Kurang dari satu menit, tapi aku merasa ini sudah terlalu lama untuk kami saling menatap seperti ini. Dalam hati aku mengutuk diri sendiri, kenapa aku harus menghadiri acara yang diadakan oleh kantor tempatku bekerja. Kenapa pula dia harus ada di sini? Dan kenapa harus dia? Ahhh. Aku mendesah dalam hati. Perlahan orang itu mendekat, selangkah, dua langkah, dan kini jaraknya kurang dari satu meter dariku. Tubuh tingginya membuatku harus mendongak. Aku melempar tatapan sedingin mungkin, padahal di dalam jantungku sebentar lagi akan melompat ke luar. Huahh. Pria ini membuatku nervous.
Mungkin karena tatapanku tidak sedingin yang ku bayangkan, pria ini tersenyum ramah dan mengulurkan tangan. Aku seperti ingin pingsan. Perasaanku meluap, kaget, heran, stress, dalam benakku dia pasti tahu apa yang ku rasakan saat ini, bisa-bisanya dia tersenyum seperti itu. Dengan cepat aku menguasai diri. Masih dengan perasaan bercampur aduk, aku menoleh ke tangan kananku dan mendapatinya bergerak menyalami tangan pria di hadapanku.
Saat telapak tangan kami bersentuhan aku merasa sekujur tubuhku dingin, aku tidak menggerakkannya lagi, aku menunduk. Mungkin karena bosan menunggu responku, dia menjabat erat tanganku, dan tidak melepasnya. Tiba-tiba semua hal tentang dia berkelebat di kepalaku, semua!! Aku langsung merasa marah dan spontan mencubit lengannya. Dia meringis kesakitan dan wajah kagetku sudah berubah menjadi wajah nenek sihir penuh dendam. Dia menangkap tangan kiriku dan belum melepaskan tangan kananku. Aku meronta ingin melepaskan diri dan menghajarnya sampai babak belur.
Emosiku meluap dan terus meronta, mataku mulai kabur. Tiba-tiba teman sekantorku datang dan berkata.
“Ciee yang pegangan tangan.” Pria ini justru meladeninya dengan kalimat.
“Kalau tangannya ku lepaskan, dia tidak akan berhenti memukuliku,” Hei!!! Temanku terbahak dan beranjak pergi.
Melihat air mataku yang menetes, dia meregangkan pegangannya dan perlahan melepas tanganku. Dia tersenyum, aku memandangnya semakin tajam lalu menghapus air mataku. Bodoh sekali aku menangis di depannya.
“Bodoh, monyet, jelek!” tiga kata ampuhku yang membuatnya terpingkal. Aku semakin marah, mendorongnya dan beranjak dari tempat itu.
Di luar sini dingin, aku mengutuk diri berkali-kali kenapa datang ke sini. Sudah membosankan, ditambah lagi dengan kedatangan makhluk satu itu. Baru saja aku ingin menelepon taksi, hp-ku sudah direbut seseorang. Oh Tuhan, pria ini lagi! Dia meraih tanganku dan menyuruhku duduk. Aku pasti sudah dihipnotis, aku menurutinya tanpa tangkisan sama sekali. Dia berlutut di depanku.
“Maaf,” katanya. “Maaf sudah membuat kamu khawatir, maaf karena pergi tanpa bicara sama sekali, maaf tidak membalas pesan maupun mengangkat teleponmu, aku benar-benar dalam posisi yang tidak bisa bukan tidak mau,” matanya berkata jujur, aku tahu itu.
“Sekarang aku di sini bukan hanya untuk minta maaf, tapi juga menebus semua kesalahanku, dan berterima kasih,” loh? Aku heran.
“Terima kasih? Jangan bodoh.” Aku berdiri dan pergi dengan langkah cepat, dia tidak mengejarku.
“Terima kasih karena mengkhawatirkanku, aku tahu itu yang kamu rasakan sepanjang waktu,” ya Tuhan dia berteriak dan tentu saja langkahku terhenti.
“Terima kasih karena bersabar dan mau menungguku kembali,” kalimat ini membuatku berbalik, dia tahu aku menuggunya? “Dan terima kasih untuk menjadi orang bodoh yang tetap mencintaiku, tulus, apa adanya, meskipun kamu tahu betapa brengseknya aku.” Kali ini mulutku menganga, heran, atau mungkin salah dengar, orang bodoh dia bilang?
Dia terengah, lelah karena berteriak tadi. Aku menghampirinya.
“Bodoh? Aku memang bodoh karena cinta sama kamu, tapi aku lebih bodoh lagi kalau tidak melakukannya” dengan sekuat tenaga aku menendang tulang keringnya.
“Auughh!! kamu kenapa sih?” masih bertanya?
“Kamu beruntung aku masih sayang sama kamu. Love you Nyet, besok bawa durian ke rumah ya?” aku mengedipkan mata dan berbalik pergi meniggalkannya yang kesakitan. Bodoh amat, kali ini urus sendiri. Aku bernapas lega, dendamku sudah terbalas, ya hanya seperti itu, rasa sakit yang lebih nyata. Haha.
Terima kasih Tuhan, telah mengembalikkan ia padaku. Terima kasih untuk membuatku bersabar selama 4 tahun ini. Terima kasih memberiku kekuatan untuk bertahan. Terima kasih memberiku kelapangan hati untuk memaafkannya. Mereka benar, di balik semua masalah pasti ada kebahagiaan di baliknya.