Sekarang di sinilah aku duduk di sebuah taman yang ramai tapi tetap saja menurutku ini terlalu sepi. Inikah rasanya di tinggal oleh seseorang yang kita cintai? Semuanya berbanding terbalik tak sama saat dia masih di sini dengan senyumnya yang menenangkan. 'Day kamu tak boleh seperti ini terus, kamu itu seorang lelaki, kamu harus kuat Day', aku mencoba menyemangati diriku sendiri agar tidak seperti ini terus.
Satu bulan kemudian…
Aku sangat lelah, pekerjaan di kantor sangat-sangat banyak di tambah lagi ada seorang pegawai perempuan yang selalu menggangguku selama satu bulan terakhir ini. Dia seorang pegawai perempuan gemuk namun manis setiap kali dia memperlihatkan senyum pipitnya itu. Tapi tak apa dengan cara inilah aku bisa melupakan kejadian sebulan yang lalu.
Keesokan paginya aku menyibukan diriku dengan pekerjaan-pekerjaan yang telah menungguku di kantor. Seperti pagi-pagi sebelumnya Nia perempuan itu selalu memberiku bekal untuk sarapan. Menurutku ini sangat membantuku untuk lebih menghemat uangku.
'mmm… Day apa bekalmu hari ini?' tanya Ridwan yang sudah tahu kebiasaan tiap pagi ini
'kamu lihat saja sendiri Rid…' Aku menunjukan bekal itu.
Hari-hariku tak pernah berubah dari sebulan yang lalu. Selalu pergi pulang istirahat dan seterusnya seperti itu. Sampai saat Ridwan dan Nana mengajak ku pergi ke makam Rina. Aku pun langsung mengiyakan ajakan mereka. 'Rindu' iya aku merindukannya, walaupun kini aku hanya bisa melihat batu nisan putih yang tertancap di tanah.
Saat aku memandangi batu nisan Rina, Nana menanyakan tentang perasaanku dan saat itu juga aku menjawabnya dengan satu kalimat 'sama seperti beberapa bulan yang lalu Na'.
Oh Tuhan…
Aku tak boleh seperti ini terus, aku bosan dengan semua ini. Ini bukan diriku, aku Day hanya manusia biasa. Day yang tak pernah mengharapkam seorang mayat hidup kembali. Aku harus melihat kenyataan ini, bantu aku Tuhan…
—
Apa-apaan perempuan ini, datang kerumahku dan menyatakan perasaannya begitu saja. Apa dia tidak memiliki rasa malu.
'hai Nia taukah kamu apa yang kamu ucapakan tadi?, apa kau sadar saat mengucapkannya?'
'maaf kaa…' jawab Nia
Dia memang selalu menggilku dengan panggilan 'kakak'.
'aku memang menyukaimu ka Day, entah ada dorongan apa sampai aku berani menyatakan perasaan ini tapi yang pasti aku sudah menyatakan semua yang ada dalam hatiku ini sekarang terserah kaka, kaka ingin menerima perasaanku ini atau tidak…' lanjut Nia
Lagi-lagi gadis ini menarik nafasnya dalam-dalam.
'ya sudah ka Day aku pulang dulu, aku akan menunggumu besok sore di taman'
Aku bingung apa yang harus aku jawab mengenai pertanyaan bodoh yang telah dilontarkan Nia tadi pagi.
'Ya Allah, aku ketiduran jam berapa sekarang?', ku lihat jam di dinding menunjukan pukul 06.00 sore dan ku lihat di luar sedang hujan. Aku yakin Nia pasti tidak datang ke taman itu.
Sudah satu minggu aku tidak melihat gadis gendut nan manis itu di kantor ini. Apa Dia sudah bosan mengganggu ku dan berhenti mengganggu.
'Rid… apa kamu melihat Nia? sudah satu minggu dia tidak menampakkan badannya itu' tanyaku pada Ridwan
'Day, sepertinya kamu mulai sekarang dan seterusnya tak akan melihat gadis itu lagi' jelas Ridwan
Aku tak mengerti apa yang dibicarakan Ridwan
'maksudmu apa Rid, tolong jelaskan yang lebih jelas lagi' pinta ku pada Ridwan
'dia mengundurkan diri dari kantor ini Day, aku pun tak tahu apa yang membuatnya mengundurkan diri hanya saja dia berpesan kepadaku untuk menjaga mu dan jangan biarkan dirimu sendiri…'
'kamu sangat bersyukur Day, kamu mendapatkan perhatian seperti itu seperti seorang ibu' lanjut Ridwan lalu pergi meninggalkanku yang masih mencerna perkataan yang di ucapkan Ridwan barusan.
'kenapa? kenapa seperti ini Day kamu harusnya bisa tenang karena sudah tidak ada lagi yang mengganggumu dan kamu tak perlu merasa bersalah karena kamu telah menggantungkan perasaannya'.
Ini tidak benar, dua hari Nia gadis gendut itu pergi, tapi kenapa aku merasa kehilangan. Apa iya ini yang ku rasakan. Apa benar aku telaah…
'Ridwan, aku ingin meminta alamat rumah Nia' pintaku pada Ridawan
'untuk apa kamu menanyakan alamat Nia?' tanya balik Ridwan kepadaku
'aku… aku hanya ini memperjelas apa yang sedang kurasakan ini' jelasku pada Ridwan
Ridwan tersenyum lalu memberikan selembar kertas kepadaku 'Day, aku yakin dia yang terbaik untukmu pengganti Rina dari Allah'
Aku meminta izin jika hari ini aku ingin pulang cepat dan aku langsung menuju rumah Nia. Sesampainya di rumah Nia aku mendapatkan rumahnya terkunci rapat dan ada tetangga yang memberi tahuku jika Nia baru saja pergi dengan menaiki taksi dan membawa tas koper besar. Aku bingung ada apa ini, Nia dia ingin kemana. Aku menghubungi Ridwan karena aku yakin pasti Ridwan tahu kemana Nia pergi. Bandara, kulajukan mobilku menuju bandara. Ridwan memberi tahuku jika Nia berada di bandara.
Dan kini aku pun sudah ada di hadapan gadis itu, gadis yang telah mengganggu hidupku yang telah membuatku seperti ini. Aku tak ingin kehilangan hidupku untuk kedua kalinya dengan cara sia-sia. Ku pegang kedua tangannya dan ku lihat senyumnya itu.
'ada apa kak?' tanyanya,
'ada apa? seharusnya aku yang bertanya ada apa kepadamu, kamu kenapa pergi begitu saja kamu tak ingin mendengar jawaban atas pertanyaan waktu itu?'
Dia hanya diam dan kulanjutkan ucapanku
'aku menyukaimu, tidak aku tidak menyukaimu tapi aku mencintaimu' entah ada apa denganku sekarang ini, ini sangat melegakan.
'jika seperti itu tunggulah aku, tunggu aku 2 tahun di taman itu dan ku pastikan aku akan datang menemuimu dengan perasaan yang sama'
Manisnya sungguh perasaan ini sangat manis, semanis senyuman gadis gendutku ini.
Tenangnya sungguh perasaan ini sangat tenang, setenang senyuman Rinaku terkasih.