Apa yang kalian fikirkan saat mendengar nama Cinderella? Seorang gadis berwajah cantik, polos, sederhana dan berbudi pekerti mulia, yang selalu disiksa oleh Ibu tiri dan kedua saudara tirinya semenjak ayahnya meninggal, bekerja layak babu di rumahnya sendiri? Haha, itu adalah sisi yang sering ditonjolkan tentang diriku, tidak sepenuhnya salah. Sisi lainnya? Baiklah aku akan berbagi khusus untuk kalian, siapa diriku yang sebenarnya.
Aku tidak selemah yang kalian duga, aku memang sabar menerima segala perlakuan ibu dan saudara tiriku, tapi itu semata demi menarik simpati saja. Kalian tahu? Aku punya kemampuam sihir menggandakan diriku, jadi gadis sederhana yang ada di rumah itu adalah bagian diriku yang lain sementara diriku yang sebenarnya asyik bepergian menolong orang butuh bantuanku ala-ala Robyn Hood gitu.
Pada suatu hari, ada surat dari kerajaan ke rumahku, yang isinya berupa undangan mengikuti pesta dansa untuk mencari calon istri Pangeran. Semua bahagia mendapat kabar itu termasuk aku. Jika mereka senang akan tampil cantik demi memikat pangeran, aku juga senang ketika ada kesempatan masuk ke kerajaan, jadi aku bisa 'beraksi' mengeruk harta yang kemudian kubagikan untuk rakyat miskin di daerahku.
"Kamu bisa pergi ke pesta dansa itu asalkan sudah menyelesaikan pekerjaan rumah dan membantu dua saudaramu untuk bersiap ke pesta," titah ibu tiriku.
"Tapi, bu ... kalau aku harus menyelesaikan semua, aku akan terlambat ikut acara pesta dansa di kerajaan," ujarku sesikit membantah.
"Lakukan atau kamu tidak usah pergi saja!" ujar ibu tiri yang secara tidak langsung melarangku pergi ke acara itu.
"Ba-baik, ibu," aku menurut. Padahal ... ish, siapa takut? Pekerjaan itu sangat mudah kubereskan, semudah aku menjetikan jariku tapi aku tidak bisa melakukannya karena ibu tiriku sedang mengawasi, maka dengan memasang wajah sedih, aku pun memulai pekerjaanku.
"Cinderella! Pasangkan gaunku," pinta adik tiriku.
"Hei, cepatlah. Kamu belum menata rambutku," rengek adik tiriku yang lain. Huh, mereka cerewet sekali.
"Cinderella, lap sepatu ibu dan cepat pasangkan, aku sulit membungkuk," ibu tiri ikut-ikutan memberiku tugas. Astaga, mereka ini sangat manja dan menyulitkanku.
Setelah beberapa saat, mereka pun selesai berdandan dan langsung pergi begitu saja meninggalkanku yang sama sekali belum bersiap.
Hm, ini kesempatan bagus.
Ctek, ctek, ctek. Aku menjetikkan jariku dan rumahku menjadi rapi seketika. Aku pun segera membersihkan tubuhku lalu memilih pakaian yang akan kukenakan. Aku punya beberapa gaun bagus dan mahal yang dibelikan ibuku sewaktu masih hidup, aku akan mengenakan salah satunya.
"Apa?" Aku terpekik saat melihat semua gaunku rusak, ah ... tepatnya sengaja dirusak dan digunting di beberapa bagian. Hah, tentu saja ini karena mereka ingin aku tidak bisa datang ke pesta dansa, tapi tentu saja rencana mereka tidak akan berhasil.
"Ibu peri, datanglah," ujarku sambil memejamkan mata.
Triiiing. Dalam sekejap ibu peri muncul di hadapanku.
"Butuh bantuan, nona?"
"Iya, ibu peri. Aku mau ke pesta dansa tapi lihatlah bajuku rusak semua," aduku.
"Oh itu perkara mudah, nona. Bersiaplah."
Siuuut. Ibu peri mengayunkan tongkat kecilnya sambil tersenyum.
