"umm, plafon yang indah... PLAFON YANG INDAH!!?" Ucapku kaget sambil membuka mata lebar-lebar.
"Se, Selamat pagi Yang mulia Permaisuri" ucap seorang dari kelima orang berpakaian pelayan.
"P-P-Pe-Permaisuri?!!" Ucapku gelagapan melihat mereka semua.
"Si-siapa namaku?" Tanyaku sambil melihat mereka berlima.
"Eh?... Andakan Yang mulia Permaisuri Farianne Denara Beliusy, Permaisuri dari kekaisaran Beliusy" ucap seorang pelayan sambil merasa kebingungan dengan reaksiku.
"Farianne? Anne? Aku permaisuri Anne? Bukan Putri Anne dari kerajaan terpencil?" Ucapku masih dengan rasa bingung.
"Eh... Itukan gelar lima bulan anda yang lalu, sekarang anda sudah menjadi permaisuri dan kerajaan tempat permaisuri dibesarkan juga sudah berkembang" ucap seorang pelayan.
"Oh begitu... Apakah Kaisar kerajaan ini adalah Kaisar Frederick Leodor Beliusy?" Tanyaku sekali lagi, lalu semua pelayan menganggukkan kepalanya.
"Oke, oke. Dan Kau adalah Pelayan kesayanganku Rena, bukan?" Ucapku menunjuk pelayan yang selalu menjawab pertanyaanku.
"Iya, Yang mulia" ucapnya dengan rasa senang karena disebut pelayan kesayangan.
Setelah percakapan singkat itu, Aku merubah diriku untuk bersikap seperti layaknya permaisuri yang kuketahui.
Lalu setelah membersihkan diri dan memakai gaun yang cantik, Aku menyadarkan bahwa perkataan yang diucapkan pelayan Rena itu memang benar. Secara fisik Aku adalah Farianne Denara Beliusy.
Padahal semalam Aku baru menyelesaikan membaca novel yang kumasuki ini sampai tamat, sekarang Aku malah memasuki novelnya di latar waktu saat novel sudah tamat.
Apakah tidak ada misiku untuk bertahan hidup seperti tokoh di novel lain? Jadi, Apakah Aku hanya akan bersenang-senang menjadi permaisuri hingga maut memisahkan bersama Male lead yaitu Derik...? Kalau begitu akan kujalani ini dengan penuh semangat.
Lalu setelah Aku meyakini diriku, Aku berjalan menuju Ruang makan bersama dua pelayan menemaniku. Aku sungguh gugup, apakah Kaisar akan setampan ilustrasi pada novel?
Dengan pelayan membukakan pintu ruang makan lalu rasa berdebarku yang makin membara dan terbukalah pintu dengan cahaya yang menyinari mataku, kemudian Aku melihatnya. Dia adalah pemeran utama di dalam novel yang kumasuki.
-Frederick Leodor Beliusy-
"Dia sangat tampan" ucapku dengan mata berbinar.
"Umm? Sayang Kamu ngomong apa?" Ucap Derik dengan ekspresi bingung.
"Oh? Ah... gapapa" ucapku.
Lalu Derik mengabaikan rasa bingungnya dan menarik kursi untuk aku duduki. Ini sungguh sempurna! Makanan lezat dengan wajah sangat sempurna yang bebas kupandang, rasanya seperti surga.
Oh sungguh apakah Aku akan merasakan ini setiap hari? Apakah Aku akan tidur bersama wajah yang sempurna ini? Apakah setiap hari akan ada yang melayaniku? Apakah semua orang akan tunduk padaku karena Aku sang Permaisuri? Aku menantikan itu terjadi.
Tapi sebelum Aku menantikan itu, ada masalah yang lebih penting saat ini. Padahal Aku sudah berusaha untuk memiripkan sifatku dengan Anne asli agar Derik tidak curiga, namun ia malah melontarkan pertanyaan yang membuatku gelisah.
"Sayang, kok kamu ga kayak biasanya?"
