Awalnya, Putri Salju gembira saat mendengar ayahnya Raja Bernard akan menikah lagi. Akan ada 'ibu baru' yang menyayanginya, mengajarinya bernyanyi dan menjahit atau sekedar teman berbagi cerita di sore hari sambil minum teh, itu impian Putri Salju.
Namun ternyata, wanita yang dinikahi ayahnya bukanlah seperti yang diharapkan Putri Salju. Wanita cantik itu akan bersikap manis dan baik hanya saat ada raja Bernard saja. Jika tidak ada ayah, sikapnya berubah menjadi dingin dan ketus.
Suatu hari ayah Putri Salju pergi ke kerajaan tetangga selama 1 minggu, selama itu pula Putri Salju di kurung di sebuah kamar, tidak boleh berinteraksi dengan orang lain dan hanya diberikan makan 1 kali sehari.
Beruntung saat disekap, Putri Salju dihampiri oleh Mice si tikus, sahabat kecilnya yang suka bercerita.
"Putri Salju, aku curiga ibu ratu yang jahat itu adalah seorang penyihir," kata Mice.
"Kenapa kamu menuduhnya seperti itu?"
"Karena ibu ratu jahat itu punya benda kesayangan, yaitu sebuah cermin ajaib yang indah dan bisa berbicara padanya."
"Masa?"
"Benar, bahkan tiap pagi aku mengawasi ratu yang jahat itu, dia berdiri di depan Cermin Ajaib dan bertanya. 'Cermin ajaib, siapakah wanita tercantik di negeri ini?' dan cermin ajaib menjawab. 'Ratuku adalah wanita paling cantik di negeri ini.' Nah, beberapa waktu lalu cermin ajaib itu sempat menjawab bahwa kamulah yang paling cantik, Putri Salju, makanya ratu jahat jadi marah dan mengurungmu di sini."
Tidak lama, kamar tempat Putri Salju disekap terbuka, beberapa orang pengawal membawa Putri Salju ke hutan. Putri Salju menangis ketakutan, tangisannya mengundang perhatian 7 kurcaci yang tinggal di hutan itu.
"Siapa kamu, gadis cantik?" Tanya salah seorang kurcaci.
"Putri Salju."
"Oh, kenapa kamu ada di sini?"
Putri Salju lalu menceritakan kisahnya hingga berada di situ.
"Tidak bisa dibiarkan, kamu harus melakukan sesuatu. Kalau kamu tidak menyingkirkannya, dia yang akan menyingkirkanmu."
"Apa yang harus kulakukan?" Tanya Putri Salju.
Pssst, psst, pssst, bisik kurcaci itu pada Putri Salju, Putri Salju pun setuju. Dibantu para kurcaci, Putri Salju mengumpulkan bahan yang akan digunakan untuk menyingkirkan ratu jahat.
Setelah semua sudah siap, Putri Salju diantar para kurcaci kembali ke kerajaan.
"Hah, anak nakal kenapa kamu bisa kembali ke sini?" Hardik ratu jahat.
"Aku merindukanmu ibu," Putri Salju memeluk ratu jahat.
"Cih, singkirkan tanganmu dariku, aku tidak sudi tersentuh tangan kotormu itu."
"Ibu, di depan ada ayah beserta iring-iringannya, ibu mau kulaporkan kalau ..."
"Ah, anak manis," potong ratu jahat seraya mencubit gemas pipi Putri Salju.
"Bu, lihatlah aku memetik apel di hutan."
"Wah, sepertinya enak sekali, Putri Salju. Boleh ibu memakannya?"
"Tentu ibu, apel ranum ini memang enak dan khusus kubawakan untukmu."
Kres, kres, nyam ... nyam. "Apel ini lezat dan manis sekali," Ibu ratu jahat memakan habis sebutir apel merah dari Putri Salju
Tidak lama kemudian, ibu ratu memgang lehernya dan jatuh tergeletak.
"Ibu ... ibu, apa yang terjadi padamu?" Putri Salju mengguncang-guncang tubuh ibu ratu jahat, pura-pura khawatir.
"Apa yang terjadi, nak?" Ayah Putri Salju datang menghampiri anak dan istrinya.
"Tidak tahu ayah, tiba-tiba saja ibu pingsan."
Segera saja tabib istana didatangkan untuk memeriksa keadaan ibu ratu jahat.
"Maaf baginda raja, dengan sangat menyesal saya katakan kalau ... yang mulia ratu sudah meninggal beberapa saat yang lalu."
"Apa?" Putri Salju dan ayahnya sama-sama terpekik kaget.
"Bagaimana bisa tuan tabib?" Tanya ayah Putri Salju.
"Kematian mendadak, tampaknya yang mulia ratu terkena serangan jantung."
Dan ... untuk kedua kalinya raja Bernard kehilangan ratunya.
"Maaf ibu ratu jahat, hatimu buruk sekali, kamu sudah memperlakukanku dengan tidak baik dan kamu pantas menerima ini atas balasan kejahatanmu," batin Putri Salju dalam hati.