"Wooow, ini luar biasa," pujiku saat melihat penampilanku sendiri yang dalam sekejap baju jelekku berganti dengan gaun yang indah, wajahku berhias cantik tidak lupa rambutku juga tertata dengan rapi, begitu juga dengan sandal kayu-ku yang sudah rapuh segera berganti dengan sepatu kaca yang indah.
Ibu peri juga menggunakan tongkat sihirnya dan mengubah labu menjadi kereta kencana yang indah untuk mengantarku ke kerajaan.
Wah, aku jadi tidak sabar ingin segera tiba ke acara pesta dansa itu.
"Nona Cinderella, semua ini tidak akan bertahan setelah tengah malam, jadi kamu harus sudah kembali sebelum waktu itu, ya," pesan ibu peri padaku.
"Siap, ibu peri yang baik hati aku akan mengingat pesanmu. Terima kasih," Aku pun masuk ke dalam kereta kencana dan melambaikan tangan pada ibu peri.
***
Begitu tiba di kerajaan, semua mata tertuju padaku. Tentu saja, aku sendiri sangat mengagumi penampilanku yang menawan, apalagi orang lain? Aku tersenyum manis pada semua orang termasuk ibu dan kedua adik tiriku yang ternyata tidak dapat mengenaliku.
Pangeran mendekat sesuai harapanku.
"Nona, saya pangeran Arnold ... bolehkah kita berdansa?" tanyanya dengan sopan sambil menurunkan sebelah lututnya dan mengulurkan tangan kanannya.
"Ah, suatu kehormatan bagiku, tuan," sambutku malu-malu menyembunyikan rasa bahagia di dalam hatiku.
9Hampir sepanjang acara aku dan pangeran Arnold berdansa sambil mengobrol, hingga tanpa kusadari,
aku lupa bahwa sebentar lagi tengah malam dan sihir ibu peri akan hilang.
"Ma-maaf pangeran," kata lalu berlari meninggalkan pangeran yang kebingungan.
"Nona, aku bahkan belum tahu siapa namamu," teriak pangeran Arnold. Namun aku tidak peduli, aku tetap berlari dan tanpa sengaja meninggalkan salah satu sepatu kacaku yang terlekat pada lantai yang mungkin diberi semacam lem.
Pangeran Arnold kesal sekali karena tidak berhasil mengejarku, ia hanya bisa mendapatkan sebelah sepatu kacaku dan menyimpannya. "Kejar nona itu sampai dapat!" Perintah pangeran Arnold pada para prajuritnya.
Padahal, aku cuma berlari ke semak-semak dan dalam waktu sekejap gaunku berubah menjadi pakaian biasa berwarna gelap. Kereta kencana yang mengantarku ke kerajaan tadi juga sudah berubah kembali menjadi labu, tapi anehnya sepatu kaca yang tinggal sebelah ini tidak berubah.
Bruk, bruk. Sepatu kaca itu aku benturkan ke batu, sebab jika masih memegang sepatu ini maka gerakanku akan jadi terbatas, sementara meninggalkannya pun tidak mungkin, aku tidak mau melihat benda ini lagi.
Hap, hap, hap. Sementara semua orang sibuk mencari keberadaanku, "putri cantik" yang meninggalkan pangeran Arnold begitu saja, aku memanfaatkan momen itu untuk menyusup masuk ke dalam kerajaan.
Aku menuju jendela kamar yang tidak tertutup rapat, kamar yang ternyata merupakan tempat salah satu anggota kerajaan menyimpan koin emas di dalam peti. Segera saja aku memenuhi kantong kecilku dan cepat-cepat keluar sebelum ketahuan.
"Hei, siapa di situ?" Ujar seseorang dari arah luar pintu kamar. Haha, tentu saja dia terlambat. Aku sudah selesai berburu koin dan keluar dari kamar itu sebelum mereka memergokiku.
Yes! Aku senang sekali punya sesuatu yang bisa kubagikan pada orang yang kubutuhkan.