Aku menelan ludahku dan menjawab pertanyaan itu dengan apa adanya yang ada di dalam otakku.
"I...itu A,Aku seperti biasanya kok"
"eh oh iya omong-omong kamu tampan sekali hari ini, sayang" lanjut ucapanku sambil mengalihkan topik.
Derik pun tersipu setelah sebutan sayang itu. Seperti yang kuketahui dalam novel ini, Anne adalah tipe orang yang tegas dan jarang mengucapkan ucapan manis karena membuat hatinya berdebar. Tapi karena ini Aku si Anne palsu, itu sebabnya Aku tak berdebar dengan kata-kata manis yang kuucapkan.
Omong-omong ternyata lucu juga membuat lelaki yang tampan ini tersipu malu, Ehehehe. Tapi karena ulahku itu, setelah sarapan Aku tak dapat bersantai bersama Derik karena Dia langsung kabur dengan alasan pekerjaan.
Namun Aku menyesali pemikiranku itu, Bersantai berdua, hahaha, Itu hanya mimpi! Nyatanya bersantai sendirian juga tidak bisa, karena Aku harus mengurus pekerjaan sebagai permaisuri, Ini sungguh menyulitkan.
Lalu tambah menyulitkannya lagi, Aku tersadarkan satu hal yang membuatku gelisah.
Bagaimana ini? Dalam novel-novel bertema kerajaan yang pernah kubaca, tak pernah ada yang menjelaskan bagaimana tugas menjadi permaisuri.
Lagi, Aku tidak tau cara memakai pena yang terbuat dari sayap burung ini, sungguh sangat sangat menyulitkan!
"Kenapa Anda tidak mulai menulis, Permaisuri?" Ucap kepala pelayan yang menunggu jawaban dari hasil laporan pengeluaran uang untuk biaya kekaisaran.
"Oh, ah... umm ini..."
"Bagaimana cara Aku menjawabnya, Akukan tidak tau selah selih biaya kekaisaran, ahh dan lagi aku tak tau caranya menulis! Lalu bahasa apa ini???" Batinku berkata yang seakan ingin mengucapkan kata-kata tersebut.
"Ada apa permaisuri?" Ucap Kepala pelayan bingung dengan reaksiku.
"Ohh ya, begini saja. Mulai sekarang seluruh pengeluaran biaya istana tidak usah melalui saya, langsung saja diurus olehmu" ucapku dengan bangga karena menjawab dengan jawaban yang tepat.
"Oh, bai- APA?!!" Ucap kepala pelayan yang kemudian terkejut.
"Kaget Aku!... Eh, umm... Ya benar, oh ya apakah sopan berteriak di hadapan permaisuri?" Ucapku bersikap tenang.
"Ehh, maaf Permaisuri, ka-kalau begitu saya permisi dulu" ucapnya yang kemudian pergi dengan membawa lembaran hasil keuangan tersebut.
"Huuhh, untungnya sudah selesai" ucapku dengan ekspresi lega.
"Ma-maaf permaisuri, tugas anda masih banyak lagi" ucap pelayan Rena dari belakang kursiku.
"Kaget Aku!... Sejak kapan kamu disitu Rena?" Ucapku terkejut untuk ke dua kalinya.
"Sejak tadi, Yang mulia. Umm, ini tugas anda masih banyak. di antaranya mengurus daerah bagian timur kepemilikan Yang mulia, pesta teh di rumah grand duchess, mengurus rumah kaca di bagian barat istana kaisar, menjawab undangan para bangsawan untuk mendatangi pestanya, men-" ucap Rena sambil melihat daftar pekerjaan Anne.
"AAAAAAAAA-!! Stop! Stop! Ya akan kukerjakan!" Ucapku memotong perkataan Anne yang sangat panjang itu.
-Malam yang tiba
"Daerah timur sudah diserahkan kepada Baron Stev, minum teh alias bergosip di rumah Grand duchess sudah, Rumah kaca sudah kuurus, undangan sudah ditolak semua, sekarang apalagi tugasku Rena?"
