“Dis, liat deh cowok yang di bawah pohon itu.” Kata Winwin dari balik jendela kelas.
Namaku Gladis, dan ini Winwin sahabat baikku. Aku dan Winwin bersahabat sejak masuk SMA ini.
“Yang mana?”
“Ituu… ituu… yang paling putih di antara lima cowok yang ada di bawah pohon depan perpus itu.” Gebu Winwin sambil terus menunjuk arah yang dia maksud.
“Ah, nggak ada yang putih. Yang mana sih?” aku berlagak cuek.
“Aduuhhh… Susah amat sih nunjukinnya ke kamu. Ayo deh kita keluar kelas biar jelas.” Winwin menggeretku dengan paksa.
“Uda liat belum, yang duduk di sebelah kiri.” Winwin tersenyum ke arah yang dimaksud.
“Doni?” Lirihku setelah ku pastikan itu benar-benar Doni.
“Jadi namanya Doni? Kamu kenal dia?” tanya Winwin antusias.
“Eeemm… ituu…”
“Itu kenapa, aku mau kamu comblangin aku sama dia. Please Dis, aku suka sama dia. Kemarin aku lihat dia di kantin. Dan aku langsung suka pada pandangan pertama. Aku juga tau dia ikut eskul basket sama kaya kamu, jadi mudahkan buat kamu nyomblangin aku.” Cerewet Winwin yang buat aku jadi bingung. Gimana nggak bingung. Dino itu my first love. Sejak waktu SD dulu. Aku sempet 3 tahun nggak tau kabarnya, dan waktu aku tau Dino juga masuk di SMA ini, aku jadi semangat buat bisa masuk di Sekolah yang cukup terkenal di kotaku. Meskipun aku nggak satu kelas sama Dino, tapi dia itu penyemangatku. Tiap hari aku selalu menatapnya diam-diam. Dino Sabastian itu pujaanku, cowok yang selalu aku dambakan… rindukan… dan sekarang.. Winwin naksir sama Dino? bukan cuma naksir, dia minta aku nyomblangin dia sama Dino. Gimana ceritanya? Masa iya aku saingan sama sahabatku sendiri. Tapi, kalau aku bilang Dino itu my first love sama Winwin. Emm… ku liat Winwin beneran naksir Dino. Jadi nggak tega buat jujur kalau Dino itu my first love. HUFT.
“Kenapa bengong Dis, kamu mau kan comblangin aku sama Dino?” Tatapan mata Winwin memaksaku mengangguk. Meski hatiku sedikit meringis.
Aku ketemu Dino di eskul. Dino dan aku sering ngobrol, maklum lah dulu waktu SD aku juga cukup dekat dengannya. Meskipun gitu, Dino nggak pernah tau perasaanku yang sebenarya. Dengan mudah aku dapet nomer Dino, dan langsung aku kasih ke Winwin yang setiap hari terus menagih janjiku untuk nyomblangin dia.
Hari ini, hari yang cukup menyedihkan buat aku. Dengan bahagianya Winwin cerita tentang sms dia sama Dino. Begitu mulus, begitu lancar katanya. Winwin bilang, Dino nanggepin dia. Dino selalu balas smsnya. Padahal, yang aku tau, Dino cukup dingin sama cewek. Tapi kenapa sama Winwin dia cepet akrab, ini yang buat aku sedih. Apa mungkin Dino juga naksir Winwin. Kalau iya, mestinya aku seneng dengan kebahagiaan Winwin sahabatku. Tapi kenapa hati ini begitu sedih? Kenapa? Winwin nggak pernah tau gimana perasaanku. Karena aku selalu ikut tersenyum dan bahagia setiap kali dia menceritakan Dino. Padahal… Hatiku menangis. Hiks, kenapa aku jadi begitu cengeng.
“Ehya Dis, besok minggu Dino mau ngajakin aku jalan. Aku mesti pake baju warna apa?” ceria Winwin suatu pagi.
“Pink” jawabku pendek dan berusaha tersenyum.
“Pink yaa? bagus juga buat kode kalau aku beneran jatuh cinta sama Dino.” ucap Winwin semakin ceria.
Apaa? Dino ngajak Winwin jalan? dan, kode? jatuh cinta? sama Dino? TIDAAKKK… pengen rasanya teriak. Kalau mereka jadian gimana? nasibku perasaanku jadi tambah gimana coba? huft.
