan tersebut mulai ketakutan melihatku. Dengan amarah yang masih tersisa padaku, aku pun berteriak kepada mereka, " Jangan sekali kali kalian mengganggu aku dan dia ! " Aku turut menunjuk dirimu yang terpana melihatku.
Gerombolan itu segera berlari, mencampakkan pimpinan mereka ke tanah. Aku pun berjalan melewatinya, lalu mendekatimu. " Kamu nggak apa apa kan, Tina ? " tanyaku sambil membelai rambutmu yang kusut.
" Aku nggak apa-apa, kok. Kamu juga baik baik saja kan, Tama ? " Aku tersenyum seraya memandangi wajahmu yang tetap cantik. " Mulai sekarang, aku yang akan jadi pelindung bagi kamu. "
~~~