Namaku Nurmala aku anak pertama dari 2 bersaudara,aku terlahir dari keluarga yang sangat sederhana ayah ku hanya seorang tukang becak dayung di waktu aku kecil aku sudah kehilangan sosok seorang ibu.
Hari-hari ku pun terus berlalu,ketika ayah ku ingin pergi kerja aku pun dititipkan ketempat saudaraku keluarga dari ayahku hari-hari demi hari ku lalui terus berlanjut seperti itu,ketika aku mulai bergabung dan bermain dengan teman sebayaku,aku merasa sedih,ya sedih,sedih karena melihat mereka ada yang memperhatikan mereka,ya itu ibu.
Aku mulai minder dari keadaan aku sedih,sedih karena tidak mempunyai sosok seorang ibu.
ibu adalah tempat kita bermain,bercerita,berbagi dan bahkan merawat dikala kita sakit.
Tidak berapa lama aku melihat dari kejauhan ada orang yang sedang berjalan menghampiriku,aku pun mulai memandangi kaki yang melangkah itu semakin dekat langkah itu menghampiriku tak ku sangka ternyata ayahku.Dengan wajah yang lesu dan lelah sambil mendekatiku.Aku pun senang dan bahagia wajahku tadi yang sedih kini ceria.
Ayahku pun mulai menggandeng tanganku dan membawaku pulang kerumah sampai di rumah aku pun mulai bertanya tentang keadaanku
aku:ayah,aku ingin bertanya
ayah:ya, tanyak la
aku:ayah,ibuku dimana,karena aku melihat teman-teman ku mereka itu memanggil ibu,ada juga yang memanggil ummi,tapi kenapa aku tidak.
Ayah:Nak,kamu tuh masih kecil suatu saat kamu akan mengerti,ayah cuman bisa mengatakan ibu kamu itu sekarang lagi bahagia dia sudah di surga.
Aku:suraga?"apa itu surga ayah.
Ayah:surga itu tempat orang yang baik-baik.
Aku:Jadi,ayah kapan kita bisa melihat ibu,bisakah kita pergi kesana.
Ayah:Besok kita akan kesana(sembari wajah ayahku pun sangat sedih)
Mendengar itu hatiku pun mulai ceria dan sangat senang karena besok kami akan tempat ibuku.Aku mau melihat wajah ibu dan dipeluk olehnya.Dengan keceriaan ku sembari bergumam di dalam hatiku,"ibu ayo kita kita pulang,aku itu pengen banget bermain sama ibu,main boneka an.
aku juga akan bilang pada ibuku,ibu aku itu sudah lama merindukanmu jangan tinggalkan aku lagi ya,kalau aku nakal aku marahi saja ibu.
Begitulah hari-hariku yang selalu heran dengan keadaanku yang hanya mempunyai seorang ayah.
Namun meski pun aku hanya memiliki seorang ayah dia tak pernah lupa untuk memperhatikan kami meskipun dia sibuk dengan pekerjaannya hanya seorang tukan becak dayung.