Malamnya…
Sms, enggak… Sms, enggak… detik jam terus berlalu, kebimbanganku terus berlanjut. Dan tiba-tiba HPku getar, tanda pesan masuk.
Mlm Dis, lg ap?
Ini, nomernya Dino? beneran Dino sms aku? hah, ini bukan mimpi kan? ku baca isi sms berulang-ulang, ku pastikan ini benar-benar Dino. Yap, Dino sms aku. Aaarrrgghhh… Baru aku nimang-nimang mau sms dia, eee dia sms duluan? senangnya hatiku.
Mlm jg Dino. Ni lg tdrn dkmr. km lg ap?
sm, ak jg lg tdrn dkmr. blm bs merem tp,
psti mkrn Winwin ya? gmn km sm winwin?
gmn apnya? dia tmn km kn? tmn ak jg.
Sms pun berlanjut. Dan aku tau ternyata Dino hanya anggap Winwin sebagai teman. Lega rasanya.
Setelah malam itu, aku dan Dino sering smsan, setiap eskul kita sering pulang bareng. Pernah waktu itu aku dan Dino hujan-hujanan berdua, berlarian seperti anak kecil, bercerita dan tertawa bersama. Aku nggak pernah nyangka bisa sedekat ini sama Dino. Tanpa sepengetahuan Winwin pastinya. Sampai suatu hari,
“Dis. Kamu tau kan aku suka sama Dino. Tapi kenapa kamu nusuk aku dari belakang? tega kamu ya dis” marah Winwin di depan kelas.
“Maksud kamu apa Win? aku nggak ngerti.”
“Nggak usah ngelak kamu Dis, aku tau kamu sering jalan bareng sama Dino. Ngaku kamu dis, kamu juga suka kan sama Dino? Kenapa kamu deketin gebetanku Dis? kenapa kamu hianati aku?” tangis Win mulai tak terbendung. Aku hanya menunduk. Aku nggak tau mesti ngomong apa, aku nggak pernah sedikitpun hianati Win. Aku juga nggak tau kenapa aku bisa sedekat itu sama Dino. Dan rasa cinta ini semakin besar. Aku salah. ya, aku bersalah sama Win.
“Aku benci kamu Dis. Aku nggak akan pernah maafin kamu sebelum kamu jauhin Dino!” ucap Win sambil berlalu. Aku masih menunduk, tanpa sadar, air mataku menetes. Hatiku hancur, sahabatku membenciku karena cowok. Kenapa? apa yang salah dengan cintaku?
Winwin terus mendiamkanku. Dia anggap aku seperti virus yang harus dihindari. Setiap aku mendekat, dia selalu pergi menjauh. Satu minggu telah berlalu, tapi keadaan tak kunjung berubah. Win masih marah dan membenciku. Sedangkan aku nggak bisa jauh dari Dino. Aku nggak pernah bisa nolak ajakan Dino untuk pulang bersama sampai suatu hari Dino menggenggam erat tanganku, di wajahnya tergambar sejuta harapan untukku. Ini adalah saat-saat yang ku tunggu seumur hidupku. Saat dimana Dino menyatakan cinta untukku, saat dimana Dino memohon aku untuk jadi kekasihnya. Saat dimana impian dan harapan akan my first love yang berakhir bahagia untukku. Saat yang selalu aku impikan seumur hidupku. Dino bilang cinta, tapi aku nggak bisa ngrasa bahagia. Bagaimanapun ada hati yang terluka jika aku dan Dino bersama. Dan yang jelas rasa bersalahku sama Win semakin besar, Aku nggak mau itu terjadi. Ku tarik pelan tanganku dari genggaman Dino. Tak ku pedulikan pandangan wajahnya yang berubah heran. Ku telan ludah dan aku berusaha setenang mungkin untuk bilang..
“Maaf, aku nggak bisa jadi pacar kamu” aku menggeleng pelan dan berlari meninggalkannya.
Semalaman aku menangis. Bukan menyesali keputusanku untuk menolak Dino. Hanya meluapkan emosi jiwa yang entah apa. Huft, aku tau ini yang terbaik. Aku harus memperbaiki hubunganku dengan Win, dan ini yang Win minta dariku. Menjauh dari Dino.