"Umm, itu tugas anda selanjutnya memijat Kaisar yang kelelahan di siang hari, tapi tugas anda yang biasanya anda selesaikan dalam tiga jam dan sekarang sudah malam, jadi tugas memijat dibatalkan" ucap Rena.
"Memijat? Kenapa Kau tidak bilang dari pagi? Oh waktu yang kutunggu-tunggu" ucapku.
"Umm, andakan memotong ucapan saya di situ" ucap Rena.
"Iya juga ya, baiklah~ sekarang Aku sudah bisa kembali ke kamar dan beristirahat?" Ucapku yang kemudian Rena menganggukkan kepala.
Aku dan Rena pun berjalan ke istana kaisar yang tepatnya kamarku dan Derik. Namun selama di jalan banyak sekali bisikan bisikan para pelayan yang menganggap Anne berbeda, tapi Aku mengabaikan bisikan tersebut karena itu memang kenyataan.
-
Setelah beberapa saat, Aku mandi dan memakai baju yang tipis layaknya permaisuri yang ingin tidur dan mematikan lampu kecuali lampu tidur. Aku pun menidurkan badanku di kasur yang empuk itu, di mana Aku terbangun tadi pagi.
Tapi datanglah Derik yang membuatku beranjak dari kasur dan menghampirinya. Lalu Aku mencium aroma alkohol dari mulutnya.
"Kau mabuk?" Tanyaku.
"E, enggak kok sayang" jawabnya.
"Gimana enggak, Kau saja letoy begini" ucapku.
"Humm, letoy? Kata apa itu? Sayang~ kamu mau tau ga alasan Aku minum" ucapnya. Lalu Aku menanyakannya.
"Karena semua orang mengatakan Kamu berubah! Aku ga sudi mereka ngomong begitu, tapi Aku juga merasakannya. Sayang, Kamu itu Anne yang kucintakan?" Tanyanya.
"Umm... Iya kok" jawabku.
"Ya, Aku percaya itu, Kamu adalah cintaku, Anne" ucapnya lalu mendorong Aku ke tempat tidur dan membuka kancing bajunya sendiri.
"De, Derik kamu mau apa??" Tanyaku paham akan situasi.
"Aku mau menunjukkan cintaku kepada sayangku dan membuktikan sayangku juga mencintaiku" ucapnya meneruskan membuka kancing bajunya.
"Derik, kamu lagi mabuk!" Ucapku takut akan situasi ini.
"Kan Aku sudah bilang, Aku ga mabuk sayang" ucapnya mendekatkan dirinya kepadaku lalu mencium bibirku.
"Bagaimana ini, walau tubuh Anne sudah bercinta puluhan kali dengan Derik, tetapi ini malam pertamaku! Di kehidupanku sebelumnya Aku hanyalah anak 15 tahun!" Kata benakku.
"Ta, tapi seru juga ya dicium oleh orang yang sangat tampan" lanjutku dalam benak sambil memejamkan mataku.
Lalu Derik membuka bajuku dan Aku tersadarkan akan ciuman itu.
"Oh Tuhan! Bagaimana ini, Aku memang sudah sering membaca adegan panas, tapi Aku belum sanggup merasakannya!" Benakku berkata. Lalu Derik membuka seluruh bajunya membuatku terpana.
"Ohh seperti yang di jelaskan dalam novel, itu sangat besar" benakku berkata dengan perasaan terkesima.
Lalu seperti yang di ketahui, apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh Derik.
"I, ini sangat sakit, a-aku tak kuat" benakku berkata.
Aku tak sanggup dengan semua cobaan ini! Aku tak kuat menjadi permaisuri, Aku tak tau caranya mengurus kekaisaran, Aku tak bisa bergaul dengan bangsawan, Aku tak bisa memakai baju gaun setiap hari, Aku tak kuat menghadapi malam seperti ini!
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!
"Hah... Hah... Hah... Ha-hanya mimpi?!! Padahal semua itu terasa nyata?"
𝘛𝘈𝘔𝘈𝘛