Ketika para manusia sibuk dengan mimpi-mimpinya, Justru Suri pergi menghampiri tempat favoritnya dengan musik khas.Di sepertiga malam ia menengguk kafein, menghisap sebatang nikotin yang ia tarik dalam-dalam hingga mencengkeram erat paru-paru di dada.Helai demi helai ia kumpulkan mengikatnya dengan rasa bosan.
"Mas,belum selesai" celetukan yang di lantunkan oleh penjual kopi
"belum mas masih saja seperti biasanya ruam sana sini" jawab bibir basah Suri yang tetap sibuk menengguk kafein
"cepat selesaikan mas,agar cepat mendapatkan apa yang anda inginkan" sahut lelaki yang di halangi berbagai jenis minuman cepat saji.
Matahari nongol di balik siyur-siyur pohon.Helaian yang ia ikat dengan keyakinan kini berantakan, cicak-cicak di tembok sering kali tertawa.Sialan! bagaimanapun Suri tetap ingin hidup di tengah deburan peluru yang sibuk mencari sebuah anak manusia.
Di tengah sorak sorai,datanglah prajurit wanita dengan berbagai bom. suri terkejut melihat wanita liar seyang tanpa permisi merampas tempat duduknya.Namun ia acuh pada matahari yang mulai membakar kalori dalam tubuh Suri. Wanita itu mengeluarkan suara lantangnya memecahkan keramaian di tengah kota.Suri membisu,Matanya memandangi sudut-sudut bangunan yang retak oleh pekikan wanita gila.
Pekikan wanita itu membawakan segelas rindu.Rindu yang ia bawa dari ujung langit hingga matahari enggan berkomentar malah memilih untuk bersembunyi di balik awan.
"Bagaimana sudah selesai?" Tanya wanita gila tanpa permisi
"belum"
"masih belum!sudah dini hari kamu duduk,diam memandangi layar komputer mu masih saja belum selesai!" pekikan keluar lagi dari mulut wanita dengan lesung pipinya yang manis.
Menarik dalam asap nikotin yang ia genggaman,Suri hanya tertawa melihat tingkah kekasihnya. Wanita menyebalkan itu menggulingkan badannya di atas meja berserakan Putung rokok,hingga ia tak mampu lagi teriak-teriak dalam cengkeraman kota.
"agh! kamu ini mas, menyebalkan! sudah kubilang jangan terlalu sering keluyuran dini hari" Dalil-dalil kekasihnya keluar dari otak mungil berisi rindu.Suri tak melantunkan kata sedikitpun,ia hanya memandangi wanita dengan gaya bicara yang campur aduk.Dalam deburan peluru yang suri rasakan ia ingin membalas tawa.
Acuh pada awan yang sibuk memuai embun,Suri melanjutkan perjalanan menuju selesai.Kekasihnya hanya diam, menggulingkan bibirnya, menatap tajam mata suri yang hampir berubah.Kekasihnya tau betul bahwa badai akan datang lebih kencang dari biasanya,hujan akan deras membanjiri sudut-sudut tempat favoritnya.Bunga matahari yang beberapa menit yang lalu kini layu,gugur beriringan gerimis.
Dalam jelang waktu yang singkat.Suri beranjak dari tempat duduknya pergi menemui kelopak mata.Dengan rasa yang tak sama,ia meninggalkan kekasihnya berdiam di warung kopi.Kaki Suri kini terlihat lebih lantang,badannya tak lagi lemas gemulai menatap ruangan-ruangan penuh penjaga.Ia menaiki anak tangga, mengetukkan hatinya.
"permisi pak,saya Suri" Gempa terasa begitu kencangnya hingga suri hampir roboh
"ya! masuk" ucap bapak tua dari balik pintu kaca bertuliskan Universitas
"Bagaimana,sudah selesai? coba saya lihat" sambung kalimat tersebut dari mulut berbusa dihadapan Suri
"Kamu bagaimana sih Sur,ini masih kurang betul tolong di betulkan besok ketemu saya di ruangan yang sama" sahutan dari bapak itu membuat Suri berdiam dalam keheningan siang itu.
Malam-malam yang ia korbankan, suara deburan peluru yang suri lawan kini semakin kencang,di kepung kesana-kemari membuat Suri tak bisa berlompatan kesana-kemari dengan rasa bebas.Ia tercengang mendengar suara lara dari dosennya,hatinya tak bertanya ia mengakui bahwa suri masih butuh waktu untuk menyelesaikan gelarnya tanpa harus curang seperti kancil. ia memilih menjadi kura-kura lambat tapi pasti.